Etnoaljabar: Bagaimana Matematika Merumuskan Standar Warisan Budaya

Para dosen, guru, mahasiswa menyatukan spirit membangun literasi matematika usai diskusi etnoaljabar.

Dari Diskusi Momen International Women in Mathematics Day

Sore kemarin, sembilan orang perempuan tampak serius berdialog di sebuah kedai kecil yang dulu terkenal dengan Café Bacarita 2. Tak ada sound system dan banner event. Namun, narasi yang terangkai tentang etnoaljabar dari forum itu–tidak sekecil ruangan yang mereka gunakan.

Satu di antara sembilan perempuan itu adalah Dr. Ida Kurnia Waliyanti, S.Si., M.Sc. Dia didaulat sebagai pemantik diskusi dalam program kerja sama Prodi Pendidikan Matematika FKIP Unkhair dan portal berita MalutTrend.com.

Program “literasi matematika” ini dihelat bertepatan dengan momentum International Women in Mathematics Day, 12 Mei. Forum ini menjadi istimewa karena sang pemantik diskusi baru saja dinobatkan sebagai nominator Indonesian Women in Algebra 2026 oleh Indo-MS (Himpunan Matematika Indonesia) dan Indo-AS (Indonesian Algebra Society).

Dr. Ida Kurnia Waliyanti, S.Si, M.Sc bersama Dr. Ardiana, S.Pd, M.Pd, dua dosen matematika FKIP Unkhair dalam diskusi.

Ceritanya, beberapa hari sebelumnya, doktor lulusan Universitas Gadjah Mada ini sempat menyebut fokus penelitiannya saat ditanya dalam wawancara wartawan. Jawaban yang membuat penasaran itu adalah penelitian terhadap tualalipa—salah satu jenis topi adat di Kesultanan Ternate.

Begitu mendengar seorang doktor matematika murni sedang meneliti tualalipa, terasa janggal. Bagaimana relasi antara matematika dengan warisan budaya takbenda—wilayah kajian etnologi, cabang ilmu antropologi budaya?

Setelah memperoleh sedikit penjelasan, akhirnya penulis sepakat mengangkat tema diskusi “Etnoaljabar: Membedah Filosofi Tualalipa Lewat Logika Matematika”.

Bagaimana Doktor Ida menjadikan warisan budaya takbenda sebagai objek kajian ilmu aljabar? Dari diskusi yang diikuti sejumlah dosen, guru, mahasiswa, dan pemerhati literasi ini, terungkap bahwa ilmu matematika tidak selamanya terkait dengan bilangan, perkalian, dan sebagainya. Cabang ilmu aljabar, misalnya, bisa merumuskan standar suatu produk warisan budaya, baik benda maupun takbenda.

Bentuk-bentuk bangunan heritage, misalnya, dapat dibuat rumus matematikanya dengan mengkaji dari sudut pandang geometri. “Dari sifat-sifat garis, sudut, bidang, hingga ruang bangunan itu bisa diformulasikan menjadi rumus untuk standardisasi bangunan heritage tersebut,” tutur Dosen Matematika di FKIP Unkhair ini.

Dalam hal tualalipa atau jenis warisan takbenda lainnya seperti baju kurung, sadaria, dan lain-lain, rumusnya dapat digali dari filosofi di balik simbol, bentuk, ukuran, dan sebagainya.

“Jika ada sejumlah produk karya warisan takbenda seperti tualalipa yang berbeda, maka untuk melihat mana yang orisinal atau bukan, bisa didasarkan atas rumus,” tandasnya.

Nah, rumus itu sendiri lahir dari kajian filosofis terhadap objek warisan budaya (tualalipa), seperti lipatan kain dan sebagainya. Hal itu dilihat dari tahapan pengerjaan.

“Pendekatan etnoaljabar ini dapat memastikan bentuk orisinal dari model tualalipa. Apakah tualalipa asli itu bentuknya tinggi atau melebar? Dalam perumusan melalui pendekatan etnoaljabar, kita membutuhkan verifikasi dari sumber yang kredibel,” tutur Ida, seraya menambahkan, pendekatan etnoaljabar membuat rumus dari sudut lipatan pada setiap tahapan pembuatan dengan mengacu pada filosofi di balik produk itu.

 Ekspresi Matematika

Untuk busana adat bagi perempuan seperti baju kurung, Ida menyebut aljabar dapat merumuskannya dari makna filosofi berdasarkan jumlah kancing di lengan dan bentuk belahan pada bagian dada—baik untuk permaisuri, perempuan bangsawan, atau bala (rakyat biasa). Rumus itu menjadi standardisasi keaslian bentuk.

“Kalau produk pakaian adat yang kita temukan bentuknya berbeda—tidak sesuai rumus—maka produk itu tidak termasuk warisan budaya takbenda, atau bisa dikatakan tiruan,” tandas Koordinator KPA Indo-AS wilayah Indonesia Timur ini.

Pendekatan etnoaljabar ini juga dapat dilakukan untuk merumuskan warisan takbenda seperti gastrodiplomasi (makanan adat), alat musik tradisional, dan sebagainya.

Diskusi kecil di ruang yang kecil itu terasa luar biasa karena mampu membuka cakrawala berpikir tentang matematika, khususnya aljabar yang selama ini dipahami sebagai pelajaran angka-angka semata.

Para dosen, guru, dan mahasiswa yang menekuni studi matematika–termasuk pemerhati literasi yang mengikuti forum ini, sedikit terkesima. Ternyata, aljabar dapat mengubah masalah kompleks di luar angka-angka untuk dipecahkan sebagai ekspresi matematika.

Selebihnya, kajian-kajian aljabar menjadi objek literasi yang mampu menjadi magnet daya tarik studi bagi para pelajar, sekaligus mengubah citra matematika dari pelajaran yang membosankan dan tanpa ekspresi. (Ismit Alkatiri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup