Cerpen: JEJAK YANG TERHUBUNG

Ilustrasi (via AI)

Karya: Frans Selanno

Beberapa pikiran berkelebat cepat di benakku. Rasanya seperti ada sesuatu; teriakan-teriakan itu memenuhi kepalaku. Dentuman tifa yang cepat, diiringi sesekali suara nyaring gong, terasa begitu jelas. Kaki dan kedua tanganku tak dapat diam. Lompatan-lompatan kecil berulang kali kulakukan, dengan parang di tangan kanan dan salawaku di tangan kiriku.

Perasaan aneh terus menyelimuti. Saat kesadaranku perlahan memudar, aku teringat akan sesuatu—tentang kisah masa laluku sendiri saat pertama kali menginjakkan kaki di desa ini.

Waktu terus berjalan. Sudah genap hai kedua sejak kedatangan mereka di sini, sebuah desa terpencil yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.

“Yang benar saja! Masa cuma untuk mendapatkan jaringan internet kita harus sedikit mendaki gunung? Sudah dua hari berlalu, dan ini sangat membosankan!” protes Azka kepada ayahnya.

“Baru juga dua hari, sudah terasa seperti seribu tahun tanpa internet saja,” ucap pria itu dengan sorot mata yang mulai mengecil di balik kacamata tebalnya. “Toh, masih ada empat hari lagi sebelum festival dimulai. Jarang-jarang Kakek menyuruh kita ke sini. Lagipula, selama ini kamu hanya mengenal dan berkomunikasi dengan Kakek lewat telepon saja. Ini kesempatan untuk lebih dekat dengannya.”

“Saat bersama Kakek, tiap obrolan terasa membosankan. Bagaimana aku bisa membahas tren kekinian, sementara ponsel Kakek saja hanya bisa digunakan untuk telepon? Itu pun hanya telepon suara,” gerutu Azka sebelum meninggalkan ayahnya sendirian di ruangan itu.

Karena merasa jenuh, Azka memutuskan untuk menelusuri isi rumah. Entah sudah berapa kali ia melakukan hal itu. Beberapa kali terdengar suara anak-anak di luar rumah, namun ia tetap acuh. Ia menganggap mereka ketinggalan zaman dan tidak bisa diajak berteman.

Di tengah penelusurannya, ia melihat sebuah ruangan di pojok rumah dengan pintu yang sedikit terbuka.

“Bukankah pintu itu selalu terkunci, ya?” gumamnya.

Dengan memberanikan diri, ia memutuskan untuk melihat isi ruangan itu. Saat memegang gagang pintu, rasa takut kembali muncul. Ia teringat pernah dimarahi ayahnya ketika sembarangan masuk dan mengacaukan ruang belajar sang ayah.

“Kali ini cuma sekadar melihat saja, aku tidak akan menyentuh apa pun,” janji Azka pada dirinya sendiri dengan suara lirih.

Saat pintu terbuka, ia tertegun. Ekspresi wajahnya berubah, matanya berbinar-binar. Terlihat sebuah benda yang mirip pedang, namun dengan bentuk gagang yang berbeda. Di samping pedang itu, tampak sebuah perisai berbentuk persegi panjang dengan bagian tengah yang sedikit mengecil atau melengkung ke dalam.

Saat mendekat, ia melihat pola-pola unik yang tergambar pada perisai itu. Hal tersebut membuat Azka ingin menyentuhnya. Namun, sebelum sempat ia melakukannya, terdengar alunan musik yang diikuti beberapa teriakan kecil dari luar. Ia kembali diam, fokus mendengarkan suara-suara itu. Rasanya aneh mendengar alunan musik yang indah berpadu dengan teriakan-teriakan lantang tersebut.

Azka pun mengurungkan niatnya untuk memegang perisai tadi. Saat berbalik, ia melihat beberapa pakaian dengan warna dominan merah terlipat rapi, berjajar di dalam meja kaca di samping pintu masuk. Namun, suara-suara dari luar lebih menarik perhatiannya. Ia menutup pintu ruangan itu rapat-rapat, lalu dengan langkah sedikit terburu-buru menghampiri sumber suara.

Sesampainya di sana, terlihat beberapa anak seusianya sedang membawakan sebuah tarian. Ia belum pernah melihat tarian seperti itu sebelumnya, dan ia menduga itu adalah tarian tradisional. Tak jauh dari situ, terlihat seorang pria tua yang renta dengan rambut yang hampir sepenuhnya memutih. Pria itu sedang menonton dengan sorot mata yang sulit dipahami.

Dengan langkah kecil, Azka mendekat dan duduk di sampingnya.

Melihat Azka yang akhirnya memberanikan diri untuk keluar rumah, Kakek hanya tersenyum tipis. Dengan suara yang lirih namun tegas, ia berkata, “Belakangan ini anak-anak sedang sibuk mempersiapkan diri untuk festival. Yang di depan mereka sedang latihan tarian, itu namanya Cakalele.”

Azka menatap para penari dengan kagum, namun dalam hatinya ia merasakan sesuatu yang aneh terhadap tarian itu. “Kenapa seperti perang?” Pertanyaan terhadap tarian tersebut akhirnya tak dapat ia tahan lagi.

Kakek termenung sebentar, kemudian mengangguk pelan. “Karena memang itu tarian perang. Para leluhur kita biasanya melakukan tarian itu sebelum berperang untuk melepas prajurit ke medan perang, atau menyambut mereka saat kembali dengan kemenangan. Benda yang terlihat seperti pedang dan perisai itu adalah parang dan salawaku yang merupakan lambang keberanian. Jika kamu lebih memperhatikan, terlihat ikat kepala yang mereka kenakan berwarna merah dan itu mempunyai maknanya tersidiri. Semua yang mereka pakai juga melambangkan hal yang sama.”

Azka terdiam sejenak, lalu bertanya, “Perisai mereka beda dengan yang di rumah… Kenapa?”

Kakek seketika terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar. Namun, sedetik kemudian ia memasang ekspresi seakan-akan sesuatu yang dinantikannya telah datang. Ia lalu tersenyum. “Kamu sudah masuk ke ruangan itu, ya?”

Mendengar tebakan Kakek, jantung Azka berdetak kencang, kemudian ia menunduk pelan.

Seakan mengerti dengan perubahan raut wajah Azka, Kakek kemudian berkata, “Jangan khawatir, Kakek tidak mempermasalahkan soal kamu yang diam-diam masuk ke ruangan itu. Salawaku di dalam ruangan adalah warisan yang telah diturunkan dari generasi ke generasi keluarga kita. Setiap keluarga punya cirinya sendiri, dan salawaku tersebut adalah ciri keluarga kita.”

Mendengar hal itu, raut wajah Azka seketika berubah. Ia merasa ada sesuatu yang selama ini terlewatkan. “Kenapa aku baru tahu sekarang?”

Kakek menghela napas dan menatapnya lekat. Ia kembali mengingat Noel, ayah Azka, ketika masih seusia cucunya itu.

“Ayahmu dulu sangat sibuk mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan sains. Ia lebih banyak membaca buku daripada mendengar cerita tentang budaya atau sesuatu yang diwariskan leluhur. Kakek tidak terlalu memaksanya. Menurut Kakek itu hal yang baik, mengingat anak-anak seusianya mempunyai hal yang mereka gemari. Bagi Kakek, mungkin membiarkannya tetap seperti itu untuk sementara waktu tidak apa-apa.”

Azka tetap mendengarkan. Beberapa pertanyaan masih ia simpan dalam diam karena melihat sorot mata Kakek yang mulai redup.

“Namun tanpa disangka-sangka, ternyata kebiasaannya itu tetap bertahan sampai sekarang dan banyak hal yang terlewat. Kakek tidak merasa menyesal karena terlambat mengenalkan sebuah budaya kepadanya. Kakek tetap berharap kalau suatu saat ia akan membuka hatinya untuk sesekali mengenal jejak budaya yang diwariskan keluarga kita,” terdengar suara Kakek yang sesekali terhenti setelah menyelesaikan beberapa kata.

Azka terdiam. Ada sesuatu yang bergerak dalam hatinya. Ia kembali menatap para penari, lalu berkata pelan namun mantap, “Aku ingin belajar, Kakek… Tolong ajari aku tarian itu.”

Empat hari berlalu, festival pun tiba.

Noel merasa heran. Sejak pagi, Azka tidak terlihat di rumah. Ia mengira anaknya sedang bermain di luar. Namun, saat pertunjukan dimulai, sebuah teriakan keras dan penuh semangat terdengar. Suara yang sangat ia kenal.

Di tengah arena, Azka berdiri di barisan depan, memimpin tarian sebagai kapitan.

Noel tertegun. Saat melihat wajah anaknya yang penuh kebahagiaan dan kebanggaan, ia menyadari sesuatu. Anak yang ia besarkan sejak kecil telah menentukan jalannya sendiri. Azka memilih mengikuti jejak sang kakek sebagai seseorang yang tetap menjaga budaya warisan leluhur—sesuatu yang tak dapat Noel lakukan saat seusia anaknya, bahkan sampai sekarang.

Pemandangan yang kini ia lihat telah menggoyahkan keyakinannya selama ini bahwa budaya hanya cukup dilihat, bukan dirasakan. Pipinya terasa lembap; tiupan angin sepoi-sepoi membuat air matanya terasa dingin. Selama ini, ia telah melewatkan hal yang begitu penting.

Sejak saat itu, mereka mulai belajar bersama. Bukan hanya mengenal budaya, tapi menjadi bagian dari budaya itu sendiri.

Dentuman gong masih sangat jelas mendekap di lamunanku. Tanpa kusadari, tarian yang kumainkan telah selesai, begitu juga dengan kilasan hidup seseorang yang sempat kurasakan tadi.

Aku kembali mengingat hal penting dalam cerita itu: bahwa sebuah tradisi dan adat akan tetap bertahan dan meninggalkan jejak bagi seseorang. Jejak tersebut akan memberi arah bagi mereka yang melupakan budaya leluhur.

Sekarang, jejak tersebut telah menjadi identitas diriku, menuntunku melewati zaman di mana budaya sudah jarang dikenal.[]

PROFIL PENULIS:

Frans Selanno, siswa kelahiran Tabobo, 8 Febnruari 2009 merupakan finalis lomba penulisan cerpen FLS3N Provinsi Maluku Utara. Saat ia duduk di kelas XII SMA Negeri 6 Halmahera Utara. Remaja yang tinggal di Lorong Indomaret Wari Ino, Kecamatan Tobelo ini memiliki hobi membaca buku.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup