PUISI: Akar yang Berlayar

Desain visual diolah via AI

Di antara gunung dan laut,
seorang anak bertanya,

“Haruskah aku tinggal
agar tetap disebut
sebagai bagian dari tanah ini?”

Gunung menjawab,
“Tidak.”

“Sebab akar tak pernah meminta pohon
untuk selamanya berada
di tempat ia tumbuh.”

Lalu laut menyahut,
“Pergilah.”

“Aku tak diciptakan
untuk mengurung perahu.
Aku hanya ingin
mengajarimu
bahwa dunia lebih luas
daripada bibir pantai.”

Maka berlayarlah ia,
membawa sedikit tanah
dari halaman rumah,
secuwil aroma cengkeh,
dan nama pulau
yang diam-diam
bersemayam di dadanya.

Di tengah perjalanan,
ia bertanya kepada angin,

“Apakah pergi
berarti meninggalkan?”

Angin tertawa
sebelum menjawab.

“Tidak semua yang menjauh
sedang melupakan.
Ada yang pergi
agar kelak tahu
apa yang harus dibawa pulang.”

Tahun-tahun berlalu.

Ia belajar dari kota,
dari gedung-gedung tinggi
yang tak mengenal kampungnya.

Setiap kali
aroma cengkeh
singgah di udara,
gunung seperti menyapanya.

Dan bila bidadari Halmahera
mengembangkan sayapnya,
ia kembali mengerti
bahwa terbang
bukanlah cara
untuk melupakan pohon.

Maka ia pulang.

Bukan sebagai anak
yang sama seperti ketika pergi,
melainkan sebagai seseorang
yang membawa sesuatu
untuk ditanam kembali.

Sebab barangkali,
harapan adalah
berani berlayar
sejauh cita-cita,
tanpa kehilangan
arah untuk pulang.

Dan jika suatu hari
anak-anak lain bertanya,

“Ke mana kami harus pergi
untuk menemukan masa depan?”

Semoga gunung berkata,
“Pergilah setinggi mungkin.”

Semoga laut berkata,
“Berlayarlah sejauh mungkin.”

Namun semoga tanah
tetap berbisik,

“Jangan lupa,
di sinilah
langkah pertama kalian
pernah tumbuh.”

***

 

PROFIL PENULIS:

 

Nama Lengkap​​: Haikal Nafi Sayoga

Tempat, Tanggal Lahir: Tidore, 5 Mei 2009

Sekolah: SMK Negeri 1 Kota Tidore Kepulauan 

Kelas: XII-PPLG

Hobi: Menulis

Cita-cita: Programmer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup