Euforia Piala Dunia dan Nasionalisme Lintas Negara
Oleh: Dr. Said Assagaf
(Pengajar Pasca Sarjana UMMU)
Pada hari ini dan hingga dua minggu ke depan kita masih akan menyaksikan gegap gempita dan hingar-bingar pesta piala dunia. Event empat tahunan FIFA WORLD CUP 2026 itu gaungnya terasa melintasi 6 benua.
Euforia dan histeria menyambut piala dunia, merupakan pesta terbesar yang secara rutin digelar oleh FIFA, organisasi yang menaungi sepak bola dunia–magnet yang menghipnotis fanatisme penikmat bola antarbenua. Tak bisa disangkal sepak bola merupakan cabang olahraga favorit yang sangat familier dan sudah membumi di hampir semua negara. Eksistensi sepak bola sangat jelas tergambar dari gemuruhnya antusiasme massal masyarakat di berbagai negara dalam menyambut momen piala dunia.
Dalam konteks ini, tak dapat dinyana sepak bola bukan saja telah bertransformasi menjadi sebuah kultur dunia tetapi juga berkembang sebagai entitas jaringan industri jasa, dan perdagangan global. Berbagai transaksi transfer pemain antar-liga dunia mampu mengguncang nilai pasar seorang bintang top, yang bisa mencapai jutaan dolar dan memecah rekor nilai transaksi. Dalam konteks itulah piala dunia menjadi ajang perburuan pemain unggulan. Munculnya para bintang muda yang menonjol dalam arena piala dunia menjadi incaran para bandar calon pemain liga terbaik klub-klub top dunia yang masuk dalam radar bursa transfer level tertinggi.
Berbagai klub terkenal seperti Manchester City, Manchester United, Liverpool, Bayern Munchen, Milan, Real Madrid, Chelsea merupakan deretan nama-nama besar yang bersaing ketat untuk menggaet pemain top di pasar transfer. Tidak dapat diingkari, Piala Dunia 2026 menjadi panggung bagi talenta muda untuk bersinar seperti Lamine Yamal (Spanyol), Warren Zaïre-Emery (Prancis), Ibrahim Mbaye (Senegal), Kenan Yildiz (Turki), dan Franco Mastantuono (Argentina). Nama-nama pemain muda berbakat di atas sangat berpotensi akan dibidik dan menjadi rebutan dalam bursa transfer pemain liga pascapiala dunia.Sementara itu, sang legendaris yang telah mencapai puncak klimaks kejayaan seperti Messi dan Ronaldo akan masuk bursa calon pelatih top dunia.
Fenomena pemain legendaris top dunia sudah sangat familier menjadi idola lintas negara bahkan lintas benua, memiliki daya hipnotis yang luar biasa. Dalam tradisi UEFA dan EURO maka prestasi sang bintang dapat diukur dengan gelar top scorer, pencetak gol terbanyak dan peraih sepatu emas. Nama-nama seperti Harry Kane Inggris, Dani Olmo Spanyol, Muller Jerman, Ronaldo Portugal, Mbappe Prancis, dan Messi Argentina merupakan langganan peraih sepatu emas dan Messi memecah rekor sebagai peraih sepatu emas terbanyak 6 kali.
Satu hal yang sangat menarik dan fenomenal, dari momentum piala dunia sepak bola di satu sisi euforia dan histeria pemain dan penonton yang mendukung tim kesayangan negaranya dengan berbagai kreativitas kostum dan karikatur mencerminkan sikap nasionalisme sejati, tetapi di sisi lain bila kita melihat formasi pemain dari masing-masing negara yang mencerminkan kombinasi suku, etnis, ras dan agama, betapa indahnya formasi tanpa sekat primordialisme, tanpa sadar kita harus mengakui sepak bola dan piala dunia telah menjadi perekat anak manusia di muka bumi. Nasionalisme lintas negara tanpa sekat primordialisme juga menjalar ke seluruh negara termasuk negara yang tidak ikut sebagai peserta piala dunia seperti Indonesia.
Dari Sabang sampai Merauke nyaris demam piala dunia, hal ini dapat dilihat dari simbol-simbol bendera negara pemain idolanya yang tersebar mulai dari lokasi strategis di pusat kota sampai di lorong dan gang sempit. Warga dari berbagai strata sosial dan ekonomi tumpah ruah di depan TV baik individu maupun nobar (nonton bareng) di berbagai kafe dan pawai di jalan dengan berbagai selebrasi menyambut kemenangan tim kesayangannya. Kecintaan dan fanatisme terhadap negara dan pemain idolanya tanpa hubungan emosional etnis, ras, dan agama merupakan sebuah fenomena nasionalisme lintas negara tanpa sekat primordialisme adalah nasionalisme universal.
Piala dunia adalah ajang unjuk prestasi dan prestise, betapa tidak di arena piala dunia para pelatih harus mampu meramu konsep dan strategi, mengendus kekuatan dan kelemahan lawan, menggunakan feeling dan insting mengemas formasi, mengolaborasikan keunggulan personal dan kerja sama tim, menyeleksi pemain utama dan cadangan, membangun spirit dan daya juang. Yang pasti dalam mendesain tim di level piala dunia sangat dipengaruhi oleh banyak variabel. Fakta lapangan membuktikan kemampuan analisis penting, tapi kadang sepak bola penuh misteri di luar prediksi dan tidak terdeteksi.
Keunggulan personal penting tapi kerja sama tim lebih penting, disiplin dan semangat juang tanpa didukung mental juara akan rapuh, sebaliknya tim-tim besar bertabur bintang yang terlalu percaya diri tanpa memperhitungkan kekuatan lawan akan bernasib sial.
Hasil sementara fase 32 besar Maroko menyingkirkan Belanda dan Paraguay menyingkirkan Jerman merupakan bukti otentik logika dan hasil analisis kadang meleset, nama besar dan tim favorit bertabur bintang bukan jaminan, akurasi dan strategi formasi pemain serta evaluasi kekuatan lawan sangat menentukan. Dan drama pertarungan di 16 besar, 8 besar, semifinal dan final dipastikan terdapat kejutan dan munculnya kuda hitam yang akan menyalip tim papan atas dalam meraih kemenangan.(*)




