Prancis vs Senegal: Misi Balas Dendam Les Blues

BAYANGKAN kemewahan lini ofensif ini di sebuah turnamen besar. Ada Kylian Mbappe (Real Madrid), Marcus Thuram (Inter Milan), Ousmane Dembele (PSG), Michael Olise (Bayern Muenchen), Desire Doue (PSG), Bradley Barcola (PSG), Rayan Cherki (City), Maghnes Aliouche (Monaco), dan Jean Phlippe Mateta (Crystal Palace). 9 penyerang subur dipilih sendiri oleh Didier Deschamp untuk jadi bomber utama Prancis.

Saya kira semua pelatih menginginkan mereka dan karena tak bisa maka para pelatih itu harus berpikir bagaimana caranya untuk menghentikan para jugador ini. Beberapa tim dengan sejarah besar gagal membuat banyak gol karena lini depannya tak punya bomber kelas satu. Juga lini ofensif yang minim kreativitas.

Prancis akan menghadapi Senegal di laga pembuka grup I pada Rabu dinihari (17/6/2026). Keduanya mentas di New York New Jersey Stadium. Deschamps sejak membesut Les Blues 14 tahun lalu, selalu menggunakan skema 4-2-3-1. Skema ini yang membawa mereka juara Piala Dunia 2018 di Rusia. Dan sangat mungkin Prancis akan bermain dengan situasi yang sama.

Di depan, kapten Kylian Mbappe (Real Madrid) akan jadi target man. Kecepatan dan kinerja bikin golnya sangat terukur. Tiga pemain ofensif di belakang Mbappe pasti dihuni Ousmane Dembele (PSG) di belakang penyerang utama, Michael Olise (Munchen) di flank kanan dan Desire Doue (PSG) di kiri. Empat pemain ini punya kemampuan rotasi dan akan sangat sulit dijaga. Saya sangat suka dengan kebiasaan Olise dan Doue lakukan cutting in side lalu melepas tendangan memutar ke tiang jauh gawang lawan.

Satu-satunya ketidakseimbangan Prancis ada di lini tengah. Lini yang selalu jadi rebutan di laga-laga besar. Deschamps akan memainkan double pivot – Aurelien Tchouameni (Madrid) dan Adrian Rabiot (Milan) di posisi ini. Tchouameni dengan tenaga lebih segar akan lebih banyak bergerak meng-cover area tengah. Rabiot menjaga keseimbangan. Jika lengah, Senegal berpotensi merebut lini vital ini sekaligus mengancam pertahanan Les Blues.

Problem ketidakseimbangan ini telah dieksploitasi oleh Pantai Gading yang “menodai” rekor Prancis dalam 10 laga tanpa terkalahkan. Perancis kalah 1-2 di laga uji coba. Materi yang tersisa di bench juga tak memberi banyak garansi pergantian. Hanya ada N’golo Kante (Fenerbace) yang menurut saya sudah habis masa jayanya. Ditambah Warren Zaire-Emery (PSG), dan Manu Kone (Roma). Hanya 5 gelandang untuk Piala Dunia yang panjang? Masalah lainnya adalah Dembele ataupun Mbappe kadang tak punya kemampuan membantu pertahanan.

Pelatih Senegal biasanya bermain dengan skema yang sama persis dengan Prancis. 4-2-3-1. Tapi hasil buruk selama laga uji coba dan memahami benar ofensivitas Prancis membuat coach Papa Thiaw sangat mungkin bermain dengan 4-3-3. Lebih aman. Lini tengah Senegal akan jadi milik beberapa pemain muda. Ada Lamine Camara (Monaco), Habib Diara (Sunderland) dan Papa Guaye (Villareal). Terbuka opsi Senegal memainkan gelandang Muenchen lainnya yang baru berusia 18 tahun, Bara Ndiaye.

Untuk urusan bikin gol, Senegal bertumpu pada tiga pemain dengan naluri cetak gol yang tinggi. Iliman Ndaye (Everton) dan kapten Sadio Mane (An Nasr) akan bergerak di sayap mendukung kinerja bomber utama, Nicolas Jackson (Muenchen). Dengan komposisi ini, Prancis tak boleh ceroboh.

Kuartet bek Les Blues – Jules Kounde (Barcelona) di kanan, duet William Saliba (Arsenal) dan Dayot Upamecano (Muenchen) di senter bek dan Theo Hernandez (Al Hilal) di kiri butuh fokus untuk melindungi gawang mereka. Mike Maignan (AC Milan) belum selevel kiper legendaris Fabian Barthez atau Hugo lloris.

Hal yang sama berlaku untuk lini pertahanan Senegal. Kualitas penyerang Prancis sangat mengerikan jika dibiarkan mengelola ruang kosong. Kiper Eduardo Mendy (Al Ahli) perlu terus mengingatkan empat bek mereka agar “man to man marking” setiap Prancis mem-build up serangan. Kreptin Diatta (Monaco) di kanan, Ismail Yakobs (Galatasaray) di kiri harus bekerja keras mematikan Oliseh dan Doue. Begitu juga duet bek tengah Mamadou Sarr (Chelsea) dan kapten Kalidou Koulibay (Al Hilal) tak boleh kehilangan momentum mengawasi pergerakan Mbappe dan Dembele.

Prancis diunggulkan untuk menang karena punya kualitas materi yang lebih baik. Tapi seperti yang selalu saya ulas– kualitas bakat kadang tak optimal bila tak punya keinginan untuk jadi pemenang. Banyak laga tim dengan sejarah besar berakhir menyedihkan di beberapa pertandingan pembuka sebelumnya. Prancis juga perlu menurunkan ego para pemain. Perseteruan beberapa bintang secara internal dan sikap Mbappe yang “besar kepala” akan jadi batu sandungan jika tak selesai sebelum sepak mula.

Filosofi Timnas Prancis yang memadukan teknik tinggi dengan kemampuan taktikal yang adaptif serta kebiasaan memberi space yang lebar untuk pemain mengekspresikan ball skill mereka jelas butuh energi dan fisik yang prima. Menjadi menarik karena filosofi ini akan bertemu dengan tim yang paham dengan struktur dan pola Prancis. 8 pemain inti Senegal bermain di Liga Prancis. Beberapa bintang juga akan “terbiasa” karena kerap berlatih bersama di Bayern Muenchen.

Deschamps yang punya pengalaman panjang melatih Les Blues dan jadi satu-satunya legenda hidup yang memenangkan Piala Dunia. Sebagai pemain dan pelatih tentu punya game plan untuk meredam Senegal. Les Lions de la Téranga (Singa-singa Teranga) lebih memprioritaskan adu fisik dengan transisi bertahan ke menyerang yang cepat. Mereka cenderung menunggu. Bermain terbuka melawan Prancis adalah bunuh diri.

Catatan penting saya adalah di level Piala Dunia, hasil sebuah pertandingan kadang ditentukan oleh “urusan” di luar aspek teknis dan taktikal. Semua pemain Prancis sebaiknya bermain sebagai sebuah tim yang satu hati. Tak boleh ada pemain yang lebih besar dari Les Blues. Jika tidak maka Prancis akan sulit membalas kekalahan memalukan dari Senegal di Piala Dunia 2002. Gol Papa Bouba Diop di Suwon 31 Mei 2002 mengawali tradisi buruk kekalahan para juara bertahan di babak awal Piala Dunia sampai kini.

Senegal adalah juara Afrika 2022. Tahun lalu mereka juara tetapi gelarnya dicabut oleh federasi sepakbola Afrika dan menyisakan skandal yang belum tuntas. Mengalahkan Prancis adalah tindakan untuk membuktikan bahwa mereka adalah tim besar yang bukan kebetulan bermain di Piala Dunia. Hasrat Senegal akan bertemu kualitas Prancis yang jika ditambah keinginan untuk membalas kekalahan 24 tahun lalu akan menentukan hasil akhir. Saya memprediksi Perancis akan menang tipis.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup