MalutTrend.com

Cerdas, Berbudaya, Berimbang.

Menjaga Denyut Ritual Tari Tradisional, Merawat Marwah Kesultanan

Rizal Iskandar Alam saat menerima penghargaan dari Wali Kota

Sebuah peradaban tidak saja ditandai oleh megahnya bangunan yang berdiri, melainkan juga dari gemulai gerak dan tabuhan ritme yang menjaga denyut ritual. Selama hampir empat dekade, di tengah moderenisasi dunia yang nyaris melupakan akar, keteguhan hati seorang maestro berdiri kokoh. Ia menjadi benteng pertahanan bagi kesucian tari tradisional Kesultanan Ternate.

Di sinilah kita menyaksikan luhurnya pengabdian seorang Rizal Iskandar Alam, atau yang akrab disapa Ko Ical. Sejak tahun 1986 hingga sekarang, sosok ini intens melakukan kajian dan tindakan nyata untuk merawat tari tradisi Kesultanan Ternate.

Bersama para penari di lingkungan Kedaton Kesultanan Ternate

Menari Sebagai Untaian Ritual

Bagi Ko Ical, menari bukan sekadar memamerkan estetika gerak tubuh belaka. Melalui wadah Fala Sere se Duniru Rau Parada, Sanggar Kapseti, dan Peteratu (Pemuda Ternate Bersatu) yang ikut dihidupkannya baik di dalam maupun di luar lingkungan Kedaton Kesultanan Ternate, ia mampu membuktikan nilai sejati dari seni pertunjukan ini.

Setiap sentakan langkah Soya-Soya, keperkasaan Cakalele, hingga kesakralan Salai Jin adalah untaian ritual, harga diri, dan memori kolektif yang membawa marwah para leluhur melintasi zaman.

Perjuangan Ko Ical adalah sebuah perjalanan panjang yang melampaui batas panggung hiburan biasa. Ia membawa ketukan tradisi ini ke ranah akademik, mengkaji Tari Soya-Soya secara ilmiah bersama Dewan Kesenian Jakarta dalam konsep Soya Siwa Lima.

Bersama para mahasiswa asal Maluku Utara yang studi di Jakarta, ia pun ikut hadir di panggung nasional mulai dari Taman Mini Indonesia Indah (TMII) hingga Taman Ismail Marzuki (TIM) melalui tarian tradisional.

Semasa kepemimpinan Sultan Mudaffar Sjah hingga Sultan Hidayatullah Sjah, Ko Ical dipercayakan menyusun kemegahan koreografi pada setiap momentum adat dan pesta rakyat Legu Gam. Ia memastikan bahwa setiap gerak yang ditampilkan tetap tunduk pada pakem aslinya.

Mengawal tradisi Joko Kaha di lingkungan Kedaton Kesultanan Ternate

Dedikasi Abadi Sang ‘Kimalaha Sere’

Perjuangan selama empat dekade dengan ketulusan, kesetiaan mutlak, dan pengabdian tanpa batas dari seorang pejuang budaya ini meletakkan kembali dasar bagi lestarinya seni pertunjukan Nusantara. Dedikasi tersebut akhirnya menuntunnya untuk mengabdi pada Lembaga Kesultanan Ternate dengan jabatan  Kimalaha Sere.

Atas keteguhan hati dan dedikasi luar biasa itu, Wali Kota Ternate menganugerahkan penghargaan tertinggi kepadanya sebagai Maestro Legend Pelestari Tari Tradisional Kesultanan dalam rangkaian Rakernas XII JKPI di Kota Ternate, akhir Agustus 2926 kemarin.(@ba_is)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup