PIALA DUNIA BUKAN MAIN BOLA GILA (MBG)

Oleh:

Zainuddin M. Arie

Sekarang, demam piala dunia yang satu ini memulai serangannya, sekonyong dan kadang terlalu tiba-tiba. Lebih kencang dari Maradona dulu, atau Mario Kempes saat itu. Bahkan Pele pada masanya. Kita sedang menyaksikan (di balik layar) persiapan amunisi habis-habisan dari para raksasa lapangan hijau mulai dari Amerika Latin, Eropa, Afrika bahkan Asia. Dunia kita yang makin sempit oleh layar tv dan gadget, bikin keguncangan di selat Hormuz, atau polemik MBG kita terasa tersaingi.

Kita hanya perlu jemari menentukan layar mana yang akan membawa emosi kita pemirsa. Menikmati ketegangan di Kawasan Teluk, ikut pusing dan terheran mengikuti MBG di Tanah Air atau terduduk menyaksikan keseruan di Stadion Azteca, Mexiko City dan berakhir di Stadion Metlife, New York negeri Paman Sam sejak 11 Juni hingga 19 Juli.

Kita akan butuh energy lebih agar “bisa tetap hidup” menikmati ketiga ketegangan itu atau kita tergilas dan terpaksa diseret di IGD (Instalasi Gila Dadakan) karena tak sanggup menahan deru peristiwa dan seru perkabaran media yang senewen, termasuk para fans yang nyaris tak masuk akal tontonan. Apalagi bagi kita yang makin terjajah oleh dolar saat ini.

Seperti biasa, isu besar pada tataran global memengaruhi perhatian orang-orang yang over care atau kepo.  Maka para pihak kucing-kucingan mulai memanfaatkan tren informasi  (perkabaran) itu untuk berlindung dari terjangan dan serangan netizen terhadap kepincangan sosial ekonomi yang ditimbulkan oleh ulah pihak-pihak tertentu dengan memanfaatkan ajian “atas nama”.   Kita akan lihat apakah Kylan Mbappé (Perancis), Lionel Messi (Argentina), Cristiano Ronaldo (Portugal),  Lamine Yamal (Spanyol), Vinicius Junior (Tim Samba Brazil), dan atau Jamal Musiala (Panser, Jerman) yang akan lebih menarik perhatian kita di Tanah Para Raja negeri ini melebihi Dadan Hindayana serta dua pemain penunjang yang banyak mengoper bola, Soni Sanjaya dan Lodewyk Pusung, yang lebih dulu telah mengenakan jersey kebesarannya berupa rumpi orange pada 3 Juni 2026 atas sebuah keputusan  dan harus menjalani masa isi gizi dalam tahanan kejaksaan. Mereka telah lebih dulu menunjukkan kepiawaiannya dalam “main bola gila” (MBG), tanpa wasit di lapangan atau lebih tepatnya: dapur tempat memasak makanan yang disebut bergizi itu.

Kehadiran hajat sepak bola global selama sebulan akan memberi ruang bernafas bagi para pesakitan sosial yang kucing-kucingan dari terjangan media sosial, karena isu korupsi di tanah air seperti teralihkan. Inilah diversion dimana suatu isu (kini) teralihkan atau tertutupi oleh isu baru sehingga isu terdahulu tak dibicarakan. Tentu ini bukan berkah World Cup yang telah 22 kali digelar sejak 1930 di Uruguai itu, akan tetapi momennya “tepat” dalam pengalihan isu. Padahal berita-berita daerah menggigit yang tersaji saat ini pun tak kurang renyah, katakan saja pemilikan perusahaan-perusahaan tambang oleh oknum tertentu yang tengah  menguasai lapangan tanah (bukan lapangan hijau) yang kini berdebu dan rusak di pulau Halmahera serta pulau-pulau lain.

Di lapangan hijau, distribusi bola yang akurat pada momen, pemain, serta posisi di lini tertentu akan memberikan peluang besar bagi keunggulan pertaruhan dan pertarungan di lapangan. Tentunya role ini sudah dirancang, dilatih dan diuji coba hingga matang. Hal yang “sama” di dapur Main Bola Gila (MBG juga) distribusi itu pun dilakukan. Mulai dari pemain terdepan, para pembantu serta (mungkin) pemain di atasnya.   Bedanya bukan distribusi bola, akan tetapi yang disalurkan atau diteruskan adalah “amplop” atau hidangan lain yang disalurkan melalui rekening. Di sini pun terlihat suatu keunikan; pada piala dunia, di lapangan hijau kemenangan suatu tim adalah kemenangan bersama senegaranya, terbuka dan disaksikan seluruh pasang mata di dunia, terutama 82.000 penonton di Stadion MetLife. Kenyataan ini tentu berbeda dengan  kemenangan (tepatnya “keuntungan”) para pe-Main Bola Gila karena kenyataannya mereka bermain di ruang-ruang tertutup, hanya disaksikan/diketahui orang tertntu saja dalam jumlah sangat terbatas (sengaja dibatasi) demi “keamanan”. Dan yang paling penting pada aksi Main Bola Gila, ialah kemenangan (keuntungan) hanya dinikmati sendiri atau hanya dalam lingkungan sangat terbatas dan tak perlu disaksikan banyak penonton. Lebih praktis, efisien juga secara senyap.

Dengan begitu maka jangan kaget kalau para pe-Main Bola Gila yang telah lebih dulu ditetapkan sebagai “pemenang” akan mendapat hadiah seberat 250 gram gelang  baja karbon tahan karat pada kedua tangannya masing-masing. Hadiah ini sangat berbeda dengan tropi sepak bola akbar berupa piala yang terbuat dari emas padat 18 karat dengan hiasan dua batu permata hijau.  Bila kemenangan piala dunia akan diulang hanya empat tahun sekali, maka pemenang Main Bola Gila akan bertahan dalam pelatnas (pelatihan tahanan nasional) mungkin selama lebih dari dua musim piala dunia digelar, itu pun tergantung fasilitas pelatnasnya. Kita tunggu, selamat menyaksikan! (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup