Irfan Ahmad; “Pemandu Jejak Malut” Itu Berpulang
MalutTrend, TERNATE – Malam tadi, kabar duka tiba-tiba datang menyelinap, mengetuk ruang percakapan group WhatsUpp dan Facebook oleh para akademisi, pegiat literasi, dan mereka yang berkelindan dengan dunia gagasan di Maluku Utara. Irfan Ahmad, SS, MA—sejarawan, akademisi, sekaligus pegiat literasi—berpulang pada Selasa malam, 7 April 2026, pukul 23.45 WIT.
Kepergian itu terasa mendadak. Di usia yang baru 43 tahun, Irfan masih tampak aktif, hadir dalam forum-forum diskusi, dan terus menulis. Tak banyak yang menyangka bahwa aktivitas intelektual yang begitu hidup itu akan terhenti dalam sekejap, menyisakan duka yang dalam.
Di mata banyak orang, Irfan Ahmad bukan sekadar dosen pada Fakultas Ilmu Sejarah dan Budaya, FIB Universitas Khairun. Ia adalah “Pemandu Jejak Malut”—sebuah sebutan yang lahir dari konsistensinya menelusuri, merawat, dan membagikan narasi sejarah serta budaya Maluku Utara. Melalui platform digital JejakMalut yang ia bangun, tulisan-tulisan di media massa, hingga unggahan reflektif di media sosial, dia selalu menghadirkan sejarah bukan sebagai sesuatu yang jauh dan kaku, melainkan terasa hidup dan bermakna.
Beberapa hari terakhir sebelum kepergiannya, jejak digital Irfan justru memperlihatkan intensitas kepedulian yang kian dalam. Empat hari sebelum wafat, ia masih sempat menggagas ruang diskusi digital dengan membentuk grup WhatsApp Balai Jakofi. Forum maya ini diinisiasinya sebagai ruang berbagi informasi tentang literasi, diskusi, kegiatan kebudayaan, dan berbagai kegiatan positif lainnya yang bermanfaat. Ia juga hadir dalam forum diskusi komunitas Jokofi, berdialog, dan menyemai semangat literasi.
Di laman media sosialnya, ia menuliskan refleksi tentang kebaikan—terinspirasi dari nasihat seorang guru yang ia hormati. Di bagian akhir tulisannya, ia menutup dengan kalimat yang kini terasa seperti pesan perpisahan: “Semoga torang semua dalam keadaan sehat dan terus berbagi untuk kebaikan.”
Lebih jauh, dalam sepekan terakhir, Irfan juga kerap mengunggah pesan-pesan tentang pentingnya hidup tenang dan damai dalam kebersamaan. Keprihatinannya terhadap konflik sosial yang terjadi di Halmahera Utara dan Halmahera Tengah menjelma menjadi seruan moral yang lembut, namun tegas: bahwa sejarah seharusnya menjadi pelajaran untuk merawat harmoni, bukan alasan untuk mengulang luka.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, sebelum berpulang, almarhum sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit TNI selama beberapa hari. Namun takdir berkata lain.
Kini, sosok yang selama ini memandu banyak orang menelusuri jejak masa lalu itu telah menapaki perjalanan yang tak kembali. Ia pergi meninggalkan ruang-ruang diskusi yang pernah ia hidupkan, tulisan-tulisan yang akan terus dibaca, dan ingatan kolektif yang telah ia rawat dengan penuh dedikasi.
Selamat jalan, Sang “Pemandu Jejak Malut”.
Engkau mungkin telah pergi, tetapi jejak yang engkau tinggalkan akan terus menyala—dalam kata, dalam ingatan, dan dalam semangat orang-orang yang kau inspirasikan. Seperti yang pernah engkau tulis, “Tinta kebaikan tak pernah kering, ia akan terus hidup dalam tulisan.” (@ba_is)












