Losing Streak Malut United di 3 Laga Terakhir; Ini Kata Sang Legenda Persiter

Ikbal Alhadar saat masih merumut bersama Persiter tahun 1990-an.

MalutTrend.Com, TERNATE — Kekalahan Malut United (MU) pada laga terbaru lawan Persebaya, Kamis (24/4/2026) lalu menyisakan sorotan hingga hari ini.Kebobolan 2 gol tanpa balas dinilai sebagai akibat kondisi mental pemain dan strategi di bawah performa ideal tim ini. Namun, ada aspek lain yang diteropong Ikbal Alhadar, legenda Persiter.

Malut United alami losing streak (kekalahan beruntun) di 3 pertandingan terakhir. Laskar Kie Raha takluk atas Dewa United dengan skor 0-2. Tim ini lalu menelan pil pahit dengan skor telak 1-4 dari Bali United. Losing streak Malut United kebobolan 8 gol.

Ini menjadi alasan munculnya sorotan tajam para pemerhati dan “gila bola” di Maluku Utara. Pada awal musim tahun ini, tim dengan spirit Toma! ini tampil perkasa. Stadion Kie Raha seolah jadi arena penaklukan Laskar Kie Rahaterhadap tim sekelas Persib Bandung dan Dewa United.

Meski demikian, bagi Ikbal Alhadar, sang legenda Persiter tahun 90-an, kekalahan beruntun itu tidak cukup dengan melihat secara hitam putih. Dia lebih ingin menggali akar masalah.

“Secara kasat mata, kita melihat banyak kelemahan yang dipertontonkan tim Laskar Kie Raha dalam  3 laga terakhir. Berbagai sorotan sebagai penyebab kesalahan –yang berseliweran di media sosial– ada benarnya. Tetapi kita juga harus melihat akar masalah yang tersirat di balik menurunnya performa MU,” jelas Ikbal pemain bola sejak 1982 ini.

Ditemui Minggu (26/4/2026) sore, kapten Persiter selama 10 tahun itu meneropong sumber kekalahan beruntun MU lebih dari sekadar aspek teknis dan mental.

Ia menangkap kesan soal manajemen sumber daya yang berimplikasi terhadap mobilitas pemain di lapangan. Selain itu, ada persoalan keseimbangan emosional dan peran kecerdasan pemain dalam mengolah si kulit bundar menjadi penyumbang kekalahan.

Pemain yang ikut membawa Persiter lolos ke Divisi 1 Liga PSSI tahun 1995 dan memperkuat  hingga 1997 ini  menilai, pemain tim besutan Hendri Susilo sedang dalam kondisi penurunan performa fisik karena waktu recovery yang tidak maksimal.

“Beberapa pemain mulai terlihat burnout– kelelahan ekstrem secara fisik maupun mental karena tekanan bertanding terus menerus,” jelasnya.

Kondisi ini, menurutnya, mestinya bisa diantisipasi. Manajemen sumber daya pemain menjadi penentu. Dalam jarak waktu pertandingan yang begitu dekat, Ikbal menyatakan pemain membutuhkan waktu recovery.

“Setiap pemain di masing-masing posisi harus punya kesempatan recovery dalam setiap satu jadwal pertandingan. Giliran yang di bangku cadangan mengganti posisinya,” tukasnya.

Dia menyatakan, model pengelolaan sumber daya pemain ini berfungsi untuk menjaga performa fisik dan mental saat bertanding. “Pemain di bangku cadangan bukan sekadar untuk mengganti pemain cedera atau yang lain. Mereka harus siap karena dalam satu tim sepak bola lazimnya tidak ada sebutan pemain inti dan cadangan,” tambahnya.

Tetapi terkadang, menurut Ikbal, pelatih ragu menurunkan pemain dari bangku cadangan. Ini disebabkan karena stigma kualitas yang duduk di bangku cadangan tidak sama dengan mereka yang terpilih masuk di line up. “Ini keliru. Untuk apa mereka direkrut dan dibayar kalau hanya duduk di bangku cadangan?” sebutnya, retoris.

Dia kemudian menekankan, setiap rekrutmen tim yang mencapai 30 orang, manajemen dan pelatih harus membuat standar kualitas yang sama untuk masing-masing posisi pemain.

“Dari kiper hingga libero tim harus punya 2 sumber daya pemain yang kualitasnya sama. Bangku cadangan hanya titik antri, bukan status pemain cadangan,” katanya memberi solusi.

Padukan Fisik, Emosional dan Kecerdasan

Ikbal mengakui, David Glen Oei pemilik klub sekaligus Manajer Tim Malut United punya ketulusan untuk membangun dunia sepak bola Maluku Utara secara profesional.

“Keseriusan itu dibuktikan dengan kehadiran Malut United sebagai industri sepak bola di bawah perusahaan sendiri. Dia juga mendirikan sekolah sepak bola yang berafiliasi dengan klub di Spanyol. Ini bukan main-main. Secara bisnis belum tentu untung. Tapi dia sudah membuat fondasi sepak bola Maluku Utara masa depan,” tandasnya, seraya menyebut David patut diapresiasi.

Di sisi lain, pembinaan pemain melalui latihan yang reguler dan penuh disiplin disebutnya sebagai langkah yang profesional bagi sebuah klub.

Meski demikian, Ikbal mengingatkan sumber daya pemain dalam latihan tidak saja berkutat pada aspek fisik. “Latihan fisik harus dipadukan dengan bagimana pemain mengendalikan emosi dan memainkan kecerdasan dalam mengolah bola. Ini bukan soal teknik dan strategi saja,” tukasnya.

Ia merinci hal penting soal keterpaduan ketiga aspek itu. “Meski secara fisik sudah oke namun setiap pemain harus mampu mengelola emosi dan kecerdasan membaca pergerakan bola oleh pemain lawan.  Tugas pemain tidak saja menggiring bola ke gawang tetapi harus juga mematikan bola lawan,” tambahnya.

Ikbal menyimpulkan, jika ketiga aspek itu dimainkan dalam satu pertandingan dengan balutan strategi yang didesain sang pelatih, maka penonton akan puas dengan performa di lapangan hijau.

 “Sepak bola profesional itu pertunjukan entertainment. Bisa saja sebuah tim kalah tapi penonton puas penampilan tim yang menakjubkan,” pungkas pemain yang ikut membawa Persiter lolos Liga 1 PSSI 1995 dan merasakan sebagai pemain Liga 1 pada 1996 dan 1997 ini.(@ba_is)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup