Renungan di Hari Merdeka: PAHLAWAN, antara KHIANAT dan ISTIQAMAH

Desain visual diolah melalui AI

Pernah menulis ini di bulan November tahun 2024. Saya tarik ke depan untuk jadi renungan di hari merdeka yang ke-81 tahun, 2026.

 

KETIKA  berada di bulan November.  Memori ku mengenang  satu hari yang oleh rakyat Indonesia diperingati sebagai hari pahlawan. Itulah tanggal 10 November 1945. Saat itu, Belanda dengan hasrat imperalismenya, membonceng Sekutu, ingin kembali menjajah Indonesia. Namun, Hasrat serakah ini disambut rakyat Indonesia di Surabaya dengan taruhan jiwa raga. Bung Tomo mengobarkan perang lewat corong RRI. Dan, rakyat memberi dirinya untuk mati. Mati demi tanah dan air dari negeri yang baru merdeka berbilang bulanan.

Tanggal 17 Agustus ke 10 November. Selang waktunya belum cukup 3 bulan.  Bandingkan dengan waktu 350 tahun lamanya kita terjajah. Kurang  3 bulan lamanya kita merdeka. Masih mau dijajah kembali. Lalu, penolakan atas ketamakan kaum penjajah inilah yang hari kejadiannya, dikeramatkan oleh bangsa sebagai hari pahlawan.

***

Pertanyaan besar bagi generasi hingga kini berkait dengan bilangan tahun kita terjajah, belum terjawab tuntas. Sejarah selalu beri tahu generasi, bahwa persatuanlah  penyebabnya. Penjajah bersatu dan kita bercerai berai. Mereka bahkan menggunakan kita untuk menyerang kita. Persis seperti kampak yang gagangnya terbuat dari kayu. Tapi, digunakan untuk menebang pohon. Tidak terlalu salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Karena, banyak fakta menunjukkan bagaimana gotong royong tercipta.  Saling bahu membahu, muncul.  Ada laskar berlabel etnik dalam pasukan perang kerajaan-kerajaan Nusantara. Bukti bahwa mereka sejak dahulu bersatu. Jadi, bila kita setuju pernyataan bahwa kita tidak bersatu. Maka, filosofi gotong-royong ini harus dikeluarkan dari identitas kebanggaan negeri. Juga berarti, mengingkari keagungan peradaban moyang kita.

Masalahnya menurut hemat saya adalah penghianatan. Inilah tabiat manusiawi yang menghinggap dan lengket pada keburukan kepribadian individu. Sangat buruk. Karena itu, hampir di semua bangsa dan komunitas, hukuman bagi penghianat adalah mati. Jiwa khianat “inlander” inilah yang menjadi gerbang dan dimanfaatkan kaum penjajah melalui politik devide et impera (pecah belah). “Inlander” adalah istilah merendahkan, antara lain karena mental khianat.

Selama sekolah di Eropa, saya baharu tahu adanya program bernama Services Militer. Karena itu, ada tentara Belanda yang dikirim ke sini kala itu, juga banyak pemuda mahasiswa wajib militer. Jumlah keseluruhan tentara ini tidaklah terlalu banyak. Ari Ginanjar bilang, cuma 15 kapal. Mengalahkan mereka, tentu tidak sulit. Menjadi berat karena pahlawan kita berperang melawan saudara sendiri yang bersekutu dengan mereka. Kita boleh baca fakta sejarah  ini di seantero negeri.

***

Lantas apa yang membuat orang berkhianat? Kurang lebih tiga elemen penting yang terwariskan hingga kini. Dia populer disebut Tiga TA.  Pertama, adalah harta dan atau materi (sogokan).  Kedua, adalah jabatan atau kedudukan (penjinakan).  Ketiga, perempuan atau wanita (bujukan syahwat).

Tiga ratus lebih tahun terjajah itu, lahirlah banyak pahlawan di sekitar. Akan tetapi, di sebelahnya muncul banyak penghianat yang membocorkan informasi perjuangan. Apalagi yang dicari kalau bukan harta dan tahta atau wanita.

Keadaan ini subur tumbuhnya karena ditopang karakter Orang Indonesia yang oleh Mochtar Lubis, disebutnya karakter perangko. Yaitu, Karakter menjilat dan menekan. Ketika masih orang kecil atau bawahan akan menjilat. Dan, kalau berkuasa akan menekan. Beliau ucapkan itu dalam pidato kebudayaan tanggal 6 April 1977, di Taman Ismail Marjuki. Mochtar Lubis adalah wartawan senior dengan prestasi mendunia. Salah satu atau satu-satunya manusia Indonesia yang peroleh penghargaan Magsaysay yang amat bergengsi, berkelas mondial itu.

***

Sesungguhnya godaan tiga TA itu, kita  temukan, jangankan pada manusia biasa. Nabi dan Rasul yang diutus Tuhan pun mengalaminya. Nabi Muhammad SAW  sebagai contoh, menolak dengan pernyataan yang sangat agung.  “Andai kata mereka mampu meletakan bulan dan matahari di tangan kanan dan kiri ku untuk agar aku berhenti menjalankan dakwah. Aku tidak akan perduli”. Inilah contoh konsistensi (baca: istiqamah) yang sangat mulia.

Sekarang, tinggal kita periksa kualitas individu kita semua dengan indikator ini. Bila kita temui diri kita, satu saat  sangat getol membela kebaikan dan memperjuangkan kebenaran. Tapi kemudian berubah, boleh jadi, spiritnya mengendor karena takut. Tapi, juga sangat mungkin karena  telah tersandera pada tiga soal itu. Harta, Tahta dan Wanita. Agama mengulasnya dengan kecintaan berlebihan pada dunia dan ketakutan pada kematian (Hubbud-dunya wa karahiyatul-maut).

Semogalah di Bulan Kemerdekaan ini,  lahir lagi manusia Indonesia yang bisa dipanuti dalam spirit inspirasi perjuangan. Teguh dalam prinsip. Jauh dari tabiat khianat. Dan, terus dalam kemuliaan ber-istiqamah. Caranya, didik generasi baru dengan ilmu dan etika. Lalu, lengkapi dengan keteladanan generasi lama (baca; orang tua, guru dan pemimpin).  Wallahu a’lam bish-shawabi.[]

 

 

Catatan Redaksi:

Penulis adalah Guru Besar Bidang Ekologi dan Pertanian di Fakultas Pertanian Universitas Tadulako (Untad).

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup