15 Menit Menyaksikan Ritual “Reno Saya” di Pandopo Bala

Aktivitas para abdi dalam melakukan "Reno Saya" di Pendopo Lamo Kesultanan Ternate

MalutTrend.Com, TERNATE — Esensi ritual ratusan tahun dari para perempuan abdi dalem Kesultanan Ternate terangkum dalam film Tradisi Reno Saya yang ditayangkan selama 15 menit di Pandopo Bala, Sabtu (26/9/2026) malam tadi. Bukan sekadar mendokumentasikan kehadiran bunga rampai untuk ritual, film ini memotret praktik mengiris halus aneka bunga dan daun pandan sebagai bagian dari ritual itu sendiri.

Secara lahiriah, 4 perempuan berusia lanjut yang ada dalam film dokumenter itu melakukan aktivitas rutin yang lazim dilakoni setiap 3 kali dalam seminggu, Ahad, Rabu, dan Kamis. Mereka menyiapkan bunga rampai untuk digunakan dalam ritual rutin termasuk ziarah ke makam para sultan dan aulia lainnya. Namun dari aspek rohaniah, mereka menjalankan ritual yang menghubungkan keharuman ciptaan Khaliq dengan manusia dan alam gaib melalui bunga rampai yang sarat makna filosofis.

Tak heran, ke-4 perempuan ini mengiris bunga tidak seperti dilakukan orang pada umumnya. Ada tahapan yang ritmis sejak pagi hingga sore ketika bunga rampai siap diletakkan di tempat khusus dan ditabur di makam. Begitu pula dengan pakaian yang dikenakan yakni baju kurung putih dan konde (sanggul). Demikian halnya tempatnya yang tak pernah berpindah di sisi utara Pandopo Lamo.

Ke-4 perempuan yang melakukan tradisi ini memulai dari memetik bunga seperti melati, kenanga, gambir, kembang sepatu, selasih dan daun pandan yang tumbuh di sekitar kedaton. Ada sililoa (permisi) sebelum memetik. Ada doa dan permohonan sebelum memulai pengirisan atau lesa. yang terucap dari bibir mereka saat menyentuh tanaman-tanaman tersebut.

Satu di antara abdi dalem ini seminggu 3 kali bolak-balik Sidangoli-Ternate

Mereka mengabdi tanpa pamrih. Tanpa gaji atau hadiah. Bahkan ada yang tinggal di Sidangoli Pulau Halmahera, yang harus ke Ternate 3 kali seminggu dengan transportasi laut dan darat demi maco’ou (mengabdi) dalam tradisi yang sakral. Cerita dalam film ini bukan hanya mendokumentasikan tradisi namun menjadi medium edukasi nilai-nilai kearifan lokal bagi generasi ke generasi.

Datang pagi, pulang sore, maco’ou dalam tradisi rutin tiga kali seminggu

 

Dokumenter dengan Kekuatan Sinematik

Secara teknis, film dokumenter ini tidak sekadar memvisualisasikan tradisi secara kasat mata, namun memberi unsur sinematik yang menghibur. Opan Zaki sebagai kameramen mampu merekam objek dari angle (sudut pandang) yang tidak monoton. Master Scene Technique (pendekatan teknik syuting) dalam coverage shot variatif: close-up, medium shot, hingga full shot cover. Teknik ini membuat penonton merasakan pengalaman imersif atau seolah-olah hadir dalam proses Reno Saya.

Suasana nonton bareng di Pandopo Bala Kesultanan Ternate

Sang Sutradara, Mukhlis Kamarullah dalam film ini tidak hanya berhasil memadukan antara visual dan audio sebagai penjelasan namun membawa narasi-narasi filosofis dalam setiap adegan sejak awal kedatangan para abdi dalem hingga pada akhirnya bunga rampai itu masuk dalam proses ritual dan berhenti di titik sakral. Adegan tukang ojek mengantar abdi dalem, peran soseba (abdi dalem pria) membawa bunga rampai dan ritual bobato akhirat (perangkat keagamaan) dalam beberapa scene di film ini menunjukkan sang sutradara memainkan teknik yang sering disebut dengan “Show, Don’t Tell”. Dia tidak sekadar memberi tahu apa pemanfaatan bunga rampai, tetapi menunjukkan secara visual bagaimana awal proses dan pemanfaatan bunga rampai itu dalam adegan yang apik.

Film dokumenter produksi Fala Sere se Duniru Rau Parada ini merupakan program pendokumentasian kearifan lokal yang difasilitasi oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Provinsi Maluku Utara. Saat nonton bareng Tradisi Reno Saya ini, juga hadir Staf Ahli Wali Kota Ternate Bidang Kemasyarakatan dan Pembangunan SDM, Hi. Abdullah H. M. Saleh, S.STP., M.Si, Ketua Pokja Kemitraan BPK Malut, Fauziah Rasid, S.S., M.Si, Kasubag Umum Balai Bahasa Provinsi Maluku Utara, Nurul Istiqamallah, S.H., M.H, segenap pejabat dan perangkat Kesultanan Ternate dan para istri, serta anggota Gemusba (Generasi Muda Sultan Baabullah).

Usai pemutaran film, para penonton juga didaulat untuk memberikan apresiasi baik terhadap karya sinematografi  maupun nilai-nilai yang terkandung dalam cerita Tradisi Reno Saya.

 

Laporan: Ismit Alkatiri

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup