Cerpen: LANGIT YANG TIDAK PERNAH TERLALU JAUH

Ilustrasi (via AI)

Karya: Putri Nandayani

Ternate sedang panas-panasnya. Di teras rumah, Rafi mengusap keringat di dahi dengan punggung tangan yang masih lengket oleh getah mangga. Aroma asam cuka dan manis gula sudah menjadi bau badannya sehari-hari. Di depannya, plastik-plastik bening berserakan, menunggu diisi manisan.

Suara atap seng yang memuai karena panas sesekali berderit. Bunyinya berisik, persis seperti perut Rafi yang belum sempat diisi makan siang.

“Fii, ikatnya jangan asal. Kalau masuk angin, manisannya lembek, orang tidak mau beli lagi,” tegur ibunya dari ambang pintu.

Ibu berjalan mendekat. Kakinya agak menyeret, efek terlalu lama berdiri di depan tungku. Matanya merah karena asap kayu bakar, tetapi ia tetap meraih satu bungkus plastik dan menunjukkannya kepada Rafi.

“Lihat ini, simpulnya harus mati. Jangan kasih celah.”

Rafi hanya mengangguk. Tangannya lincah menarik tali rafia sampai jarinya terasa perih. “Iya, Bu. Besok Rafi bawa lebih banyak ke sekolah. Anak-anak kelas sebelah sudah banyak yang bayar di muka. Katanya mangga kita paling pas asamnya.”

Ibu terdiam sebentar, lalu mengusap kepala Rafi. Tangan Ibu kasar, sela-selanya menghitam terkena arang. Rafi tahu Ibu merasa bersalah melihat anaknya sibuk mengikat plastik, sementara teman-temannya mungkin sedang bermain game di kafe pinggir pantai atau nongkrong di depan mal.

Tiba-tiba, suara deru berat membelah langit. Sebuah pesawat jet baru saja lepas landas dari Bandara Sultan Babullah, melintas tepat di atas Gunung Gamalama. Rafi refleks berhenti bekerja. Matanya terpaku pada ekor pesawat yang perlahan hilang di balik awan.

Malamnya, Rafi belum bisa tidur. Ia duduk di meja kayu yang kakinya diganjal kertas supaya tidak goyang. Di samping tumpukan plastik manisan, buku Fisikanya terbuka pada halaman Hukum Bernoulli. Ia mencorat-coret kertas buram, mencoba memahami bagaimana udara bisa mengangkat beban seberat itu ke langit.

“Uhuk! Uhuk!”

Suara batuk Ibu dari kamar sebelah memecah kesunyian. Rafi meletakkan pulpennya yang tintanya sudah putus-putus.

“Belum tidur, Nak?” Ibu tiba-tiba sudah berdiri di dapur, memegang gelas kaleng berisi air hangat.

Rafi menunduk. “Lagi baca tentang sayap pesawat, Bu.” Ia ragu sejenak, lalu suaranya mengecil. “Tapi… kayaknya tidak mungkin, ya? Anak tukang manisan begini mau jadi pilot. Sekolahnya mahal sekali, Bu. Kayanya mimpi Rafi ini ketinggian, hampir menabrak puncak Gamalama.”

Ibu duduk di kursi plastik di depannya. Beliau tidak langsung bicara, hanya memegang tangan Rafi yang penuh luka gores kecil karena tali rafia.

“Ekonomi kita memang lagi di bawah, Fii. Tapi otak dan doa kamu tidak boleh ikut di bawah,” kata Ibu pelan, suaranya parau. “Tuhan itu tidak butuh melihat saldo tabungan kita untuk mengabulkan doa. Yang penting kamu kerja keras sampai tuntas. Jangan setengah-setengah.”

Rafi menarik napas panjang. Ia memejamkan mata sejenak, membayangkan dirinya duduk di kokpit, memegang kemudi, dan melihat hamparan awan dari dekat—bukan dari bawah seperti sekarang. Namun, bayangan itu cepat buyar begitu ia membuka mata dan melihat tangannya sendiri yang penuh goresan halus dan sisa lengket gula.

Besok paginya, seperti biasa, Rafi berangkat ke sekolah sambil membawa tas kain berisi manisan. Jalannya tidak jauh, tetapi cukup untuk membuat peluh kembali muncul di keningnya. Di gerbang sekolah, beberapa temannya sudah berkumpul.

“Fi, jual lagi?” tanya salah satu dari mereka.

Rafi mengangguk sambil tersenyum tipis. Ia sudah hafal nada itu; bukan sepenuhnya mengejek, tetapi juga bukan benar-benar mendukung.

“Rajin sekali. Tapi capek, kan?” timpal yang lain.

Rafi tidak menjawab. Ia hanya membuka tasnya dan mulai menawarkan jualan. Beberapa orang membeli, beberapa hanya melihat. Ada juga yang menawar terlalu rendah, seolah tidak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat satu bungkus manisan.

Di kelas, saat guru menjelaskan, pikiran Rafi sempat melayang. Ia menatap ke luar jendela, ke arah langit yang siang itu bersih tanpa awan. Dalam hatinya, ia bertanya pelan, apakah benar langit itu bisa menjadi miliknya suatu hari nanti?

Sepulang sekolah, ia tidak langsung pulang. Ia memilih duduk sebentar di bangku kayu dekat lapangan. Tasnya sudah lebih ringan, sebagian besar manisan sudah terjual. Ia menghitung uangnya pelan-pelan. Tidak banyak, tetapi cukup untuk menambah tabungan kecilnya. Angin sore bertiup pelan. Untuk sesaat, Rafi merasa tenang.

Di rumah, Ibu masih di dapur. Asap tipis naik dari tungku, dan suara kayu terbakar terdengar pelan.

“Laku, Fi?” tanya Ibu tanpa menoleh.

“Lumayan, Bu,” jawab Rafi. Ia meletakkan uang hasil jualannya di meja. “Nanti Rafi sisihkan untuk beli buku.”

Ibu akhirnya menoleh. Ada lelah di matanya, tetapi juga sesuatu yang lain—semacam harapan yang tidak pernah benar-benar padam.

“Makan dulu,” kata Ibu singkat.

Rafi duduk dan mulai makan. Sederhana, tetapi hangat. Di sela-sela itu, ia kembali teringat suara pesawat semalam. Entah kenapa, suara itu terasa seperti panggilan yang tidak mau hilang.

Malamnya, ia membuka lagi buku Fisikanya. Kali ini, ia tidak terlalu pusing dengan rumus. Ia mencoba membaca perlahan, memahami sedikit demi sedikit. Sesekali ia berhenti, lalu menulis ulang dengan bahasanya sendiri di kertas buram.

Di luar, langit gelap. Tidak ada pesawat yang lewat malam itu. Namun anehnya, Rafi tidak merasa jauh dari langit. Ia justru merasa sedikit lebih dekat, meskipun hanya satu langkah kecil.

Besoknya, Rafi sengaja memutar jalan sepulang sekolah. Ia berdiri di balik pagar kawat berduri Bandara Sultan Babullah. Bau bahan bakar yang menyengat malah membuatnya bersemangat. Bagi Rafi, itu adalah bau masa depan.

Ia sedang asyik memperhatikan teknisi di landasan ketika seorang pria berseragam pilot mendekat ke arah pagar, mungkin sedang menunggu jemputan. Kapten Ardi, begitu nama di dadanya.

“Jual apa itu, Dik?” tanya pilot itu sambil menunjuk tas kain Rafi.

“Manisan mangga, Capt. Mau coba?” Rafi menawarkan dengan gugup.

Kapten Ardi membeli dua bungkus, lalu memberikan uang lima puluh ribu rupiah. “Ambil saja kembaliannya. Beli buku atau apa saja yang berguna.”

“Terima kasih, Capt. Anu… Capt dulu sekolahnya susah, tidak?” tanya Rafi nekat.

Kapten Ardi tertawa kecil, matanya menyipit. “Saya dulu jualan ikan di pasar, Fi. Pakai baju sekolah yang warnanya sudah kuning karena tidak sanggup beli baru. Langit itu tidak punya pintu, jadi siapa saja boleh masuk. Yang penting jangan cepat menyerah kalau kena badai.”

Kalimat itu sederhana, tetapi bagi Rafi, itu lebih masuk akal daripada rumus fisika mana pun.

Tahun-tahun berikutnya adalah tentang tidur yang cuma empat jam sehari, jari yang kapalan karena manisan, dan buku-buku bekas yang halamannya sudah lepas. Sampai akhirnya, sebuah amplop besar datang. Rafi diterima di sekolah penerbangan lewat jalur beasiswa penuh.

Di dapur yang masih berbau asam manis mangga, Ibu menangis sesenggukan sambil memeluk surat itu. Di sana, di antara uap panci dan dinding dapur yang menghitam, sebuah mimpi akhirnya matang.

Rafi sekarang mengerti: langit memang tinggi, tetapi ia tidak pernah terlalu jauh untuk dicapai oleh kaki yang tidak pernah berhenti melangkah.

TENTANG PENULIS:

Putri Nandayani lahir di Tidore, 15 Agustus 2009. Saat ini, sang penulis duduk di kelas XI SMA Negeri 10 Kota Tidore Kepulauan. Dia tercatat sebagai finalis lomba menulis cerpen dalam FLS3N Provinsi Maluku Utara 2026. Selain menulis, siswa yang tinggal di Kelurahan Ome Kecamatan Tidore Utara ini juga hobi membaca dan mendengar musik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup