BENDERA, PIALA DUNIA, EUFORIA DI KAMPUNG
bola sebagai ruang sosial…”
Jelang perhelatan Piala Dunia FIFA 2026, tepatnya 11 Juni – 19 Juli 2026, desa-desa di Maluku Utara mulai bergeliat, menguar spirit fanatisme, dipenuhi warna-warni bendera negara peserta Pildun.
Di jalan-jalan kampung, tiang bambu berdiri kokoh di atas rumah, di atas pohon, dengan kain bendera mencolok putih biru muda dan kuning keemasan Argentina, hijau kuning biru Brazil, biru navy, putih merah Prancis, merah hitam kuning emas Jerman, hingga merah kuning keemasan Spanyol berkibar meriah di langit kampung-kampung di wilayah Maluku Utara.
Fenomena ini bukan sekadar dekorasi biasa, melainkan penanda bahwa sepak bola telah menjadi bahasa sosial yang melintasi batas kota dan kampung. Dan, Piala Dunia (Pildun) selalu menghadirkan atmosfer unik.
Bagi masyarakat desa di Maluku Utara, (bahkan mungkin di Indonesia), turnamen ini tidak hanya tentang pertandingan, tetapi juga tentang kebersamaan, solidaritas, pengorbanan.
Warga berkumpul, baik di pos ronda, warung kopi, pasar, atau rumah tetangga yang memiliki televisi besar untuk menonton pertandingan bersama.
Kelompok anak dan remaja mulai menghafal nama pemain dunia, sementara para pemuda menghias gang dengan atribut negara favorit mereka.
Dengan suasana seperti itu, sepak bola berubah menjadi ruang sosial yang mempererat hubungan antarmasyarakat.
Euforia menuju Pildun 2026 bahkan mulai terasa jauh sebelum pertandingan dimulai. Berbagai media mencatat, ada program dan festival rakyat digelar untuk menyambut turnamen terbesar sepak bola dunia tersebut.
Media-media dengan penuh semangat, mengupayakan Pildun hadir hingga ke kampung-kampung sebagai bentuk energi positif bagi masyarakat dan generasi muda.
Sementara itu, media-media besar melalui programnya, berupaya membawa suasana pesta sepak bola ke seluruh penjuru Indonesia, termasuk wilayah-wilayah yang sebelumnya terbatas akses siarannya.
Fenomena pemasangan bendera negara peserta Pildun, sebenarnya memiliki sejarah panjang di Indonesia. Sejak era 1980-an hingga sekarang, masyarakat kampung selalu memiliki kedekatan emosional dengan tim-tim tertentu.
Brasil misalnya, identik dengan permainan indah dan penuh kreativitas. Lalu Argentina dianggap mewakili semangat perjuangan dan emosionalitas. Sementara, Italia dan Jerman dipandang disiplin serta kuat dalam bertahan.
Pilihan dukungan itu kerap diwariskan antargenerasi. Seorang ayah yang mendukung Brasil pada era Pelé kemudian menurunkannya kepada anak-anaknya pada era Ronaldinho atau Neymar.
Di banyak kampung, bendera negara bahkan menjadi simbol identitas kelompok. Satu lorong penuh warna Argentina, sementara lorong lain dipenuhi bendera Brasil, atau bendera Pildun lainnya. Persaingan ini, berlangsung dalam suasana bercanda, namun menciptakan dinamika sosial yang hidup.
Di sisi lain, anak-anak mengecat tembok dengan warna negara favorit, sementara pemuda membuat gapura bertema sepak bola.
Aktivitas semacam ini menunjukkan bahwa olahraga mampu membangun solidaritas sosial di tingkat akar rumput.
Bahkan, di Kota Tidore Kepulauan, bila ada pendukung tertentu dari negara peserta Pildun kalah, maka pendukung harus menjalani “ritual” kekalahan dengan menceburkan diri ke laut, baik tengah malam, atau pagi hari.
Di Ternate, dan mungkin beberapa wilayah di Indonesia memperlihatkan, bagaimana bendera negara peserta mulai dijual di pasar atau di pinggiran jalan jelang Piala Dunia 2026 nanti.
Beberapa warga misalnya, atribut Brasil, Jerman, Spanyol, dan Argentina menjadi yang paling banyak dicari masyarakat. Bendera besar itu, ada yang dipasang di kendaraan maupun depan rumah warga sebagai bentuk fanatisme terhadap tim favorit mereka.
Menariknya, euforia sepak bola di kampung-kampung tidak selalu berkaitan dengan kemampuan ekonomi. Banyak warga rela menyisihkan uang hanya untuk membeli bendera atau mengecat pos ronda dengan warna tim favorit. Ini menunjukkan, sepak bola memiliki kekuatan emosional yang besar.
Sepak bola, melalui pendekatan sosiologi olahraga, bekerja sebagai medium identitas kolektif sekaligus hiburan rakyat.
Olahraga menciptakan rasa memiliki terhadap komunitas global, meskipun masyarakat kampung berada jauh dari stadion-stadion megah di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026.
Selain itu, kehadiran bendera dunia di kampung-kampung, juga mencerminkan globalisasi budaya. Informasi tentang pemain, jadwal pertandingan, hingga desain bola resmi Pildun, kini mudah diakses melalui televisi dan media sosial.
Anak-anak di kampung-kampung dapat mengetahui perkembangan sepak bola dunia secara real time. Mereka mengenal klub-klub Eropa, meniru gaya selebrasi pemain, bahkan bercita-cita menjadi pesepak bola profesional.
Dengan konteks ini, Pildun menjadi ruang imajinasi yang menghubungkan kampung dengan dunia global. Namun, di balik kemeriahan tersebut, terdapat pesan penting tentang harapan.
Sepak bola menghadirkan mimpi kolektif bahwa suatu hari, Indonesia dapat tampil di panggung dunia.
Euforia masyarakat bukan sekadar tentang mendukung negara lain, tetapi juga tentang keinginan melihat Merah Putih berkibar di Pildun.
Karena itu, bendera dunia yang berkibar di kampung-kampung sesungguhnya tidak hanya menandai fanatisme olahraga, melainkan juga harapan sosial tentang masa depan sepak bola Indonesia. Wallahu’alam. []






