Kilas Balik 65 Tahun Invasi Teluk Babi: Bagaimana Nasib Presiden Kennedy?

Lebih diari 1.000 pasukan Brigade 2506 yang gagal invasi Kuba ditawan milisi lokal dan dan Pasukan Revolusioner Kuba. Anggota Brigade 2506 merupakan orang-orang pelarian dari Kuba. (foto: History)

MalutTrend.Com, TERNATE – Enam puluh lima tahun lalu, tepat 17 April 1961, CIA  melancarkan invasi ke Teluk Babi untuk menggulingkan Presiden Kuba Fidel Castro. Namun aksi CIA yang direstui Presiden John F Kennedy itu meninggalkan aib besar bagi Amerika Serikat. Bagaimana nasib Kennedy pascakegagalan itu?

Mengutip laporan investigasi Komisi Taylor (1961), di tengah kegelapan pada 17 April 1961 dini hari itu, pasukan Brigade 2506 yang mendarat di 2 titik di Teluk Babi. Di Playa Girón dan Playa Larga pasukan ini berhadapan dengan medan berat.

Menurut laporan tersebut, kekacauan awal dimulai saat kapal-kapal pengangkut 1.400 personil, orang-orang pelarian dari Kuba yang dilatih dan didanai CIA itu menabrak terumbu karang. Perahu pendarat dan peralatan tempur rusak. Dalam kondisi yang rumit, pada pagi harinya pesawat tempur Kuba juga menenggelamkan 2 kapal pengangkut amunisi dan bahan bakar.

Invasi untuk menciptakan pemberontakan rakyat guna menggulingkan Fidel Castro dari kursi kekuasaan justru berubah drastis. Pasukan Brigade 2506 yang terjepit dengan kondisi medan berawa dan tanaman berduri harus berhadapan dengan milisi lokal dan pasukan revolusioner Kuba yang dikomando langsung Fidel Castro.

Menurut laporan Komisi Taylor, pasukan Brigade 2506 mengalami frustrasi karena terus menerus dihujani serangan udara Kuba. Di sisi lain, operasi yang didesain CIA itu semakin lemah karena Presiden AS itu membatalkan dukungan udara tambahan.

Kegagalan invasi Teluk Babi terjadi pada 19 April. Arsip resmi  mencatat, pada hari ketiga operasi, Brigade 2506 terjebak di pesisir. FAR (Angkatan Bersenjata Revolusioner) Kuba melakukan serangan balik dengan kekuatan 10 kali lipat dari Brigade 2506.

Dalam pertempuran yang berakhir dengan kemenangan Kuba itu, sekitar 211 personil Brigade 2506 tewas. Sementara 1.189 anggota pasukan buatan CIA ini ditangkap dan dijadikan tawanan perang oleh pemerintah Kuba.

Awal Mula Skenario Invasi

John F Kennedy merupakan Presiden AS ke-35 yang menjabat sejak 20 Januari 1961. Saat operasi CIA di Kuba yang dikenal dengan Bay of Pigs Invasion ini, Kennedy baru 87 hari memimpin AS.

Sumber The 5412 Committee (Special Group) menggambarkan skenario invasi ini sudah dimulai pada akhir masa jabatan Presiden AS Dwight D. Eisenhower, tepatnya Maret 1960. Operasi ini disebut “proyek warisan” dari presiden AS ke-34 itu.

The 5412 Committee (Special Group) menyebut, dalam dokumen CIA tercatat tentang persetujuan Presiden Eisenhower. Program rahasia itu bertajuk “A Program of Covert Action Against the Castro Regime” pada 17 Maret 1960. Ini tercatat sebagai cikal bakal invasi.

Rencana invasi ke Teluk Babi sebagai “warisan” kebijakan Eisenhower itu juga terungkap dalam arsip resmi Departemen Luar Negeri AS 1961-1963 Volume X. Diakses dari situs Office of the Historian, arsip itu mengungkap adanya pengarahan Eisenhower kepada Kennedy tentang pelatihan gerilya di Guatemala.

Catatan CIA Library yang diakses dari cia.gov menyebut, kamp-kamp rahasia di Guatemala telah menjadi pusat latihan Brigade 2506 sejak medio 1960 di bawah perintah langsung Presiden Eisenhower.

Sejarawan Arthur Schlesinger Jr yang juga penasihat Kennedy dalam bukunya A Thousand Days, John F. Kennedy in the White House menggambarkan kegelisahan Kennedy. Presiden terpilih dari Partai Demokrat ini merasa terjepit. Jika batalkan invasi, dirinya akan dituduh oleh Partai Republik sebagai sosok yang lemah terhadap komunis.

 Pada saat itu, Kuba dan Uni Soviet sedang menjalin hubungan baru. Meski Revolusi Castro 1959 merupakan gerakan nasionalis yang mengantarnya ke kursi presiden, namun adanya tekanan ekonomi AS membuat Castro kemudian berpaling ke Uni Soviet. Tekanan yang paling dirasakan adalah AS menghentikan pembelian gula dari Kuba.

 Uni Soviet menyambut Kuba sebagai mitra baru. Dalam buku The Cuban Revolution: Origins, Course, and Legacy(1993) karya Marifeli Perez-Stable, disebutkan bahwa transisi Castro dari nasionalisme radikal menuju aliansi dengan Soviet. Pemicu tak lain karena tekanan ekonomi AS.

 Secara detail, dokumen sejarah Soviet-Cuban Communique on the Visit Anastas Mikoyan to Cuba (Februari 1960) yang diakses dari Wilson Center Digital Archive juga menyebut, Soviet menyepakati pembelian gula 5 juta ton dari Kuba selama 5 tahun. Dalam dokumen ini Uni Soviet juga memberikan pinjaman 100 juta dolar AS sebagai “mahar pernikahan” antara Havana dan Moskow.

 Sebelum operasi di Teluk Babi, Moskow juga telah mewanti-wanti akan melindungi Kuba. The New York Times edisi 10 Juli 1960 menempatkan berita berjudul “Khrushchev Says Soviet Rockets Will Protect Cuba if U.S Attacksdi halaman utama.

 The New York Times mengutip isi pidato Presiden Uni Soviet di Moskow Nikita Khrushchev. “Jika perlu, artileri Soviet dapat mendukung rakyat Kuba dengan tembakan roket (nuklir)”.

Buku Aleksandr Fursenko dan Timothy Naftali berjudul One Hell of a Gamble: Khrushchev, Castro, and Kennedy (1964)  juga mengungkap arsip rahasia Soviet. Isi arsip itu adalah bagaimana janji “payung nuklir” yang awalnya gertakan diplomatik berubah menjadi komitmen militer serius.

Kedekatan strategis Kuba dan Uni Soviet ini menjadi pertimbangan matang Kennedy. Arthur M. Schlesinger dalam A Thousand Days: John F. Kennedy in the White House mencatat bahwa Kennedy terus bertanya, “Bagaimana jika Soviet merespons di Berlin?”

Kepala Negara AS ini ingin operasi di Teluk Babi berlangsung sekecil mungkin agar tidak memicu krisis global yang lebih besar. Di samping itu agar bisa menjaga kerahasiaan keterlibatan AS. Dia setuju invasi jika AS bisa membantah keterlibatan secara meyakinkan. Salah satunya, ia membatalkan dukungan serangan udara agar pesawat tempur AS tidak terbaca dalam konflik.

Laporan Komisi Taylor (1961) mencatat bahwa Kennedy bersikeras agar  invasi ini harus terlihat sebagai aksi orang-orang Kuba sendiri. Bukan invasi Amerika Serikat. Intinya ia menghindari konfrontasi dengan Uni Soviet. Sinyal tentang respon Uni Soviet ke Berlin Jerman Barat dianggap sebagai efek terburuk yang bisa memicu perang nuklir.

 Merasa Disesatkan Dulles

Pada akhirnya, kegagalan invasi itu mencoreng reputasi Kennedy di mata internasional dan menjadi aib besar bagi AS. Ia akhirnya benar-benar marah karena merasa disesatkan oleh Direktur CIA.  Dulles sebelumnya meyakinkan bahwa rakyat Kuba akan memberontak menyambut invasi.

National Security Archive mencatat kondisi dan sikap Kennedy setelah kegagalan total operasi Bay of Pigs Invasiontersebut. Dia menyatakan perlunya mengendalikan CIA dengan ketat agar tidak melakukan operasi “liar” lainnya seperti invasi Kuba. Encyclopaedia Britannica mencatat, Direktur CIA Allen Dulles akhirnya diberhentikan dari jabatannya dan kemudian mempercayakan John McCone sebagai direktur yang baru.

Kennedy sendiri sempat kecewa namun tidak lepas tanggung jawab. Presiden AS termuda ini berusaha membebaskan seribu lebih pasukan Brigade 2506 yang ditawan Kuba. Ia bernegosiasi dengan Castro dan rela membayar 53 juta dolar AS demi membebaskan tawanan perang.

Kekecewaan John F. Kennedy atas kegagalan invasi Kuba berakar pada dilema antara tekanan politik, informasi intelijen yang keliru, dan keputusannya sendiri yang setengah hati. Namun dia tidak menyalahkan pihak lain. “I am the responsible officer of the Government,” ucap Kennedy, menegaskan dirinya sebagai pihak yang bertanggung jawab.

Ia memilih memikul tanggung jawab sebagai wujud menjaga etika kepemimpinan, menghindari krisis kepercayaan, sekaligus menjaga kewibawaan presiden di tengah kegagalan internasional. Sikap ini justru memperkuat citra kepemimpinannya.

(ismit alkatiri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup