Apresiasi Program Pelestarian Bahasa Ternate, Prof Gufran Ajak Hidupkan Bahasa Daerah dari Rumah
MalutTrend.com, TERNATE – Guru Besar Antropolinguistik, Prof. Dr. Gufran Ali Ibrahim, MS memberi apresiasi kepada 3 lembaga lintas sektoral di Maluku Utara yang memformulasi program pelestarian bahasa Ternate melalui konten website dan gerakan aksi di masyarakat. Namun, mantan Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan itu mengajak orang tua dan keluarga untuk menghidupkan bahasa daerah di rumah dan di kampung sendiri.
Ia menyatakan, bahasa daerah di Maluku Utara tergerus kemudian punah di dalam rumah dan di kampungnya sendiri. “Jadi, kita harus belajar dan menghidupkan bahasa sendiri di rumah sendiri dan di kampung sendiri. Cara terbaik menghidupkan bahasa daerah adalah yaya se baba iyo se nongoru hari-hari pakai bahasa daerah di rumah dan di kampung,” tuturnya.
Seperti diketahui, program 3 lembaga yakni Kesultanan Ternate, Balai Bahasa Provinsi Maluku Utara, dan media siber MalutTrend.com merupakan upaya konkret untuk menyelamatkan kekayaan linguistik daerah dari ancaman kepunahan. Sinergi kolaboratif antara otoritas kultural, otoritas kebahasaan, dan otoritas media ini diwujudkan melalui peluncuran program bertajuk Kie Se Gam: Pelestarian Bahasa Ternate Berbasis Digital. Rencana program tersebut dibahas secara mendalam dalam forum diskusi terpumpun yang dilaksanakan di Pandopo Lamo Kedaton Kesultanan Ternate, Jumat (9/10/2026) sore.
Terkait program ini, konten berupa teks, infografis, dan audio-visual berbahasa Ternate akan dielaborasi melalui berbagai metode untuk ditayang di media siber. Kegiatan ini bakal diintegrasikan dengan Gerakan aksi baik berbasis sekolah maupun kampung dengan sasaran generasi muda dan para penutur asli bahasa Ternate.
Prof Gufran sendiri mengingatkan, pentingnya pelestarian bahasa Ternate yang bersentuhan langsung dengan aktivitas keseharian generasi muda di ruang informal akan jauh lebih efektif bagi pelestarian bahasa daerah.
“Kalau cuma digitalisasi, dokumentasi, dan bawa ke panggung-panggung lomba di kota-kota, bahasa daerah hanya menjadi etalase. Sementara itu, di kampung-kampung tempat bahasa daerah sebagai bahasa ibu itu hidup, terus tergerus dan kemudian punah,” jelasnya.
Kegagalan Mulok Bahasa Daerah di Sekolah
Mantan Rektor Univesitas Khairun ini juga menyoroti soal muatan lokal, “Kalau mau jujur, pelajaran muatan lokal bahasa daerah di sekolah lebih banyak gagal ketimbang suksesnya. Padahal, APBD sudah banyak dikeluarkan untuk hal ini. Tentu saja sebab kegagalan mulok bahasa daerah di sekolah tersebut tidak tunggal. Ada model/metode belajar, kurikulum, kompetensi dan latar belakang akademik guru, pendanaan, dan keragaman latar belakang sosial siswa di kelas,” tambahnya seraya menambahkan, apalagi kalau mulok bahasa daerah tersebut ada di sekolah-sekolah di kota yang memang siswanya beragam.
Ia menekankan, revitaliasi bahasa daerah atau bahasa ibu bukan menambah jumlah penutur, melainkan memastikan bahasa tersebut dapat ditransmisikan dari generasi ke generasi penutur jati. “Ini berbeda dengan belajar bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional atau belajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing: untuk menambah kemahiran dan untuk mengembangkan kecakapan siswa,” pungkasnya.(@ba_is)












