KONTEMPLASI: Kesaktian Pancasila dari Secangkir Kopi Pahit

Seduhan kopi liberika dengan pemandangan indah Danau Ngade yang tenang

NGOPI di hari Kamis pagi, 1 Oktober 2026 berbeda dengan hari-hari biasa. Saat seruput pertama biasanya ditemani musik reggae atau blues yang beradu dengan kicauan burung di pohon depan rumah. Hari ini, sambil menikmati secangkir kopi pahit, aku menyimak kembali Garuda Pancasila, lagu favoritku ketika duduk di bangku sekolah dasar–setengah abad lampau.

Ini bukan kebetulan. Momentum 1 Oktober adalah hari bersejarah bagi bangsa Indonesia, dan juga penikmat kopi di dunia. Tepat 61 tahun lalu, bangsa kita diuji dengan kenyataan pahit, tragedi 30 September 1965. Enam jenderal dan seorang kapten TNI Angkatan Darat diculik, disiksa dan dibunuh secara tragis dalam suatu peristiwa yang disebut Gerakan 30 September oleh PKI. Pada tanggal yang sama, 11 tahun lalu, 1 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kopi Internasional.

Catatan kecil “Kontemplasi Kesaktian Pancasila dari Secangkir Kopi Pahit” pagi ini hendak membangun kesadaran bahwa kepahitan tidak selalu hadir untuk dihindari. Selayaknya kopi hitam yang jujur dengan rasa pahit namun dicintai dunia, kepahitan tragedi 61 tahun lalu dalam lembaran sejarah bangsa bukan untuk diratapi, melainkan disesap maknanya. Kesaktian Pancasila bukan sekadar jargon, tetapi adalah perisai hidup yang menjaga ideologi bangsa tetap kokoh seperti penggalan lirik lagu Garuda Pancasila: “…Akulah pendukungmu/patriot proklamasi/sedia berkorban untukmu…”

Di balik rasa pahit kopi, para pejuang kemerdekaan membangun ide dan gagasan. Mereka berdiskusi di meja-meja kedai kopi seperti halnya para penggerak Revolusi Prancis pada 14 Juli 1789. Dua hari sebelumnya, Cafe de Foy di Palais Royal, Paris menjadi saksi bisu ketika Camille Desmoulins, seorang jurnalis yang naik ke meja kedai kopi itu dan berorasi. Dia membakar semangat rakyat Paris untuk melawan absolutisme Monarki Prancis.

Bahkan 100 tahun sebelum aksi Camille dengan pistol di tangannya itu, Cafe Procope yang berdiri sejak 1686 telah menjadi tempat berkumpul para pemikir untuk membangun kesetaraan hak manusia—cikal bakal lahirnya cafe society di dunia.  

Sosiolog Ray Oldenburg menyebut kedai kopi sebagai the third place—ruang di luar rumah (tempat pertama) dan tempat kerja (tempat kedua). Di Eropa abad ke-17 dan ke-18, cafe society melahirkan budaya berdiskusi yang egaliter. Kaum intelektual, buruh, jurnalis, dan aktivis duduk di meja yang sama tanpa memandang kasta. Mereka bicara soal ketimpangan sosial dan keluh kesah politik. Kehadiran kafein bertindak sebagai pemantik pikiran yang membuat diskusi tetap tajam dan terjaga.

Kedai Kopi, Medium Gagasan Perjuangan dan Diplomasi

Dari catatan sejarah, para tokoh nasional juga menjadikan kedai kopi sebagai tempat berkumpul yang aman dari mata para intelijen Belanda. Di meja kayu kedai kopi itu mereka membaca surat kabar terlarang, membagikan pamflet propaganda, bahkan menyusun manifesto kemerdekaan. Seperti halnya Kedai Kopi Surya Indah di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, telah menjadi tempat pertemuan para pejuang lokal untuk menyusun siasat perang kemerdekaan dan gerilya di masa lalu (Kompas.id, 2021).

Cerita yang mirip juga terjadi di Ternate, Maluku Utara. Semasa hidup, Dede Boki Nursahida Oesman Sjah, putri Sultan Bacan ke-18 pada tahun 2009, pernah bercerita ke penulis tentang kebiasaan berkumpul di kedai kopi. Dahulu sekitar tahun 1943, ia dan sejumlah nasionalis di Ternate seperti Hasan Esa, Arnold Mononutu dan rekan-rekan lainya sering berkumpul di kedai kopi bernama Cafe Sosteit. Di kedai yang terletak di jalan sebelah kiri Kantor Residen Ternate itu, mereka belajar lagu Indonesia Raya sambil menyesap kopi.

Kopi memang menjadi medium membangun gagasan perjuangan. Bung Karno semasa kuliah di Bandung pada 1921 selalu menjadikan kopi sebagai teman setia saat mendiskusikan nasib bangsa dan membakar semangat pergerakan bersama para tokoh. Dalam otobiografinya yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno pernah rela “menjual” tulisannya kepada seorang wartawan demi mendapatkan uang untuk mentraktir secangkir kopi kawannya.

Bukan hanya itu. Ketika menjadi Presiden RI, Bung Karno menjadikan kopi sebagai kuliner diplomasi gastronomi saat menjamu tamu kenegaraan. Saat Wakil Presiden AS, Richard Nixon berkunjung ke Indonesia pada Oktober 1953, Bung Karno mengajak Nixon jalan-jalan di kawasan wisata Puncak, lalu singgah menikmati kopi hitam di sebuah kedai sederhana di Cipanas. (Arsip Majalah American Miscellany No. 64, Tahun 1953, melalui dokumentasi ulasan sejarah digital Historia.id).

Saat ini, tempat menikmati secangkir kopi di Kota Ternate tumbuh subur. Dari coffeeshop berkelas, kedai sederhana hingga kopi jalanan menjadi tempat nongkrong para generasi bangsa di kota ini. Masihkah mereka menikmati kopi sambil diskusi membangun bangsa, meneruskan api patriotisme untuk menjaga persatuan bangsa di tengah derasnya arus modernisasi?

 Dari sudut tempat duduk di puncak Fitu—di atas Danau Ngade menatap siluet Maitara yang tenang berselimut kabut pagi, seseduh kopi liberika di hadapanku seolah ikut bercerita. Kontemplasi ini ingin membawa kembali kita pada ruang kultural di tanah Moloku Kie Raha. Jauh sebelum kemerdekaan, Ternate telah merekam jejak pergerakan… []

 

Referensi:

–  Buku Masterpiece Sosiologi Perkotaan: Ray Oldenburg (1989), The Great Good Place.

– Arsip digital Historia.id mengenai Diplomasi Kopi Bung Karno (1953).

– Liputan Jelajah Kopi Nusantara Kompas.id: Tiga Masa Singgah di Kedai Multikultur (2021).

———————–

Oleh: Ismit Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup