Cerpen: SETITIK RAGU

Ilustrasi (via AI)

Karya: Khalista Hanum Alhadar

 Tumbuh di antara kebiasaan yang sama kerap membentuk cara pandang yang serupa—menerima tanpa kata, dan tak menyisakan ruang untuk bermimpi. Namun, Shaoly tak sepenuhnya larut dalam arus itu. Di balik segala keterbelakangan yang melingkupi, ia memelihara ambisi yang tak pernah padam. Sebuah bukti bahwa ia mampu menembus batas yang selama ini dianggap mustahil.

Dentingan cangkir kopi Baba ditemani sepiring pisang goreng panas lengkap dengan sambal, turut serta meramaikan suasana dini hari di rumah sederhana dengan dominasi kayu itu. Shao sibuk bergulat menyiapkan sayuran serta bahan lainnya untuk diolah. Sementara Yaya—sang ibu—memusatkan perhatian pada wajan besar di hadapannya, berisi olahan makanan untuk dijual nanti.

“Sudah siang, Yaya. Shao pergi sekolah dulu!” Teriakan Shao kala itu menjadi penanda matahari telah naik sepenuhnya.

Dari arah kamar, Shao menenteng ransel dan sepatunya, bersiap berangkat. Ditatapnya lamat-lamat cahaya mentari yang mulai menyeruak menyilaukan netra melalui celah-celah gorden rumah. Sang Yaya hanya berseru pelan dari arah dapur mengiyakan. Wanita itu masih terlalu sibuk menyiapkan dagangannya untuk nanti siang.

Tepukan keras pada bahunya sukses membuyarkan fokus Shao. Namun, hal itu tak ayal membuatnya mengalihkan atensi dari poster yang sedang ia amati di mading sekolah pagi itu.

“Ada apa? Kamu berminat mendaftar?” Kerutan pada dahi Meira jelas menggambarkan rasa penasarannya saat membaca kata demi kata pada poster pengumuman itu. Sebuah lomba menenun.

“Entahlah, aku bingung, Mei. Sejujurnya aku benar-benar tertarik. Karya tenun pemenang akan dibawa ke pameran internasional nantinya. Tapi kamu tahu sendiri bagaimana kondisi orang kecil sepertiku,” Shaoly akhirnya mengalihkan tatapannya ke arah Meira yang tengah membaca poster tersebut dengan seksama. Shao terkekeh pelan tanpa arti.

Meira tidak menjawab. Ia hanya membalas tatapan Shao dengan pandangan yang tak dapat diartikan.

Siang itu, Shaoly dan sang Yaya sudah tiba di pasar desa. Tempat mereka menjajakan berbagai masakan yang telah dibuat sedari dini hari tadi. Selepas pulang sekolah, Shao harus langsung bergegas mengganti pakaian dan menemani Yaya untuk berdagang di pasar. Selalu seperti itu.

Bergantinya langit menjadi jingga berupa tanda bahwa Shao dan Yaya telah kembali ke rumah. Shao duduk diam di teras, melanjutkan kegiatan favoritnya: menenun.

Meira datang tanpa diundang. Ia duduk tepat di samping Shao dan mengulurkan ponsel miliknya. “Daftar sekarang,” ujarnya menitah.

Shao menaikkan sebelah alisnya. Mengucap apa? tanyanya tanpa suara.

“Lomba menenun tadi, yang tak berhenti kau pandangi!” Meira makin bersikeras menyodorkan ponsel miliknya pada Shaoly.

“Kan sudah aku bilang, aku tidak akan bisa. Ponsel saja aku tidak punya, dan harus meminjam milikmu. Apalagi fasilitas lainnya, jelas aku kalah telak dari anak-anak lain di kota.” Shao mendorong sopan ponsel Meira, lalu kembali melanjutkan aktivitas menenunnya.

Meira berdiri dari duduknya, bersiap kembali pulang ke rumah—Yaya pasti juga gelisah bila anak gadisnya tak lekas pulang. “Baiklah, kabarkan aku bila kau berubah pikiran. Aku tahu kau mampu, Shao. Kesempatan seperti ini tak datang dua kali. Aku percaya padamu,” ucap Meira sebelum melangkah dan hilang dari pandangan.

Rasa dingin angin malam yang menusuk kulit tidak mengganggu aktivitas Shaoly dalam menenun. Terhitung sudah berjam-jam berlalu semenjak Meira pergi tadi. Tak kunjung letih pula Shaoly menenun bahkan setelah beraktivitas seharian penuh.

Netranya baru menggulir ke samping saat mencium aroma kopi panas, menyertai figur sang Baba yang duduk di sampingnya. “Ada apa Meira ke sini tadi?” selidik sang ayah sambil menyesap pelan kopi yang masih mengepulkan asap panas.

Shaoly menjelaskan segalanya kepada sang ayah, termasuk tentang kekhawatiran dan rasa ragu dalam hatinya.

“Coba saja.”

Shaoly menoleh, tak paham maksud sang ayah.

“Tak ada yang mustahil. Buktikan kamu mampu, Shao,” tutup sang ayah. Maka semenjak malam itu, Shao yakin ia harus memberi kesempatan untuk dirinya sendiri.

Bermula setelah hari di mana Shaoly mendaftarkan diri, aktivitasnya resmi bertambah satu: mempersiapkan karyanya untuk seleksi.

Selama mempersiapkan karyanya, berkali-kali pula Shaoly berperang dengan batinnya sendiri. Ia merasa ragu, takut, dan rendah diri terhadap fasilitas serta alat yang lebih memadai milik para lawannya. Namun, semua itu berusaha ia tepis. Shaoly berusaha percaya bahwa gagal bukanlah akhir dari segalanya. Ia masih dapat terus mencoba apabila menemui kegagalan sekalipun.

Kain tenun hasil kerja keras Shaoly telah berhasil terbentang gagah pada gantungan bambu di teras rumahnya. Untuk motif, Shaoly menggabungkan corak kuno Kesultanan Tidore dan filosofi budaya Tidore. Seperti Jodati (simbol ketulusan) yang motifnya menyerupai anyaman bambu. Tak lupa, Shaoly memberi detail kecil unsur kebudayaan lain masyarakat Maluku Utara di dalamnya.

Sebulan berlalu semenjak pendaftaran itu. Kini Shaoly duduk di ruang kelasnya, sibuk mencatat. Gebrakan keras pada mejanya sontak membuat Shaoly terperanjat dari duduk. Decakan kesal mengudara. Ia menatap nyalang kepada Meira, meminta penjelasan.

Meira malah sibuk meloncat-loncat kecil di tempatnya karena kesenangan. Dengan tangan sedikit gemetar, Meira menyodorkan ponsel miliknya ke depan Shaoly. “Lihat, kau lolos babak seleksi! Kau bisa lanjut ke tahap nasional!”

Siang itu, Shaoly melaju dengan bus yang mengangkut para peserta dari hotel tempat menginap ke lokasi lomba. Ia duduk di kursi samping jendela. Matanya berbinar gembira, senang akhirnya dapat melihat langsung Kota Jakarta. Gedung-gedung tinggi pencakar langit, kehidupan kota yang sibuk dan padat, serta para peserta lain yang terlihat begitu memukau.

Tak ayal, Shaoly merasa begitu kecil dibanding mereka. Ia hanya datang didampingi salah seorang guru di sekolahnya, sedangkan peserta lain didampingi pembina berpengalaman, bahkan hingga difasilitasi alat-alat mahal dan baru.

“Maluku Utara,” tutur Shaoly saat ditanyai asal daerah oleh panitia. Suaranya sedikit bergetar karena merasa kecil.

Namun, dalam hatinya ada secercah tekad dan keinginan. Ia ingin menunjukkan bahwa warga yang berasal dari desa terpelosok dan tak mampu sekalipun tetap memiliki potensi yang sama. Bahwa tak peduli dari mana ia berasal atau bagaimana latar belakangnya, Shaoly ingin percaya bahwa dirinya—atau bahkan semua orang—memiliki potensi yang sama besar. Shaoly sadar tidak seharusnya ia merasa kecil. Seharusnya ia bangga bahwa dengan segala keterbatasan yang dipunya, dirinya tetap bisa berada di tempat ini, bersanding dengan orang-orang yang dia anggap hebat.

Kini, tibalah hari pertarungan sesungguhnya dimulai. Tiap peserta diberikan lokasi yang luas dan nyaman untuk memulai agenda menenun mereka. Begitu hitungan mundur dimulai, para peserta dengan sigap langsung memulai aktivitas mereka.

Sedangkan Shaoly masih diam menatap lamat benang di tangannya, bertarung dengan isi pikirannya sendiri. Sebelum kemudian, ia berusaha meraih alat tenunnya, lalu perlahan mulai menenun.

Di awal gerakan, Shaoly masih kaku dan ragu, seolah tak mempercayai diri sendiri. Lalu perlahan, Shaoly mulai menemukan ritmenya. Ia mulai merasa seperti kembali menenun di rumah. Shao berhasil mengambil kendali penuh atas alat tenun tersebut, dan yang tersisa kini hanya dirinya dan kainnya.

Kini berhasil sudah terukir dengan jelas motif dan corak yang Shaoly pilih untuk karyanya kali ini. Untuk seleksi di tingkat nasional, Shaoly kembali menggunakan unsur terpenting dalam motifnya, yaitu corak kuno dari Kesultanan Tidore yang penuh akan nilai budaya. Lalu, ia mengombinasikannya dengan filosofi budaya Tidore, Marasante (Keberanian).

Lewat motif yang dipilih, Shaoly ingin merepresentasikan nilai luhur, keberanian, maupun semangat masyarakat Tidore dalam dimensi keseharian sosial mereka. Marasante juga menggambarkan semangat serta keberanian Shaoly untuk terus melangkah memperkenalkan warisan budaya daerahnya—tempat ia berasal dan tumbuh.

Hitungan mundur terdengar, waktu telah habis. Masing-masing peserta diminta mengangkat tangan dan meninggalkan hasil karya mereka di tempat. Shaoly menatap sekilas karya miliknya sebelum beranjak—tidak sempurna, namun cukup. Tidak sempurna, tetapi ia telah melakukan yang terbaik. Shaoly pun pergi dengan senyuman bangga yang terukir di wajahnya.

Pada malam pengumuman juara, Shaoly tidak banyak berharap. Terlebih saat posisi juara kedua dan ketiga sukses diraih oleh peserta lain, ia merasa tidak pantas bermimpi menduduki peringkat pertama. Namun, dugaan Shaoly keliru. Di layar pengumuman, tertulis jelas nama Shaoly dari Maluku Utara sebagai pemenang pertama lomba menenun tingkat nasional.

Karya Shaoly dan dua pemenang lainnya akan dibawa ke pameran internasional. Malam itu benar-benar menjadi momen yang tidak akan pernah ia lupakan. Rasanya bagai mimpi. Bahkan jika bisa, Shaoly ingin Meira mencubit pipinya sekeras mungkin untuk memastikan bahwa ia telah terjaga.

Shaoly kembali ke desanya dengan langkah yang sama, tetapi dengan jiwa yang lebih berani. Di tengah aroma kopi Baba, suara tumbukan sagu para tetangga, dan desis wajan sang Yaya yang menyiapkan makanan, ia kembali duduk di depan alat tenunnya. Tempat semuanya bermula. Kini, ia bukan lagi gadis penakut, melainkan seseorang yang telah membuktikan bahwa dirinya mampu.

Dari tangan yang dulu menenun dalam sunyi di pelosok, kini lahir karya yang melintasi lautan. Ia berhasil membawa Tenun Tidore menyapa dunia, membuktikan bahwa dari tempat paling jauh sekalipun, mimpi tetap mampu menemukan jalan untuk didengar.

Kini Shaoly tahu, yang selama ini menghalangi langkahnya bukanlah jarak ataupun keterbatasan, melainkan setitik ragu yang ia pelihara sendiri. Saat ragu itu runtuh, tidak ada lagi batas bagi mimpi untuk melangkah.[]

TENTANG PENULIS:

Khalista Hanum Alhadar adalah salah satu finalis lomba menulis cerpen dalam FLS3N Provinsi Maluku Utara 2026. Siswi yang kini duduk di kelas XII SMA Negeri 10 Ternate ini adalah pemenang lomba yang sama pada FLS3N Maluku Utara dan menjadi peserta  tingkat nasional pada 2025 dengan karya cerpen berjudul Setangkai Asa. Penulis kelahiran Ternate, 14 Desember 2008 menekuni dunia literasi sesuai hobinya: membaca dan menulis.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup