Hari Ini 90 Tahun Lalu: “The Great Revolt” Mengguncang Palestina
MalutTrend.Com, TERNATE – Hari ini, 15 April 2026, menandai 90 tahun pecahnya pemberontakan besar di Palestina yang dikenal sebagai The Great Revolt—sebuah peristiwa yang menjadi titik awal eskalasi konflik panjang di kawasan tersebut.
Peristiwa yang mengguncang Palestina–dikenal sebagai Revolusi Palestina– itu terjadi pada 15 April 1936. Menurut A History of Modern Palestine (2006), konflik itu merupakan pemberontakan bangsa Arab terhadap pemerintah kolonial Britania (Inggris) dan imigrasi besar-besaran orang Yahudi ke Tanah Palestina.
Sejumlah sumber sejarah menyebutkan, pemberontakan yang berlangsung hingga 1939 itu bertujuan untuk memperoleh kemerdekaan dari pemerintah kolonial Inggris sekaligus mendesak pemerintah Inggris mengakhiri dukungan terhadap imigran Yahudi.
Jauh sebelum peristiwa itu, antara komunitas Arab dan Yahudi di Palestina pernah terlibat pertempuran, tepatnya 1 Maret 1920 di pemukiman Yahudi di Teluk Hai, Galilea Utara. Dari situ, siklus saling serangan antara Arab dan Yahudi kian memuncak.
Perlawanan besar atau Revolusi Palestina terjadi pada puncak masuknya imigran Yahudi Eropa dalam jumlah yang besar. Data arsip menunjukkan jumlah imigran Yahudi mencapai 164.000 orang.
Pasca kedatangan imigran dalam jumlah besar itu, kaum petani setempat berpindah ke kota karena tanah-tanah mereka mulai dikuasai imigran yang didukung pemerintah kolonial Inggris. Namun di kota, orang-orang Arab Palestina itu justru terpinggirkan secara sosial.
Pemberontakan ini diawali oleh insiden pembunuhan. Dua orang Yahudi dilaporkan dibunuh kelompok Qassamite. Setelah itu, orang-orang Yahudi bersenjata membalas aksi itu dengan membunuh dua buruh Arab.
Sejak saat itu, skala aksi kekerasan mulai meningkat di seluruh wilayah Palestina, dan puncaknya pada Rabu, 15 April 1936.
Setelah peristiwa itu, dokumen resmi Inggris mencatat, Presiden Komite Tinggi Arab sekaligus Mufti Yerusalem, Amin al-Husseini menyerukan pemogokan umum yang berlangsung hingga Oktober 1936. Namun pemerintah kolonial Inggris mematahkan gerakan itu dengan ancaman darurat militer serta diplomasi yang melibatkan penguasa Irak, Arab Saudi, Jordania, dan Yaman.
Pada akhir 1937 muncul gerakan perlawanan oleh petani yang terprovokasi tindakan penekanan pemerintah kolonial Inggris dalam pemberontakan sebelumnya (1936). Namun gelombang kedua perlawanan itu dibungkam melalui tindakan represif untuk melemahkan dukungan rakyat.
The Great Revolt Menelan Korban dalam Skala Besar
Berdasarkan Peel Commission Report, dalam rentetan aksi pemberontakan itu, lebih dari 2.000 orang Arab Palestina dibunuh oleh polisi dan tentara. Sementara 108 orang lainnya menjalani hukuman gantung serta 961 orang disebut pihak pemerintah kolonial Inggris, meninggal karena aktivitas geng dan teroris.
Menurut Walid Khalidi dalam The Iron Cage (2006), jumlah korban di pihak Arab Palestina jauh lebih besar, yakni mencapai 19.792 orang.
Khalidi, profesor studi politik di Universitas Amerika Beirut yang pernah mengajar di University of Oxford, menganalisis laporan statistik pemerintah kolonial Inggris pasca pemberontakan 1936. Ia merinci, setidaknya terdapat 5.032 orang Arab Palestina meninggal. Sebanyak 3.832 orang korban dibunuh pemerintah kolonial Inggris, 1.200 tewas akibat terorisme antarkomunitas, dan 14.760 lainnya terluka. Sedangkan ratusan orang Yahudi dilaporkan terbunuh.
Pemberontakan Palestina ini dinilai gagal karena Inggris memberikan dukungan penting kepada milisi Zionis. Di sisi lain, pemimpin Arab Palestina seperti al-Husseini diasingkan. Kondisi ini membuka jalan keberhasilan Zionis dalam Perang Palestina 1948.
Fondasi Permusuhan yang Tak Pernah Selesai
Peristiwa awal The Great Revolt di Palestina itu juga banyak terdokumentasi dalam laporan resmi pemerintah Britania Raya. Peel Commission Report 1937menyebut, penyebab perlawanan ini terkait lonjakan imigrasi Yahudi sejak 1933 dan keresahan warga Arab atas kepemilikan tanah.
A History of Modern Palestine; One Land, Two Peoples (2006) karya Ilan Pappe dan The Iron Cage (2006) yang ditulis Rashid Khalidi mengungkap berbagai aspek pemberontakan tersebut, termasuk kronologi serangan pada Rabu, 15 April 1936 di jalan antara Tulkarm dan Nablus sebagai titik picu kekerasan.
The Great Revolt tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi juga membentuk fondasi konflik yang masih berlangsung hingga kini. Persoalan tanah, identitas, dan kekuasaan yang muncul sejak era mandat Inggris terus berulang dan membentuk pola konflik Israel-Palestina yang hingga kini belum menemukan penyelesaian.(Ismit Alkatiri)









