Cerpen: BINTANG DI LANGIT BATANG DUA
Karya: Nasya Damara Nayla
“Gantunglah cita-citamu setinggi bintang di langit.” Demikian ungkapan lama yang masih sering diucapkan orang tua saat menasihati anak-anak mereka. Namun, di tanah yang kupijak ini, sekadar bermimpi saja terasa sulit.
Aku tinggal di sepotong daratan yang dikelilingi laut biru. Pulau itu bernama Batang Dua, sebuah daratan kecil di antara ujung Sulawesi dan Ternate. Sebagai gadis desa, aku beruntung memiliki orang tua yang masih memberi kesempatan untuk mengenyam bangku SMA.
Ayah hanyalah seorang buruh tani. Kesehariannya dihabiskan untuk mengurus kebun pala milik Pak Dani, meskipun kondisi fisiknya kini mulai menurun. Ibu pun setulus hati ikut membantu Ayah. Sebagai anak sulung, mereka menaruh harapan besar di pundakku. Kesempatan ini ada juga karena gedung SMA belum lama dibangun di desa kami.
Pagi di pulau ini tidak pernah benar-benar sunyi. Angin laut bertiup di antara rumah-rumah berdinding kayu, membawa aroma asin yang sangat akrab bagi kami. Di bawah rindang pohon pala, aku duduk bersama Ibu dan ketiga adikku. Tangan kami bergerak serempak memisahkan daging buah pala dari biji dan fulinya, seolah sudah menghafal alun irama kehidupan ini sejak lama.
Sayup suara langkah kaki tiba-tiba menghentikan aktivitasku. Aku menoleh dan melihat Ayah berjalan bersama seorang pria yang tak asing lagi. Beliau adalah Pak Dani, pemilik kebun yang juga menjabat sebagai Ketua RT. Meski menjadi tokoh berpengaruh, sosoknya yang bersahaja selalu menjadi pelita di tengah keterbatasan warga.
“Bagaimana hasil panen kali ini?” tanya Pak Dani sambil melempar senyum.
Ayah mengusap keringat di dahi, seperti sedang menahan sesuatu yang jauh lebih berat dari sekadar rasa lelah.
“Lumayan, Pak. Tetapi beberapa pohon tidak berbuah sebanyak tahun lalu,” jawab Ayah.
Pak Dani mengangguk pelan.
“Kalau ada kesulitan, jangan ragu untuk menyampaikannya. Kita cari jalan keluar bersama,” kata Pak Dani bijak, seolah tidak ingin Ayah putus asa.
Aku tetap menunduk dan melanjutkan pekerjaan. Namun, telingaku menangkap setiap untaian kata. Ada sesuatu di balik percakapan sederhana itu yang perlahan mulai kupahami.
Sebelum pekerjaan benar-benar selesai, Ayah mendadak memutuskan untuk kembali ke rumah. Langkah kakinya jauh lebih lambat dari biasanya. Wajahnya tampak sangat lesu, seakan tak lagi mampu menahan sakit yang selama ini ia paksakan. Ibu pun bergegas menyusul pulang untuk merawatnya.
Sore hari, langit mulai berubah jingga saat matahari bersiap masuk ke peraduan. Hari ini terasa sangat panjang dan melelahkan. Sembari menatap sang surya yang hampir tenggelam, terbersit harapan di dalam hatiku tentang masa depan yang lebih baik.
Aku mengajak adik-adikku menyusuri jalan setapak untuk pulang ke rumah. Langkah kaki kami terasa lebih sunyi dari biasanya, seolah-olah ada bayangan tanpa suara yang ikut membuntuti jejak kami.
Rumah-rumah kayu berdiri berjajar di sepanjang jalan. Sebagian dindingnya tampak mulai lapuk dimakan waktu. Dari celah-celah papan itu, angin laut masuk tanpa permisi—terasa dingin dan tak kuasa dibendung.
Saat hampir tiba di pekarangan, kulihat Tante Lani, tetangga kami, sedang menyapu halaman.
“Irna, baru pulang dari kebun?” sapanya ramah.
Aku mengangguk sambil melempar senyum kecil sebelum melangkah masuk ke rumah.
Suasana di dalam rumah sangat senyap, mirip bangunan yang dibiarkan tanpa penghuni. Aku menutup pintu kamar Ayah dengan perlahan, lalu kembali ke ruang depan. Di sana, Ibu duduk di atas kursi kayu dengan tatapan yang seolah kehilangan arah.
“Ada apa, Bu?” tanyaku lirih.
Ibu menarik napas panjang.
“Ibu sedang memikirkan penyakit ayahmu. Di sini layanan kesehatan sangat terbatas. Satu-satunya jalan, kita harus membawa Ayah berobat ke Ternate,” ujar Ibu.
Aku terdiam seketika.
“Ibu juga bingung memikirkan biayanya…” Ibu menjeda kalimatnya. Dengan nada yang semakin serak, ia melanjutkan, “Untuk makan sehari-hari saja kita masih kesulitan, Nak.”
Ibu menatapku lekat-lekat dengan keraguan yang tidak bisa ia sembunyikan.
“Nak, sebentar lagi kamu lulus SMA. Apakah Irna masih ingin melanjutkan kuliah?” tanya Ibu pelan.
Aku mengangguk bimbang.
“Tetapi di pulau ini tidak ada kampus. Kalau Irna mau melanjutkan sekolah, kamu harus pergi ke Kota Ternate,” tambah Ibu.
Aku tahu persis ke mana arah pembicaraan ini.
Ibu melanjutkan perkataannya dengan nada lirih dan terbata-bata, “Kalau misalnya… kamu berhenti sekolah saja, bagaimana?”
Dadaku seketika terasa sesak, seakan seluruh beban dunia berkumpul di sana. Aku menoleh ke arah kamar Ayah yang masih terbaring lemah. Di rumah kecil ini, bukan hanya kesembuhan Ayah yang harus kami pikirkan, melainkan ada masa depan adik-adikku yang juga harus diperjuangkan.
Sunyi malam akhirnya mengantarku kembali ke kamar. Adik-adikku sudah tertidur pulas di atas tikar. Sebuah lampu pelita kecil menerangi ruangan dengan cahaya yang temaram. Aku duduk di samping mereka, mengelus lembut rambut adik bungsuku.
Kamar kami berdinding papan kayu yang sudah lapuk. Di sudut ruangan, hanya ada beberapa lembar tikar, sebuah lemari kecil, dan tas-tas sekolah kami yang tergantung rapi di paku dinding.
Langit-langit kamar menjadi saksi bisu atas segala kegelisahanku. Pikiranku berkecamuk memikirkan banyak hal—tentang Ayah yang digerogoti penyakit, Ibu yang harus memikul beban seberat ini, dan adik-adikku yang masih sangat kecil.
Sejak kecil, aku bermimpi menjadi seorang dokter. Aku ingin menolong warga di pulau ini yang kerap kesulitan mendapatkan akses pengobatan. Namun malam itu, untuk pertama kalinya aku bertanya pada diri sendiri: haruskah aku merelakan mimpi itu lenyap begitu saja? Ataukah aku harus tetap bertahan di tengah badai kehidupan ini?
Semenjak mendengar perkataan Ibu beberapa malam lalu, aku merasa hampir tidak memiliki celah untuk mempertahankan mimpi. Ungkapan tentang cita-cita setinggi bintang kini bergeser di benakku. Aku mencoba menghibur diri bahwa bintang tidak selamanya berada di langit yang tinggi. Ada pula bintang yang tampak di dasar laut—bintang laut yang sering kami pungut saat bermain di tepi pantai.
Namun, mukjizat itu datang beberapa hari kemudian. Pak Jhon, kepala sekolah kami, tiba-tiba masuk ke ruang kelas.
“Ada kabar baik. Pemerintah daerah sedang membuka kesempatan beasiswa penuh bagi siswa dari keluarga kurang mampu yang ingin melanjutkan kuliah ke kota,” suara Pak Jhon terdengar bagai gaung di dalam mimpi.
Suasana kelas seketika riuh.
“Beasiswa…?”
Jantungku berdebar kencang. Kuliah ke kota adalah hal yang sebelumnya hanya berani kuhadirkan dalam angan-angan. Mendengar pengumuman itu, aku mulai hanyut dalam lamunan panjang. Namun, sedetik kemudian, bayangan Ayah yang sedang terbaring sakit kembali membuyarkan harapanku.
Siang itu, aku berjalan pulang sekolah dengan dua perasaan yang saling berkecamuk. Di ujung jalan, terlihat beberapa warga sedang mengantre untuk menimba air di sumur tua—satu-satunya sumber air layak konsumsi di kampung kami. Aku juga melewati bangunan Puskesmas sederhana dengan fasilitas yang sangat minim. Pemandangan miris ini justru membakar kembali keberanianku untuk bertarung memperebutkan beasiswa kedokteran tersebut.
Akan tetapi, bayangan kondisi kesehatan Ayah lagi-lagi memperlambat langkah kakiku.
“Ah…” aku segera menepis lamunan itu.
Sesampainya di rumah, aku langsung melangkah menuju kamar Ayah. Beliau masih terbaring lemah. Tiba-tiba, Ayah terbatuk sangat keras. Aku bergegas mendekat untuk membantunya duduk. Namun, badanku seketika kaku saat melihat bercak darah segar pada kain yang dipegangnya. Dadaku serasa dihantam benda berat.
Tanpa pikir panjang, aku berlari keluar berteriak meminta pertolongan warga. Malam itu, dengan gotong royong, beberapa tetangga membantu membopong Ayah menuju Puskesmas. Jalanan desa yang gelap gulita hanya diterangi seadanya oleh cahaya senter dan sinar rembulan.
Dokter memeriksa kondisi Ayah dengan raut wajah yang amat serius.
“Sepertinya ayahmu mengalami infeksi paru-paru, kemungkinan besar TBC,” kata dokter seraya menoleh ke arah Ibu.
“Suami Ibu membutuhkan pengobatan yang intensif dan teratur. Jika ingin mendapatkan perawatan yang lebih lengkap, sebaiknya segera dirujuk ke rumah sakit di kota,” lanjut dokter memberikan penjelasan.
Ibu hanya terdiam membisu. Kami semua tahu bahwa biaya transportasi laut dan akomodasi di kota tentu tidak sedikit. Karena keterbatasan fasilitas di Puskesmas, malam itu Ayah hanya diberikan obat sementara dan diperbolehkan rawat jalan di rumah.
Malam sudah semakin larut ketika kami tiba kembali di rumah. Semua orang di dalam rumah telah terlelap. Aku berjalan ke luar dan berdiri sendirian di halaman. Langit malam di Pulau Batang Dua saat itu tampak sangat cerah, dipenuhi oleh hamparan bintang yang berkilauan. Sembari memandang desa kecil yang sunyi ini, sebuah tekad bulat mengkristal di dalam dadaku. Aku harus menjadi seorang dokter. Bukan hanya demi kesembuhan Ayah, melainkan untuk masa depan pulau kecil ini.
Di tengah sunyi itu pula, aku akhirnya memantapkan hati untuk mengambil kesempatan beasiswa yang disampaikan kepala sekolah. Aku harus meninggalkan rumah, kampung halaman, dan keluarga, demi membawa pulang sebuah janji.
Perjuangan itu membuahkan hasil. Aku berhasil menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Khairun, Kota Ternate. Sementara itu, Ayah tetap berada di kampung, menjalani pengobatan seadanya dengan fasilitas terbatas di Puskesmas.
Hari demi hari berlalu hingga kuliahku mendekati akhir. Perjalanan ini sama sekali tidak mudah, meski biaya kuliah sudah ditunjang oleh beasiswa. Namun, bayang-bayang kehidupan keluarga yang serbakekurangan, rumah kayu yang lapuk, sumur tua, dan Puskesmas sederhana justru membuat tekadku kian bulat. Aku harus tetap berjuang, seberapa sering pun rasa lelah menyapa.
Memasuki fase akhir perkuliahan, hari-hariku tersita untuk menyelesaikan skripsi. Siang dan malam aku fokus menyusun lembar demi lembar penelitian. Bolak-balik berkonsultasi, berburu referensi, dan mempersiapkan segala hal. Hingga tibalah hari yang dinanti, aku dalam perjalanan menuju kampus untuk menempuh ujian sidang.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba ponselku berdering. Sebuah nomor tak dikenal tertera di layar. Karena ragu, aku mengabaikan panggilan itu. Namun, ponselku kembali bergetar, kali ini disertai sebuah pesan singkat.
