Hadirkan Atmosfir Sakral; Kedaton Kesultanan Ternate Bermandikan Cahaya di Malam Lailatul Qadar
MalutTrend.Com, TERNATE — Menjelang malam 27 Ramadan 1447 Hijriah yang diyakini sebagai salah satu waktu turunnya Lailatul Qadar, kawasan Kedaton Kesultanan Ternate bakal kembali bermandikan cahaya. Ribuan obor dipastikan menyala dalam Festival Malam Ela-ela, tradisi sakral yang sarat dengan nilai budaya dan spiritual.
Festival tersebut dijadwalkan berlangsung pada Senin malam (16/3/2026), di lingkungan Kedaton Kesultanan Ternate. Perhelatan ini akan diikuti masyarakat adat Ternate, berbagai komunitas etnik Nusantara, organisasi kemasyarakatan, serta warga umum yang ingin menyaksikan salah satu tradisi khas Ramadan di daerah ini.
Festival Ela-ela 2026 merupakan kolaborasi antara Kesultanan Ternate, Pemerintah Provinsi Maluku Utara, Pemerintah Kota Ternate, dan komunitas Pemuda Ternate Bersatu (Peteratu).
Wakil Gubernur Maluku Utara Sarbin Sehe dijadwalkan membuka secara resmi kegiatan tersebut bersama Sultan Ternate, Hidayatullah Sjah, .S.I.P, M.T.P.
Bagi masyarakat Ternate, Festival Ela-ela bukan sekadar seremoni tahunan. Tradisi ini telah lama menjadi bagian dari ritual keagamaan di penghujung Ramadan, yang merepresentasikan harapan umat Islam untuk menyambut malam penuh kemuliaan, Lailatul Qadar, dengan suasana yang khusyuk dan penuh cahaya.
Ketua Panitia Festival Ela-ela 2026, Forasman Khairudin, menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan akan dimulai dengan tausiah tentang keistimewaan malam Lailatul Qadar. Setelah itu, peserta akan mengikuti buka puasa bersama dan salat Magrib berjamaah.
“Usai rangkaian ibadah seperti Tausiah Kemuliaan Lailatul Qadar, buka puasa bersama dan shalat magrib berjamaah, acara dilanjutkan dengan prosesi pemasangan ela-ela, kemudian ritual sakral Kabasarang Uci, dan ditutup dengan ramah tamah,” kata Forasman, yang juga Ketua Peteratu.
Ia menambahkan, Festival Ela-ela merupakan tradisi turun-temurun yang terus dikawal oleh para penjaga adat Se Atorang dan Istiadat Se Kabasarang di Kesultanan Ternate.
Untuk menjaga nuansa tradisi tersebut, kawasan Kedaton tidak hanya diterangi obor. Cahaya api juga akan berasal dari damar—getah pohon yang dibakar di atas batang pisang—sehingga menghadirkan suasana temaram khas yang menjadi ciri perayaan Ela-ela sejak dahulu.
Menurut Forasman, festival ini terbuka bagi masyarakat luas. Warga diharapkan dapat hadir untuk merasakan atmosfer sakral sekaligus memperkuat rasa kebersamaan di bulan suci Ramadan.
“Ini bukan hanya ritual adat, tetapi juga momentum mempererat silaturahmi masyarakat,” ujarnya.
Di bawah cahaya ribuan obor yang menyala sepanjang malam, Kedaton Kesultanan Ternate kembali menjadi ruang perjumpaan antara tradisi, spiritualitas, dan ingatan kolektif masyarakat yang terus menjaga warisan leluhur.(@ba_is)











