Hari Ini dalam Sejarah; Letusan Tambora di NTB Ubah Iklim Global di Eropa, Gemuruhnya Juga Terdengar di Ternate

Infografis Fenomena Letusan Gunung Tambora (diolah menggunakan notabooklm)

MalutTrend.Com, TERNATE – Hari ini, 211 tahun lalu, letusan dahsyat Gunung Tambora di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada 10 April 1815, mengguncang dunia. Peristiwa ini tercatat sebagai salah satu erupsi paling mematikan dalam sejarah, menewaskan puluhan ribu jiwa. Erupsinya juga memicu perubahan iklim global yang dikenal sebagai “tahun tanpa musim panas.”

Berbagai sumber sejarah menyebutkan, letusan Gunung Tambora pada Senin, 10 April 1815 itu merupakan letusan gunung berapi yang paling kuat dalam sejarah. Indeks Daya Ledak Vulkanik mencapai level 7.

Letusan gunung ini disebut 4 kali lebih kuat dibanding letusan Gunung Krakatau pada 1883. Gunung setinggi 4.300 meter itu—puncak tertinggi di Indonesia saat itu—pasca letusan tingginya hanya 2.851 m.

Dari berbagai catatan mengungkapkan, gunung api yang sebelumnya disebut dengan “gunung tidur” itu awalnya bergemuruh dan mengeluarkan asap hitam sejak 5 April 1815. Suara gemuruh itu terdengar di Makassar, Pulau Jawa, bahkan sampai di Ternate yang berjarak 1.400 Km.

Pada  10 April yang merupakan puncak letusan, gemuruh Gunung Tambora terdengar hingga di Pulau Sumatera yang berjarak 2.600 Km. Tambora mulai mulai memuntahkan lahar pada malam harinya. Tiga lajur api terpencar dari dan bergabung hingga seluruh punggung Tambora menjadi aliran piroklastik (campuran material vulkanik super panas berupa gas, abu, pasir, dan batu) yang memusnahkan desa Tambora.

Puluhan Ribu Korban Jiwa

Korban jiwa akibat letusan Tambora ini dilaporkan mencapai puluhan ribu jiwa. Selain terdampak langsung, warga yang meninggal di Pulau Sumbawa, Lombok dan Bali pasca letusan disebabkan kelaparan dan penyakit endemik.

Data korban jiwa akibat dampak langsung dan kelaparan serta wabah penyakit dilaporkan dalam beberapa versi yang berbeda. Namun diperkirakan sekitar 49 ribu hingga lebih 90 ribu nyawa melayang akibat letusan itu.

Heinrich Zollinger, ahli botani dan naturalis Swiss yang mendokumentasikan dampak letusan Gunung Tambora memperkirakan sekitar 10 ribu korban jiwa akibat aliran piroklastik. Dia menyebut di Pulau Sumbawa terdapat 38 ribu kematian akibat kelaparan, dan 10 ribu lainnya meninggal akibat penyakit.

Sementara Vladimir Alexandrovich Petroeschevsky, ahli vulkanologi Rusia yang melakukan pengamatan lapangan terhadap letusan Tambora menyebutkan jumlah kematian mencapai 92 ribu jiwa terdiri dari 48 ribu orang di Sumbawa dan 44 ribu orang di Lombok.

Perubahan Iklim Global

Yang menarik adalah bahwa fenomena alam yang terjadi 211 tahun itu, hingga kini masih menjadi bahanpenelitian para ahli. Salah satu penyebabnya adalah adanya perubahan iklim global, akibat abu gunung sampai ke Eropa.

Karena banyaknya abu vulkanik yang disemburkan Tambora, sebagian wilayah di Eropa mengalami fenomena “tahun tanpa musim” akibat matahari terhalang. Fenomena ini bukan hanya terjadi saat erupsi 1815 melainkan selama setahun berjalan.

Para ahli menyebutkan, sejak meletus hebat pada 10 April 1815, terjadi  peningkatan kepulan abu hingga tiga tahun. Bumbungan letusannya menurunkan suhu global atau pendinginan global dan berdampak pada gagal panen di seluruh dunia pada 1816 atau “tahun tanpa musim panas”.(@ba_is/dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup