Menjaga Alunan Musik Pusaka Ternate, Mengabadikan Jati Diri Moloku Kie Raha
SETIAP jengkal tanah Moloku Kie Raha tidak hanya melahirkan rimbunnya cengkih dan pala, tetapi juga gema pusaka dari petikan dawai, ketukan tifa, dan tiupan angin pada bambu-bambu tradisi. Musik pusaka Ternate adalah “jembatan spiritual” yang menghubungkan kita dengan keluhuran masa lalu.
Hasan Ali, atau yang lebih populer dengan nama panggung Ata Deng Kofia, merupakan sosok yang menolak membiarkan melodi kuno tanah ini lenyap dalam sunyi. Ia memilih mengabdikan hidupnya agar detak jantung peradaban musik leluhur tetap lantang terdengar menembus zaman.

Penyelamatan Pakem Tradisi
Sejak tahun 2005, Ata Deng Kofia bergerak dengan penuh keteguhan. Melalui wadah Lembaga Seni Budaya (LSB) Molokiyah, ia berhasil menyelamatkan pakem musik tradisi Maluku Utara yang mulai tergerus zaman.
Ata Deng Kofia konsisten menjaga kemurnian instrumen kuno. Ia mempertahankan kesakralan metode pembuatan dan teknik memainkan alat musik pusaka yang diwariskan turun-temurun, seperti arababu (alat musik gesek tradisional Ternate), gambus, tifa, fiol, dan suling.
Di tengah proses berkeseniannya, musisi yang juga akrab dengan lagu-lagu balada ini bahkan menjaga pakem tradisi alat musik seperti arababu. Salah satu keunikan arababu adalah berdawai satu. Ia tidak saja membawa arababu dalam pentas kolaborasi musik kekinian tetapi juga mendokumentasikan alat musik ini melalui film dokumenter.

Rekam Jejak Musik Pusaka Ternate
Rekam jejaknya adalah simfoni penjaga peradaban yang terukir indah melalui jalinan harmoni bernafaskan leluhur. Ata Deng Kofia berhasil mendokumentasikan memori kolektif, kearifan lokal, dan getaran spiritual adat Kesultanan Ternate ke dalam resonansi bunyi yang abadi.
Dari ketekunannya berlatih berbagai alat musik tradisional ini, Ata juga berbagi skill dengan musisi muda yang tak sungkan memainkan alat tradisional–dari panggung hiburan rakyat hingga pentas seni berkelas. Beberapa karya monumentalnya antara lain: Kabata Masyrik, Tara No Ate, Senandung Rempah, dan Nonako memberi warna baru dari alunan musik dan senandung tradisional.

Diplomasi Budaya hingga ke Afrika Selatan
Dedikasinya sebagai pelestari musik pusaka tidak berhenti di ruang latihan LSB Molokiyah. Ata Deng Kofia turun langsung memikat hati generasi muda, sekaligus menjadi duta budaya yang menggemakan suara magis instrumen Ternate ke panggung nasional hingga dunia internasional di Afrika Selatan.
Melalui jemarinya, musik pusaka bukan lagi sekadar artefak masa lalu, melainkan diplomasi rasa yang mengangkat harkat dan martabat Maluku Utara di mata dunia. Atas dedikasi luar biasa tersebut, Wali Kota Ternate menganugerahkan penghargaan tertinggi kepadanya sebagai Maestro Legend Pelestari Alat Musik Tradisional. Award ini diberikan pada rangkaian hajatan Rakernas XII JKPI (Jaringan Kota Pusaka Indonesia) di Kota Ternate, akhir Agustus 2026 kemarin.(@ba_is)















