Sang Boki dan Diplomasi Rempah dalam Secangkir Kopi
Rempah Maluku Utara (Malut) tidak hanya menuliskan sejarah dunia lewat jalur perdagangan, tetapi juga mewariskan peradaban rasa yang tinggi dari dalam istana. Di balik dinding Kedaton Kesultanan Ternate yang kokoh, aroma cengkih, pala, dan kayu manis bukan sekadar wewangian masa lalu. Aroma itu menjadi napas kebudayaan yang terus dijaga agar tak terhempas oleh gelombang zaman.
Di garis depan penjagaan tradisi ini, ada sosok permaisuri yang mendedikasikan jiwanya untuk merawat dan mengabadikan jati diri bangsa melalui kuliner (kopi dan teh rempah) sebagai gastrodiplomasi Kesultanan.
Kopi rempah sesungguhnya sudah ada sejak awal Kesultanan Ternate berinteraksi dengan orang-orang Arab yang datang dengan budaya kopi. Pertemuan antara kopi dan rempah menjadi titik akulturasi budaya yang dibangun dari dalam kedaton.
Namun kopi rempah yang lahir dari kedaton sebagai gastrodiplomasi sejak ratusan tahun lalu itu berbeda baik komposisi maupun cara penyajian dengan berbagai formula kopi rempah yang beredar di pasaran. Memang, di beberapa soa atau kampung adat, tradisi menyajikan kofi nyiru masih ditemukan. Namun kofi nyiru yang sesuai pakem berakar dari kedaton.
Sayangnya, seiring waktu, sajian kopi rempah di kedaton pun meredup sebab tak ada lagi sosok penjaga pakem tersebut. Sejak tahun 2015, sebuah gerakan senyap lahir dari Kedaton saat Boki Alwia Annisa Hidayatullah Sjah, Permaisuri Sultan Ternate merajut kembali tradisi kuliner kedaton. Dari pengalaman rasa di masa kecilnya dan cerita turun temurun, Boki Alwia yang saat itu belum menjadi permaisuri berusaha meracik kembali kofi nyiru dari dapur kedaton. Kopi racikan dengan bahan rempah—termasuk cengkih dan pala—secara tulus disajikan kepada setiap tamu terhormat.

Semenjak sebagai istri pangeran hingga kini menjadi permaisuri sultan, Boki Alwia tak pernah berhenti meracik sendiri dan menuntun para abdi dalem di dapur untuk membuat kopi sesuai pakem.
Sudah ratusan tamu baik nasional seperti Anies Baswedan, Ustad Abdul Somad, Ganjar Pranowo, sejumlah menteri, para pimpinan instansi vertikal, tamu negara sahabat, hingga wisatawan mancanegara selalu berucap setelah menyesap kopi kedaton. Di antara mereka ada yang ingin membawa ke Jakarta.
Melalui gastrodiplomasi, Boki Alwia Annisa Hidayatullah Sjah memperkenalkan kehangatan kopi rempah Ternate kepada para tokoh nasional hingga delegasi mancanegara. Baik saat menyambut tamu agung di tanah Moloku Kie Raha, maupun saat berada di Jakarta, hidangan rempah ini menjadi medium komunikasi yang cair namun bertenaga.
Di meja diplomasi, kuliner tradisional bukan lagi sekadar minuman segar, melainkan sebuah pernyataan kedaulatan budaya yang mengangkat martabat Ternate di mata dunia. Seperti halnya ketika pertemuan Sultan Ternate Hidayatullah Sjah, S.I.P, M.A.P dengan salah seorang diplomat Kerajaan Arab Saudi.

Rasa Asli Kejayaan Masa Lalu
Tak hanya di kedaton, kopi rempah racikan Boki Alwia juga selalu hadir dalam hajatan-hajatan keagamaan. “Kami memang sering menghadiahkan beberapa termos untuk hajatan sosial dan keagamaan. Kami ingin hadirkan kopi ini sebagai bagian dari ritual dan tradisi kesultanan,” ujar Boki Alwia kepada MalutTrend.Com, baru-baru ini.
Boki Alwia bergerak dengan keteguhan hati, memikul tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa generasi hari ini masih bisa mengecap rasa asli dari kejayaan masa lalu.
Berawal dari cangkir-cangkir kedaton, Sang Permaisuri berhasil mengembalikan pakem sejati pengolahan kopi dan teh rempah Kesultanan Ternate di tengah gempuran tren kuliner modern yang serba instan.
Boki mengunci keaslian bahan dan kesakralan metode racikan yang telah diwariskan turun-temurun. Baginya, mengubah cara meracik atau mengganti bahan dasar rempah sama saja dengan mengaburkan sejarah. Kopi dan teh rempah Ternate di tangannya tetap menjadi simbol kehangatan, penghormatan, dan spiritualitas Moloku Kie Raha.
Tak salah, jika di tengah gerakan merawat tradisi kuliner tanpa komersial ini, Boki Alwia memperoleh penghormatan tertinggi dari Wali Kota Ternate, Dr. H.M. Tauhid Soleman, M.Si sebagai maestro legend pelestari gastrodiplomasi kesultanan.
Penghargaan yang diberikan dalam rangkaian Rakernas XII JKPI (Jaringan Kota Pusaka Indonesia) 2026 itu diterima oleh putri sulungnya, Boki Naida Hidayatullah Sjah bersama 9 penerima award lainnya.(@ba_is)














