Perang Iran vs AS dan Israel, Produksi Nikel Maluku Utara Diperkirakan Bakal Menurun

Tumpukan sulfur di salah satu pelabuhan di Inggris. (foto: Bloomberg)

MalutTrend.Com, TERNATE – Bukan hanya mengganggu distribusi energi, perang Iran vs AS dan Israel dilaporkan juga berdampak pada menurunnya produksi tambang nikel di Indonesia, termasuk Maluku Utara.

Kantor berita Reuters melaporkan, akibat eskalasi perang yang semakin hebat di Teluk Persia, berbagai distribusi perangkat elektronik, logam, dan bahan kimia terganggu dari dan ke negara-negara Teluk terganggu.

Distribusi unsur kimia seperti sulfur serta bahan baku industri seperti aluminium ikut terguncang akibat perang. Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, dan Iran termasuk di antara eksportir utama sulfur, yang merupakan produk sampingan dari proses penyulingan minyak dan gas,” tulis kantor berita internasional yang berpusat di London, Inggris.

Sulfur sendiri merupakan bahan kimia penting dalam proses ekstraksi mineral dan logam seperti tembaga dan nikel—komponen vital bagi produksi peralatan rumah tangga, kendaraan, jaringan listrik, semikonduktor, baterai, hingga baja nirkarat.

Menurut Lembaga Survei Geologi AS, sekitar 24% produksi sulfur dunia berasal dari kawasan Timur Tengah.

Pada pekan pertama konflik, produsen nikel di Indonesia—negara yang menyumbang lebih dari 50 persen pasokan nikel dunia—mengumumkan pengurangan produksi. Alasannya, pasokan sulfur dari negara-negara Teluk terganggu.

Padahal 75 persen kebutuhan sulfur bagi industri nikel Indonesia bergantung pada kawasan tersebut.

Menurut kantor berita Reuters, sejumlah produsen tembaga di Afrika kemungkinan menghadapi situasi serupa dengan industri nikel di Asia.

“Pertarungan pasokan sulfur akan mempertemukan tambang nikel Indonesia dengan tambang tembaga Afrika. Keduanya berhadapan dengan produsen pupuk di seluruh dunia yang juga mencari pengganti sulfur dari Timur Tengah,” tulis Reuters.

Sulfur memiliki peran strategis karena menjadi bahan utama pembuatan asam sulfat, komponen vital dalam produksi semikonduktor dan chip.

Gangguan pasokan bahan kimia ini bisa berdampak luas terhadap pembuatan berbagai produk esensial dalam kehidupan modern—mulai dari ponsel pintar, komputer, kartu memori, kendaraan, hingga beragam perangkat elektronik di rumah, kantor, dan pabrik.

Krisis bahan kimia sulfur pernah terjadi pada masa Covid-19, pada 2020 lalu. Saat pandemi, kelangkaan chip sempat menekan volume produksi perangkat elektronik sekaligus menaikkan harga jualnya.

Krisis kali ini lebih diperparah oleh lonjakan permintaan chip dari perusahaan-perusahaan yang mengembangkan dan mengaplikasikan model kecerdasan buatan.

Pasokan 50 persen nikel dunia berasal dari Indonesia. Pertambangan nikel di Halmahera Tengah, Halmahera Timur, dan Pulau Obi, Halmahera Selatan merupakan produksi terbesar setelah tambang di Sulawesi Tenggara.

Maluku Utara merupakan salah satu cadangan nikel terbesar di Indonesia dan menjadi pusat hilirisasi  nikel untuk baterai kendaraan listrik global.

Sektor ini bahkan berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi Maluku Utara yang disebut-sebut tertinggi di dunia, yakni di atas angka 30 persen.

Jika kondisi perang berkepanjangan dan mengganggu ketersediaan sulfur, maka produksi nikel di beberapa tambang besar seperti IWIP, Harita Nickel, dan Halmahera Sukses Mineral akan menurun. Penurunan ini dikhawatirkan akan mempengaruhi kondisi ekonomi Maluku Utara.(BBC/@ba_is)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup