Menelusuri Gedung ‘Kembar Siam’ di Minut; Rumah Sakit Serasa Hotel, Hotelnya pun Bikin Lebih Sehat

Direktur SMH Minut (tengah) bersama Wadir Humas SHM Minut, Manajer Marketing SMH Group (paling kiri) dan staf SMH di ruang lantai 2.

Berhasil Kateterisasi Wisman Kanada dari Kapal Pesiar Akibat Serangan Jantung

 Laporan: ISMIT ALKATIRI, Manado

MalutTrend.Com, MANADO – Pengalaman menarik tersaji saat menelusuri dua gedung  “kembar siam” di Jalan Ir. Soekarno, Kabupaten Minahasa Utara (Minut). Sentra Medika Hospital (SMH), rumah sakit berstandar internasional, terintegrasi dengan The Sentra Hotel Manado, hotel bintang empat yang berlokasi tak jauh dari Bandara Internasional Sam Ratulangi.

Integrasi kedua fasilitas ini bukan sekadar karena berada dalam satu kepemilikan, melainkan lahir dari konsep terpadu yang mengusung hospitality sebagai strategi utama, baik dalam pelayanan kesehatan maupun akomodasi.

Pada Senin (16/3/2026) pekan lalu, MalutTrend.Com mendapat undangan langsung dari Direktur Sentra Medika Hospital, dr. Ivan Wijaya Widiatama, MARS, untuk melihat langsung konsep tersebut.

Lobby RS di lantai 1 tersedia fasilitas lift modern

Dari lobi utama gedung rumah sakit berlantai enam itu, kesan sebagai fasilitas medis nyaris tak terasa. Untuk menuju lantai atas tersedia sejumlah lift modern layaknya hotel berbintang. Seluruh lift dapat digunakan pengunjung, tanpa pemisahan khusus untuk tenaga medis. Hanya lift berukuran lebih besar yang diperuntukkan bagi pasien pengguna kursi roda atau brankar.

Lantai dua gedung SMH difungsikan sebagai area layanan rawat jalan, yang mencakup berbagai poli spesialis, ruang rawat inap tertentu, serta layanan administrasi. Menariknya, di lantai ini juga terdapat sejumlah tenan dan area tunggu yang menyerupai fasilitas di bandara internasional.

Ruang pelayanan rawat jalan terintegrasi dengan tenan-tenan mirip di bandara

Setiap lantai dihiasi rangkaian bunga interior, menciptakan suasana yang nyaman. Aroma obat-obatan hampir tidak tercium, bahkan di ruang Intensive Care Unit (ICU) maupun ruang operasi. Sistem pengatur udara bekerja optimal, menjaga ruangan tetap sejuk dan steril.

Rumah sakit dengan kapasitas ratusan tempat tidur ini unggul dalam layanan kardiovaskular, neurosains, onkologi, serta medical tourism (wisata medis). SMH juga dilengkapi auditorium berkapasitas hingga 700 orang dengan fasilitas multimedia modern.

Didukung fasilitas berstandar internasional serta tenaga medis, termasuk sekitar 90-an dokter spesialis, SMH berupaya mengubah orientasi masyarakat Indonesia—khususnya dari Kawasan Timur—yang selama ini cenderung mencari layanan kesehatan ke luar negeri.

Kamar inap pasien dilengkapi fasilitas sekelas kamar hotel

Menurut dr. Ivan Wijaya Widiatama, penerapan konsep medical tourism dilatarbelakangi perubahan kebutuhan wisatawan global. Daya tarik destinasi kini tidak hanya bergantung pada keindahan alam atau budaya, tetapi juga pada kepastian ketersediaan fasilitas kesehatan berstandar internasional.

Hal ini diperkuat oleh Wakil Direktur Humas & Marketing MHH Minut, Ns Joza Mayer Harimisa. Ia menyebut, wisatawan asing umumnya melakukan riset sebelum berkunjung, termasuk memastikan keberadaan rumah sakit berstandar internasional dan akses penggunaan asuransi.

“Bali menjadi salah satu contoh destinasi yang diminati wisatawan asing, bukan hanya karena keindahannya, tetapi juga karena sistem layanan kesehatan yang mendukung dan dapat diakses oleh berbagai asuransi internasional,” ujarnya.

Untuk mendorong Kawasan Timur Indonesia (KTI) menjadi destinasi wisata yang aman secara medis, SMH Minut—sebagai rumah sakit wisata yang telah memperoleh rekomendasi Kementerian Kesehatan RI—terus membangun jejaring dengan berbagai pemangku kepentingan.

Konektivitas ini bertujuan memperkuat koordinasi dan penanganan jika terjadi kondisi darurat pada wisatawan, tidak hanya di Sulawesi Utara, tetapi juga di wilayah KTI secara keseluruhan.

Salah satu pengalaman yang menunjukkan kapasitas tersebut terjadi beberapa waktu lalu. Seorang wisatawan asal Kanada yang berada di kapal pesiar dilaporkan mengalami serangan jantung saat kapal menuju Pelabuhan Bitung.

Begitu menerima informasi, tim medis SMH langsung bersiaga di pelabuhan sebelum kapal bersandar. Setibanya di darat, pasien segera dilarikan ke ruang tindakan kateterisasi jantung. Dalam waktu satu hari, pasien sudah dapat berjalan dan kembali melanjutkan perjalanan wisatanya.

Bagi manajemen SMH, pengalaman ini menjadi bukti nyata kualitas layanan. Pasien asal Kanada tersebut menyatakan puas atas respons cepat yang diberikan.

“Kebanggaan ini bukan hanya untuk kami, tetapi untuk dunia medis Indonesia. Layanan medical tourism di Indonesia, khususnya Sulawesi Utara, telah mendapat kepercayaan dari wisatawan dan penyelenggara perjalanan internasional,” ujar dr. Ivan.

Ada Layanan Kesehatan bagi Tamu Hotel

Salah satu jenis kamar tamu di The Sentra Hotel

Konsep medical tourism tidak hanya diterapkan pada pasien rumah sakit. The Sentra Hotel Manado sebagai bagian dari kompleks ini juga mengintegrasikan layanan kesehatan bagi para tamunya.

Menurut Ns Joza Mayer Harimisa, setiap tamu hotel mendapatkan layanan kesehatan berupa pemeriksaan dasar (check-up) gratis serta suplemen vitamin yang tersedia di kamar.

Selain itu, hotel juga berfungsi sebagai akomodasi bagi pasien rawat jalan maupun keluarga pasien, dengan tarif yang lebih terjangkau dibandingkan hotel sekelasnya.

Tak hanya itu, manajemen juga menyediakan fasilitas homestay di sekitar rumah sakit untuk mendukung kebutuhan pasien dari luar daerah beserta keluarga pendampingnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup