Kisah Ibu Sehat Merajut Benang Tradisi, Melestarikan Tenun Ternate
Identitas bangsa tidak dirajut dari kelalaian generasi. Lebih dari dua dekade lalu, di tengah gempuran modernisasi, Ibu Sehat Lamasida bangkit merajut benang tradisi, melahirkan selembar wastra tradisional Ternate.
Keteguhan hati seorang perempuan visioner, bernama lengkap Hj. Sehat Lamasila ini dilakukan sejak tahun 1998 hingga detik ini untuk ia menjaga warisan emas tenun lokal agar tak hilang ditelan waktu.
Sebagai generasi keempat pegiat tenun Koloncucu, keahlian menenun ini ia rawat secara turun-temurun dari sang nenek, menjaga nilai historis tinggi yang mengikat sejarah erat antara Kerajaan Buton dan Kesultanan Ternate berabad-abad silam.
Melalui “Rumah Rapidino” yang didirikannya di Toboleu, Ternate Utara, perempuan yang akrab disapa Ibu Sehat ini membuktikan bahwa menenun bukan sekadar menyusun helai demi helai benang, melainkan merawat harga diri, martabat, dan memori kolektif budaya masyarakat Ternate. Wastra legendaris Tenun Koloncucu yang sempat nyaris punah, kini berhasil dihidupkan kembali sebagai garda terdepan identitas Maluku Utara.

Perjuangannya adalah jalan sunyi yang penuh tantangan. Namun dengan kesabaran seorang ibu dan ketekunan seorang maestro, Ibu Sehat tidak hanya memproduksi kain. Ia juga menghidupkan asa dengan merangkul, membina, dan melatih puluhan ibu-ibu serta generasi muda melalui bengkel kerjanya di lingkungan Benteng Oranje. Ia menjadi motor penggerak konsisten agar keahlian bernilai tinggi ini tetap mengalir di darah penerus bangsa.
Melalui sentuhan kreativitasnya di bawah Rumah Rapidino Tenun Ternate, ia mendesain busana modern tanpa kehilangan jiwa tradisinya. Salah satu pencapaian besarnya adalah mematenkan HAKI untuk Motif Kupu-Kupu Mahkota di DJKI Kemenkumham RI. Kegigihannya menjaga mutu wastra ini juga menjadi pendorong utama bagi Kanwil Kemenkumham Maluku Utara untuk mendaftarkan Tenun Koloncucu sebagai produk Indikasi Geografis (IG), memberikan perlindungan hukum serta pengakuan kualitas di tingkat nasional.

Kini, dari sebuah rumah di sudut Toboleu, dedikasi itu telah bertransformasi menjadi benteng pertahanan budaya yang kokoh, pusat kreativitas wastra, dan kebanggaan yang menginspirasi kita semua.
Kerja keras seumur hidupnya membuahkan apresiasi tertinggi ketika Pemerintah Kota Ternate menganugerahinya penghargaan prestisius sebagai Maestro Legend Pelestari Wastra dan Busana Ternate dalam ajang Rakernas XII Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) 2026.(@ba_is)