Sebelum sempat membaca pesan itu, jantungku sudah berdegup kencang. Pikiranku langsung melesat kembali ke kampung halaman, tertuju pada Ayah dan penyakitnya. Bagaimana jika kondisi Ayah memburuk? Bagaimana jika beliau membutuhkanku sekarang?
Pada detik itu juga, hanya ada satu keinginan di kepalaku: aku harus pulang. Namun, langkahku tertahan. Ujian skripsiku akan dimulai sebentar lagi.
Ponselku berdering untuk kesekian kalinya. Kali ini, aku memberanikan diri untuk mengangkatnya. Suara di seberang sana ternyata adalah Pak Dani, pemilik kebun pala sekaligus Ketua RT di kampungku.
“Tenang, Nak… Ayahmu sudah kami bawa ke rumah sakit di Kota Ternate,” ucapnya langsung.
Jantungku berpacu semakin cepat. Aku tercekat. Ayah berada di kota yang sama denganku saat ini, tetapi aku tidak bisa langsung berlari memeluknya.
“Dokter billing, Ayahmu harus segera dioperasi,” lanjut Pak Dani.
Kalimat itu membuat duniaku seolah runtuh seketika. Ayah berada sangat dekat, namun jadwal ujian sidang yang harus kuikuti hari ini membuat perasaanku terkunci. Aku menggenggam ponsel erat-erat. Dekat, tetapi terasa begitu jauh. Aku tahu Ayah mengharapkan kehadiranku. Namun, jika aku pergi menemuinya sekarang, ujianku pasti gagal.
Aku memejamkan mata sejenak. Di tengah badai kebimbangan itu, aku mengingat kembali alasan pertamaku melangkah: aku pergi bukan untuk meninggalkan mereka, melainkan untuk kembali dengan cara yang lebih berarti. Aku menarik napas dalam-dalam.
“Selesaikan dulu urusan kampusmu. Masalah Ayahmu, biar aku yang urus di sini. Soal biaya jangan kamu pikirkan dulu, semuanya biar aku yang tanggung. Nanti setelah Ayah sembuh, kamu bisa mencicilnya pelan-pelan,” kata Pak Dani menenangkanku dari balik telepon.
Kata-kata itu memberi kekuatan baru. Aku memantapkan langkah memasuki ruang sidang. Begitu ujian selesai dan dinyatakan lulus, aku langsung berlari kencang menuju rumah sakit tempat Ayah dirawat.
Waktu berjalan begitu cepat. Hari itu aku resmi menyandang gelar Sarjana Kedokteran, lalu menyelesaikan program profesi dokter dua tahun kemudian.
Akhirnya, impian masa kecilku terwujud. Aku kembali ke kampung halaman di Pulau Batang Dua untuk mengabdi sebagai seorang dokter di tanah kelahiranku sendiri.
Ibu menyambut kepulanganku dengan mata yang berkaca-kaca penuh haru. Ayah berdiri menyambutku dengan senyuman yang selama ini menjadi sumber kekuatanku. Dalam pelukan hangat mereka, aku tahu bahwa seluruh peluh dan air mata yang tumpah selama ini tidak pernah sia-sia.
Kini, pulau tempat tinggal kami perlahan mulai berubah. Listrik mulai menyala, akses jalan mulai terbuka, dan harapan-harapan baru mulai tumbuh di hati warga.
Aku berdiri di depan Puskesmas, menatap hamparan laut luas yang membentang. Dari pulau kecil yang dulu terasa terisolasi ini, aku belajar satu hal: mimpi tidak pernah mengenal batas.
Pulau ini mungkin tampak kecil di mata dunia. Namun bagiku, di sinilah segalanya bermula. Di atas tanah ini, langkah pertamaku diayunkan. Dan di tempat ini pula, tekadku tertanam untuk selalu kembali—kembali ke rumah, tempat di mana semua cerita dan harapan hidupku berakar.[]

TENTANG PENULIS:
Nasya Damara Nayla merupakan salah satu finalis lomba penulisan cerpen FLS3N 2026 Provinsi Maluku Utara yang mewakili provinsi ke tingkat nasional. Siswi kelahiran Blitar, 5 April 2010 ini kini duduk di kelas X-4 SMA Negeri 1 Ternate. Nasya sendiri memiliki hobi menulis sejak kecil namun untuk pertama kali karyanya dilombakan.[]











