71 Tahun KAA Bandung: Palestina dan “Janji Sejarah” yang Belum Terbayar
MalutTrend.Com, TERNATE – Tujuh puluh satu tahun lalu, suara keberanian bergetar di tengah sejuknya udara Kota Bandung. Di bawah atap Gedung Merdeka, para pemimpin Asia-Afrika bersatu menyatakan sikap: penjajahan di atas dunia harus dikubur dalam-dalam. Pembukaan Konferensi Asia-Afrika (KAA) pada 18 April 1955 itu menjadi tonggak sejarah yang menyimpan “janji”–termasuk bagi Palestina yang hingga kini belum sepenuhnya terpenuhi.
Sejenak menilik ke belakang, KAA Bandung bukan sekadar pertemuan diplomatik biasa. Forum ini lahir dari kondisi geopolitik dunia. Pasca Perang Dunia II, dunia terbelah menjadi blok Barat dan Blok Timur. Negara yang baru merdeka di kawasan Asia-Afrika berada pada persimpangan di tengah Perang Dingin. Perang tanpa aroma mesiu dan dentuman meriam, namun menyimpan bom waktu.
Di sisi yang berbeda, masih ada bangsa di wilayah Asia-Afrika yang dijajah. Kemerdekaan sebagai hak esensial akan sulit diperjuangkan tanpa membangun solidaritas antarbangsa. Inilah dasar pijakan para pemimpin Asia-Afrika berinisiatif melaksanakan KAA di Bandung.
Soekarno (Indonesia), Jawaharlal Nehru (India), dan Gamal Abdel Nasser (Mesir) sebagai inisiator merintis jalan ketiga melalui diplomasi. Jalan ini kemudian menjadi cikal bakal Gerakan Non Blok (GNB). Tidak berpihak kepada Blok Barat maupun Blok Timur. Meski demikian, GNB kemudian memiliki pengaruh secara geopolitik, termasuk memperjuangkan kemerdekaan bagi setiap bangsa.
Mengutip Encyclopaedia Britannica, KAA Bandung merupakan panggung bagi bangsa-bangsa Asia-Afrika dalam mengambil sikap tegas; menolak kolonialisme dalam segala bentuk. Forum ini juga memperjuangkan kemerdekaan setiap bangsa, termasuk Palestina.
KAA Bandung bukan muncul tiba-tiba. Konferensi ini lahir dari pertemuan sebelumnya oleh para pemimpin Asia di Kolombo dan Bogor pada 1954. Dua pertemuan itu yang menghasilkan forum solidaritas Asia-Afrika di Bandung.
Selain Soekarno, Nehru, dan Gamal, pemimpin Asia lainnya seperti U Nu (Burma/Myanmar) dan Sir John Kotelawala (Ceylon/Sri Lanka) juga menjadi inisiator KAA Bandung.
Semangat Dunia Baru dari Asia-Afrika
KAA sendiri melahirkan 10 prinsip hubungan internasional sebagai pedoman bagi negara kawasan Asia-Afrika. Rumusan itu dikenal dengan Dasasila Bandung.
Mengacu pada arsip dan publikasi resmi Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia melalui portal kemlu.go.id, Dasasila Bandung merupakan semangat dunia baru yang ingin dibangun negara-negara Asia-Afrika.
Semangat untuk mewujudkan tatanan internasional yang adil, setara, dan bebas dari dominasi. Prinsip-prinsip itu menegaskan pentingnya penghormatan terhadap hak asasi manusia, kedaulatan setiap bangsa, serta penolakan terhadap segala bentuk campur tangan dan agresi.
KAA juga mendorong penyelesaian konflik secara damai, memperkuat kerja sama antarnegara, dan menjunjung tinggi keadilan serta hukum internasional sebagai fondasi hubungan global.
Dari forum ini lahir pernyataan sikap tegas bahwa kolonialisme dalam bentuk apa pun harus dihapus karena kemerdekaan adalah hak semua bangsa. Sikap tegas itu diikuti pernyataan dukungan perjuangan bangsa yang masih dijajah, seperti Palestina.
Jika semangat Dasasila Bandung yang diproklamirkan 71 tahun lalu disandingkan dengan fakta Palestina hari ini, tampak begitu kontras. Palestina yang disuarakan di Bandung ketika itu, kini masih menjerit.
Krisis kemanusiaan sangat tinggi. Korban jiwa dari warga sipil terus berjatuhan akibat konflik bersenjata. Rumah penduduk, rumah sakit, infrastruktur dasar seperti air dan listrik juga rusak. Akses pangan dan obat-obatan sangat sulit. Penggusuran, penguasaan lahan, pembatasan mobilitas warga masih terus dilakukan Israel.
Secara de jure Palestina telah diakui sebagai negara oleh 130 negara di dunia. Sejak 2012 ia tercatat sebagai negara pengamat non anggota di PBB.
Sayangnya, bangsa ini belum memiliki kedaulatan penuh atas wilayahnya. Mereka masih berada di bawah kontrol Israel. Kondisi ini menunjukkan Palestina sebagai negara yang diakui, tetapi secara de facto belum sepenuhnya merdeka.
Melihat Palestina hari ini, sepertinya perjuangan yang lahir dari KAA belum terjawab secara tuntas. Krisis kemanusiaan di wilayah pendudukan saat ini menunjukkan bahwa “janji sejarah” yang dicetus 71 tahun lalu, belum sepenuhnya terbayar.
(Ismit Alkatiri)












