MalutTrend.com

Cerdas, Berbudaya, Berimbang.

Zainuddin M. Arie: Menjaga Nyala Tradisi dalam Dekapan Teater Rakyat

Abang Arie saat menerima penghargaan dari Wali Kota Ternate

Sastra dan teater rakyat di Kota Ternate, umumnya tidak hanya mencatat sejarah di atas kertas, tetapi juga meniupkan ruh kehidupan ke atas panggung pertunjukan. Di bawah langit Ternate yang menyimpan ribuan kisah, bait-bait puisi dan gerak tubuh aktor bukan sekadar hiburan pengisi waktu. Di Jalan Bola, Kelurahan Toboleu (Koloncucu),  ada sosok yang intens membangun imajinasinya sebagai  napas kebudayaan yang terus dipelihara di tengah arus zaman yang serba instan.

Sosok sutradara dan sastrawan ini  mendedikasikan seluruh garis hidupnya untuk mengabadikan jati diri bangsa. Melalui panggung teater rakyat dan kedalaman sastra, ia bergerak membangun benteng kultural bagi masyarakat Moloku Kie Raha.

Zainuddin M. Arie, S.Ag., SS., M.Pd. telah memulai perjalanan ini sejak akhir dekade 1970-an. Pada medio 1979, ia mulai merintis wadah untuk mengumpulkan kegelisahan sosial dan menyalurkannya lewat seni peran. Setahun kemudian, tepatnya pada tahun 1980, ia mendirikan Teater Anak Bangsa. Dari sanggar inilah, tradisi tutur yang hampir punah diramu kembali menjadi sebuah pertunjukan yang megah, puitis, namun tetap membumi.

Bagi Zainuddin, panggung teater adalah ruang refleksi yang sakral. Ketika tren hiburan layar kaca kian menggerus kebudayaan lokal, ia justru memperkukuh pakem tradisi. Karya monumental seperti teatrikalisasi puisi “Risalah Zaman Berzaman” pada tahun 1996 menjadi bukti nyata bagaimana sejarah Ternate dipotret secara magis lewat dialog dan gerak tubuh.

Abang Arie bermain di panggung teater rakyat bersama anak-anak binaannya

Kedaulatan Budaya Ternate

Kegelisahan kreatif Zainuddin tidak pernah berhenti di satu titik. Dua dekade setelahnya, panggung kembali bergetar lewat pementasan “Ini Ternate” dan pembacaan puisi “Lelangkah Lelaki Alam” pada tahun 2008. Lewat karya-karya ini, Zainuddin tidak sekadar berteater; ia sedang mengartikulasikan kembali kedaulatan budaya Ternate di mata dunia.

Melalui pementasan teater, ia memperkenalkan kehangatan spiritualitas dan ketangguhan mental manusia Maluku Utara kepada khalayak luas. Panggung pertunjukannya menjadi medium komunikasi budaya yang cair namun bertenaga, mampu melintasi batas generasi dan menyentuh kesadaran para penikmat seni dari berbagai penjuru.

Jejak pemikiran sang maestro pun abadi dalam lembaran-lembaran literasi. Ruh Moloku Kie Raha terdokumentasi rapat dalam barisan diksi puitis yang ia lahirkan melalui buku-buku puisi tunggalnya, seperti ALIF ALAM MA KOLANO (2019), NGOKO KUDIHO TALALU SUSA (2023), AYAT-AYAT GAUMEDI SE GOSORA (yang akan segera terbit)

Nama dan buah pikirnya juga menjadi benang merah yang menyatukan berbagai karya kompilasi bergengsi. Mulai dari Narasi Tanah Asal (2009), Kita Halmahera (2017), Risalah Para Kapita (2019), hingga karya eksperimental penuh makna seperti Shiratal Mustaqim dan cerita anak Dung, Dung, Dung.

Aktif memberikan pelatihan teater dan puisi

Penghargaan untuk Sang Penjaga Pakem

Zainuddin bergerak dengan keteguhan hati, memikul tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa generasi hari ini masih bisa mendengar gema suara dari kejayaan masa lalu. Baginya, mengubah esensi tradisi tutur atau mengaburkan fondasi filosofis lokalitas sama saja dengan memutus rantai sejarah.

Berkat dedikasi tanpa pamrih yang telah membentang selama lebih dari empat dekade tersebut, Abang Arie—sapaan karabnya–memperoleh penghormatan tertinggi dari Wali Kota Ternate, Dr. H.M. Tauhid Soleman, M.Si. Ia dianugerahi penghargaan sebagai maestro legend penggerak teater rakyat.

Apresiasi yang diberikan dalam rangkaian Rakernas XII JKPI (Jaringan Kota Pusaka Indonesia) 2026 ini menjadi penanda abadi. Dari sudut Toboleu, dedikasi seorang Zainuddin telah mengakar kuat, memastikan bahwa identitas, sastra, dan teater rakyat Ternate tetap menyala melintasi zaman.(@ba_is)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup