Konflik AS–Israel vs Iran Masuk Satu Bulan, Kebijakan Trump Disorot
MalutTrend.Com, TERNATE — Konflik militer antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memasuki satu bulan pada 28 Maret 2026, sejak dimulainya serangan pada 28 Februari lalu. Serangan awal yang dilancarkan AS dan Israel dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran serta sejumlah pejabat penting lainnya.
Serangan tersebut terjadi di tengah proses negosiasi nuklir yang masih berlangsung. Iran kemudian merespons dengan meluncurkan drone dan rudal ke wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk hingga Samudera Hindia.
Situasi di kawasan hingga kini masih menunjukkan eskalasi. Iran terus menggempur sejumlah fasilitas militer, sementara Amerika Serikat meningkatkan kehadiran militernya dengan mengirim ribuan pasukan marinir ke kawasan tersebut.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, di sisi lain juga mendorong upaya gencatan senjata dan mengajak Iran kembali ke meja perundingan. Namun, langkah tersebut dinilai belum diikuti dengan penurunan aktivitas militer di lapangan.
Kebijakan Dinilai Tidak Konsisten
Dikutip dari berbagai sumber, sejumlah pengamat internasional menilai kebijakan Trump dalam konflik ini menunjukkan pola yang tidak konsisten. Pendekatan yang digunakan dinilai menggabungkan tekanan militer dengan dorongan diplomasi dalam waktu yang sangat singkat.
Dalam beberapa kesempatan, Trump disebutkan mengancam akan melakukan serangan besar terhadap Iran. Namun, langkah tersebut kemudian diikuti dengan penundaan operasi serta pernyataan bahwa jalur negosiasi masih terbuka.
Perubahan sikap ini dinilai mencerminkan tarik-menarik antara strategi penangkalan militer dan upaya penurunan tensi konflik. Selain itu, dalam beberapa fase konflik, kebijakan juga bergeser cepat dari operasi militer ke dorongan gencatan senjata dalam hitungan hari.
Lembaga pemikir Brookings Institution menilai pola seperti ini berpotensi meningkatkan risiko konflik berulang. Sejumlah media internasional juga menggambarkan pendekatan tersebut sebagai tidak terprediksi dan cenderung improvisasional.
Perbedaan Klaim dan Fakta Lapangan
Trump juga mengklaim bahwa program nuklir Iran telah “hancur total” akibat serangan militer.Namun, laporan dari International Atomic Energy Agency (IAEA) dan sejumlah sumber intelijen menyebutkan bahwa fasilitas nuklir Iran hanya mengalami kerusakan, bukan kehancuran menyeluruh.
Perbedaan antara klaim politik dan temuan di lapangan ini dinilai dapat memengaruhi kredibilitas Amerika Serikat di mata internasional.
Potensi Eskalasi Masih Terbuka
Hingga memasuki satu bulan konflik, belum terlihat tanda-tanda deeskalasi yang signifikan. Kombinasi antara peningkatan kekuatan militer dan dorongan diplomasi yang berjalan bersamaan dinilai justru menambah ketidakpastian di kawasan Teluk.
Pengamat menilai, tanpa arah kebijakan yang lebih konsisten, konflik berpotensi berlanjut dan berkembang ke skala yang lebih luas.(@ba/berbagai sumber)












