Road Show Ngofa Tidore di Jerman, Pejabat Kota Hamburg pun Batafi Puta Dino
MalutTrend.Com, TERNATE – Lebih dari dua pekan, Yayasan Ngofa Tidore road show di sejumlah kota di Jerman. Kehadirannya tidak sekadar memamerkan aneka motif tenun warisan budaya Kesultanan Tidore. Mereka juga menampilkan atraksi batafi (menenun) Puta Dino—menggunakan alat tenun tradisional di depan pengunjung.
Warkshop dan demonstrasi menenun itu dilaksanakan di beberapa tempat terpisah. Kegiatan pertama diawali di Kantor Konsulat Jenderal RI Hamburg, Kamis (30/4). Kegiatan ini tak hanya menyedot perhatian pengunjung, Dr. Alexander von Vogel, State Councillor for Energy at the Authority for Environment,Climate, Energy and Agriculture pun ikut batofi Puta Dino.
Anggota Dewan Negara Urusan Energi pada Otoritas Lingkungan, Iklim, Energi, dan Pertanian yang mewakili Pemerintah Kota Hamburg ini bahkan menunjukkan ketertarikan terhadap Puta Dino yang mengusung berbagai motif nilai-nilai kearifan lokal.
Road show Yayasan Ngofa Tidore di Jerman kemudian dihelat di Braunschweig—kota terbesar kedua di Jerman bagian utara yang merupakan pusat sains dan riset. Selama 2 pekan di Jerman, misi budaya yang dipimpin Owners Puta Dino, Anita Gathmir Kaicil juga tampil memenuhi undangan salah satu universitas di Berlin. Kegiatan diakhiri pada acara Bulan Indonesia Hamburg di Salon Matahari Hamburg, 8 Mei kemarin.
Owners Puta Dino Kayangan, Anita Gathmir Kaicil yang dihubungi MalutTrend.Com melalui jaringan WhatsApp menjelaskan kehadirannya di Jerman itu dalam rangkaian Lange Nacht der Konsulate 2026 yang diprakarsai Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hamburg.
Berbeda dengan penampilan Puta Dino di beberapa negara sebelumnya dengan hanya ekspo kain dan fashion show. “Kali ini kita membawa benang, alat, dan penenun yang langsung memproduksi berbagai motif Puta Dino di depan pengunjung,” ujar Anita.
Selain Puta Dino, event yang mengusung tema Vibrant Spirit of Indonesia’s Eastern Archipelago ini, KJRI Hamburg menghadirkan Indonesia Timur ke jantung kota Hamburg melalui beragam kekayaan budaya dari Maluku, Maluku Utara, hingga Nusa Tenggara Barat.
Pengunjung juga disuguhkan pertunjukan musik dan tari, presentasi budaya, serta berbagai kuliner khas Indonesia Timur.
Hadirkan Nilai Kearifan Lokal KTI
Dalam rilis KJRI Hamburg, event itu juga menghadirkan aspek sejarah dan nilai kearifan lokal Kawasan Timur Indonesia (KTI) lainnya. Di antaranya kisah Markus Mailopu, figur asal Maluku yang terlibat dalam ekspedisi ilmiah bersama Georg Eberhard Rumpf, ilmuwan Jerman serta berkontribusi dalam pengumpulan pengetahuan lokal–jejak awal interaksi antara Indonesia dan Jerman.
Selain itu, narasi jalur rempah juga menjadi bagian dari kegiatan agenda tahunan KJRI Hamburg ini. Konsul Jenderal RI di Hamburg, Renata Siagian, menekankan bahwa Indonesia Timur tidak hanya penting dalam sejarah global melalui perdagangan pala dan cengkeh, tetapi juga mencerminkan praktik keberlanjutan (sustainability) yang telah lama hidup di masyarakat melalui tradisi.

Workshop di Universitas Humboldt Berlin
Selama di Jerman, Owners Puta Dino Kayangan juga mendapat kesempatan hadir di Universitas Humboldt Berlin. “Kami diundang Esie Hanstein, Lektor Bahasa Indonesia dari Institut Studi Asia dan Afrika (IAAW) di universitas itu,” tutur pelaku UMKM sekaligus desainer ini.
Kegiatan di Universitas Humboldt ini juga dihadiri Ronius Marjunus Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Berlin, Ronius Marjunus.
Puta Dino Goes to Campus Internasional ini ditandai dengan kegiatan bertema “Die Weberinnen von Tidore” (Para Penenun dari Tidore) yang diselenggarakan di Universitas Humboldt Berlin, Jerman yang dikemas melalui kegiatan lokakarya dan demo menenun.
Di forum kampus internasional ini, pendiri Rumah Produksi Puta Dino Kayangan menghadirkan identitas budaya sekaligus menciptakan narasi sejarah terkait pelestarian Tenun Tidore yang sempat tenggelam selama 1 abad. Ia tampil di hadapan para akademisi dan mahasiswa dari berbagai negara yang studi di kampus tersebut.
Selain itu, para penenun juga mendemonstrasikan proses pembuatan kain tradisional menggunakan alat tenun khas di ruang kelas. Para peserta lokakarya ini terkesima dengan teknik tradisional serta warna-warni benang yang menggunakan natural dyes (pewarnaan alami).
Tak kalah seru, forum itu juga menampilkan praktik langsung peserta yang melibatkan mahasiswa dan pengunjung dari berbagai negara melalukan batafi helai-helai benang pada alat kayu yang sederhana.

Puta Dino di Salon Matahari Hamburg
Puta Dino juga tampil di Salon Matahari Hamburg dalam rangkaian Bulan Indonesia 2026.
Menurut Anita Gathmir Kaicil, Bulan Indonesia 2026 di Hamburg ini merupakan event yang di-support KJRI Hamburg dan dilaksanakan bersama antara IKAT Agentur Indonesisches Kultur Agentur Team) dan Deutsch Indonesische Gesellschaft (Perhimpunan Persahabatan Jerman Indonesia).
Kegiatan Bulan Indonesia ini akan berlangsung hingga 8 Juni 2026 mendatang. Puta Dino tampil sehari dalam event ini dengan memamerkan berbagai motif khas Puta Dino yang sarat dengan nilai-nilai filosofi, ekspresi budaya, dan pesan sejarah Tidore.(*)
Laporan: Ismit Alkatiri





