Siang Ngajar, Malam Jualan; Bagi Beras Tiap Minggu ke Sorofo
46 Tahun Aksi Kemanusiaan DR (HC) Al Habib Abubakar, Menembus Batas Negara (1)
(HC) Abuya Al Habib Abubakar bin Hasan Al-Attas Az-Zabidi adalah sosok ulama di Indonesia yang tak hanya melakukan dakwah konvensional. Sejak masih belia, Abuya—sapaan akrab ulama lulusan Mesir-Tarim-Madinah itu sudah melakoni kehidupannya dengan kegiatan kemanusiaan. Berikut catatan ISMIT ALKATIRI dari berbagai sumber informasi.
Kepedulian sosial secara fokus itu berjalan ketika Abuya memulai aktifitas dakwah dan mengajar di Alkhairaat Ternate pada 1980. Siang mengajar, malamnya berjualan barang di depan Bioskop Benteng. Abuya menyisihkan uang hasil dagangannya. “Setiap hari Ahad saya beli beras 100 kg pada setiap Minggu lalu mengantar ke Sorofo ditemani Hafid Bin Usman dengan naik angkot. Berat itu diserahkan kepada salah seorang penyandang untuk dibagikan kepada para penyandang kusta di Sorofo,” tutur Abuya mengenang.
Beras seberat 100 kg itu diturunkan dari angkot oleh Abuya dan Hafid Bin Usman lalu diantar ke rumah salah seorang penyandang kusta yang paling tua di Kampung Sorofo yang rumahnya berada di ujung kampung.
Selama 3 tahun, aksi Abuya–saat itu dikenal dengan sapaan Ustadz Abubakar—tidak pernah diketahui publik. Tidak ada publikasi media, tidak ada cerita dari mulut ke mulut oleh para tetangga atau kenalannya. Eksistensi Abuya ketika itu hanyalah seorang ustadz yang siang mengajar, malam jualan.
Suatu saat, dr Mohammad Al Habsy dan beberapa koleganya sesama dokter sempat memperbincangkan langkah Abuya tersebut. “Waktu itu saya bilang sudah 3 tahun ini saya kesulitan karena tidak ada dukungan Bupati Kabupaten Maluku Utara maupun DPRD. Saat itu media juga tidak pernah mengangkat isu ini,” tuturnya.
Bantuan Makanan untuk 6.300 Pengungsi
Pada 1983, saat Gunung Gamalama meletus dalam skala besar. Sekitar 6.300 warga mengungsi dari wilayah yang terkena dampak hebat. Rumah, tanaman, dan ternak milik warga di daerah terdampak itu lenyap. Warga dominan mengungsi di sekitar Kedaton Kesultanan Ternate.
Saat mengetahui para pengungsi kesulitan memperoleh bahan makanan, Abuya kemudian terjun menggerakan aksi kemanusiaan. Dengan bermodalkan beras, Abuya dibantu ibu-ibu tetangga membuat makanan dalam beberapa kelompok dan kemudian mengantarkan kepada para pengungsi.
“Ketika itu, semua toko tutup. Banyak yang mengungsi ke luar daerah. Ikan sulit, telur juga susah didapat. Setiap hari sejak jam 3 subuh, sekitar 20 orang ibu-ibu memasak bubur, campur dengan ikan seadanya. Mereka datang membawa panci yang dipinjam dari tetangga. Ada yang memberikan sepotong ikan, telur, ikan garam, ikan teri. Semua dicampur dan dimasak dengan bubur,” kenang Abuya saat silaturahmi dengan Sultan Ternate Hidayatullah Sjah, S.T.P, M.T.P bersama Permaisuri Boki Alwia Annisa Hidayatullah Sjah, di kediaman Abuya di Kampung Tengah, Kelurahan Gamalama, Sabtu (7/3/2026).
Ribuan pengungsi ini tinggal di lapangan kompleks Kedaton tanpa tenda.”Tidak ada n satu putenda untuk mereka (pengungsi) dan pemerintah daerah saat itu tidak membangun tenda sama sekali. Juga saat itu tidak ada bantuan dari TNI yang notabene punya stok tenda,” papar Abuya.
Aksi kemanusiaan Abuya saat itu menjadi liputan utama media lokal di Maluku. “Tetapi ada yang menarik saat itu. Saya bertanya-tanya kenapa aksi ini tidak mendapat dukungan pemerintah. Rupanya saya dicurigai membawa misi PPP. Sementara saya sendiri tidak didukung para tokoh PPP karena mereka menganggap saya membawa misi Golkar. Keduanya saling curiga, namun saya tetap jalan dengan dukungan masyarakat yang peduli,” tandas Abuya.
Menurut Abuya, aksi ini disokong ibu-ibu. Saat aktifitas jual beli tidak berjalan karena warga mengungsi dan pasar tertutup debu, ibu-ibu yang terlibat dengan aksi ini selalu datang membawa beras. “Ada yang bawa seliter, dua liter, dan lima liter. Ada yang bawa udang kering, satu dua butir telur. Mereka bekerja sampai jam 6 pagi. Lalu datang tim ibu-ibu yang bawa sayur, bawang, ikan asin lalu masak dan ditambah ke bubur di dalam kuali-kuali besar,” tutur Abuya.
Beberapa waktu kemudian, aksi kemanusiaan ini mendapat dukungan warga dari luar Ternate, seperti Tidore, Jailolo dan Bacan. “Mereka kirim ikan, sayur, beras, telur, dan lain-lain. Kegiatan ini berlangsung hampir 3 bulan lamanya sampai akhirnya pada pengungsi berangsur kembali ke kampung masing-masing,” pungkas Abuya.(bersambung)











