Pemberontakan Literasi Kartini dari Balik “Sangkar Emas”

R.A. Kartini (foto: Wikipedia)

Selama ini, momen Hari Kartini 21 April diramaikan tema utama–perjuangan emansipasi.  Seolah-olah refleksi itu hanya milik perempuan—padahal gagasan yang lahir darinya jauh melampaui sekat gender. Kita luput pada mesin penggeraknya dari balik “sangkar emas” saat dia berusia 12 tahun. Kartini sesungguhnya menyusun pemberontakan lewat pena—narasi panjang yang melahirkan “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

 KERESAHAN Kartini berawal ketika dirinya harus berhenti belajar di Europese Lagere School (ELS) Jepara akhir 1890-an. Yang semakin membuatnya gelisah karena hidupnya serasa di “sangkar emas”.

 Di balik kemewahan fasilitas rumah bupati, ia terkurung oleh pingitan, tradisi Jawa bagi perempuan kaum priyayi. Ayahnya, Raden Mas Adipati Ario yang mengambil keputusan itu.

 Kartini belia tak bisa protes atas fakta bahwa dirinya disekat dengan dunia luar. Ia tak bisa bebas ke mana-mana, termasuk mengejar pendidikan formal setinggi mungkin.

 Di balik itu, tersimpan obsesi besar Kartini bahwa setiap manusia memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang setara. Di tengah pembatasan secara fisik, ruang intelektual Kartini semakin terbuka lewat berbagai bacaan.

 Menurut catatan sejarah, pada masa pingitan itu, ia belajar secara otodidak. Literasi menjadi mesin penggerak perjuangannya mewujudkan kesetaraan gender.

 Bermodalkan kemampuan bahasa Belanda, Kartini mulai memahami dunia luar melalui majalah dan surat kabar. Tulisan-tulisan itu ia dapat dari sang ayah dan kakaknya, Sosrokartono.

 Informasi dan pengetahuan banyak diperoleh dari majalah De Hollandsche Lelie dan surat kabar De Locomotief. Dari media ini Kartini remaja memahami kemajuan perempuan, dunia pendidikan dan isu-isu sosial lainnya.

 Berangkat dari literasi media, Kartini mulai membangun inspirasi di balik kegelisahan dan harapan. Dirinya berkorespondensi dengan orang-orang di Tanah Belanda sebagai sahabat penanya, di antaranya Stella Zeehandelaar.

 Beberapa catatan sejarah mendeskripsikan aktivitasnya selama masa pingitan. Surat-suratnya ke Belanda itu bukan cuma cerita keindahan alam, seni, atau sekadar membangun sahabat pena.

 Ia menulis tentang fenomena kaum perempuan Jawa yang terkungkung oleh tradisi, seperti yang dia alami. Di antara surat-surat itu, ada juga harapan Kartini yang ditulis dalam bahasa Belanda.

Dikutip dari buku Door Duisternis tot Licht (1911), ed. J.H. Abendanon, versi digital Wikisource, surat-suratnya kepada Rosa Abendanon sekitar 1902 hingga 1903, Kartini kerap memposisikan perempuan dalam ”kegelapan sosial” dan menaruh harapan  datangnya pencerahan.

Buku Door Duisternis tot Licht ini disadur Armijn Pane ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan 1938 dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Dari buku ini, gagasan besar Kartini semakin banyak diketahui publik Indonesia.

Dihadiahkan Buku Tafsir dari Sang Kiai

 Kartini tidak berteriak lantang dalam memperjuangkan emansipasi. Tidak pula vokal bersuara di forum. Literasi merupakan medium pemberontakan Kartini—melahirkan gagasan yang melampaui zamannya.

 Selain buku Door Duisternis tot Licht (1911) yang terinspirasi dari surat-suratnya, beberapa sumber menyebut, kehadiran Kartini dalam pengajian ikut mendorong penulisan tafsir Faidh al-Rahman fi Tafsir Al-Qur’an oleh seorang kiai pembimbingnya.

 Kitab ini merupakan tafsir Al-Qur’an pertama di Asia Tenggara. Ditulis KH Sholeh Darat yang oleh sejumlah sumber dikaitkan dengan kegelisahan Kartini pada suatu kesempatan pengajian. Kitab dalam bahasa Jawa (menggunakan huruf Arab Pegon), memudahkan pembaca memahaminya.

Pertemuan Kartini dan Kiai Sholeh diungkapkan Solichin Salam. Dalam bukunya, R.A. Kartini Seratus Tahun (1879-1979) pada halaman 46-51, Solichin menceritakan pertemuan itu terjadi dalam majelis pengajian.

 Solichin mengutip catatan K.H. Ma’shum, salah satu murid Kiai Sholeh dan surat Ki Moesa Al Machfoed, juga menyebut Kartini memperoleh hadiah kitab Faidh al-Rahman langsung dari sang kiai.

 Beberapa catatan historiografi menyebutkan, saat pengajian Kartini sempat mengeluh soal kesulitan memahami Al-Qur’an karena tidak menemukan tafsir. Setelah itu, K.H. Sholeh menulis kitab tafsir dan menghadiahkan kepada Kartini.

 Dalam catatan historiografi, tidak ditemukan hubungan secara langsung antara gagasan Kartini yang terkristal dalam Habis Gelap Terbitlah Terang dengan kehadirannya dalam pengajian K.H. Sholeh Darat. Tetapi pengalaman spiritualnya dianggap ikut melahirkan gerakan perjuangannya.

Dari fase awal perjuangannya hingga meninggal pada 1904, Kartini tidak sempat melihat cerahnya gagasan emansipasi melalui karya pencerahan yang monumental.

Kartini adalah bukti bahwa cakrawala berpikir mampu menggerakkan kesadaran kolektif terhadap nilai-nilai perjuangan tanpa harus ada di ruang formal. Dia bukan hanya pahlawan emansipasi bagi kaumnya, tetapi juga pejuang literasi dunia tanpa sekat gender.

(Ismit Alkatiri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup