Guru Besar Berotak Kecil: Ketika Keberanian Akademik Tumbang di Hadapan Kekuasaan

Infografis & Penulis

Oleh: Dr.Ir.Muhammad Assagaf, MSi

DI NEGERI yang gemar memuja gelar akademik, kita sering lupa mengajukan pertanyaan paling mendasar; untuk apa ilmu pengetahuan jika kehilangan keberanian moral?

Indonesia hari ini menghadirkan ironi yang kian telanjang deretan guru besar dengan portofolio akademik mengilap, namun memilih bungkam ketika kekuasaan menyimpang dari nilai keadilan dan rasionalitas publik.

Istilah “guru besar berotak kecil” tentu bukan serangan biologis, melainkan metafora intelektual. Ia menunjuk pada penyusutan fungsi kritis kaum akademisi yang seharusnya menjadi benteng terakhir nalar publik.

Otak yang “kecil” adalah keberanian yang menyusut, integritas yang mengerdil, dan independensi yang dikompromikan oleh rasa aman struktural.

Akademisi dan Ketakutan yang Terlembagakan

Dalam tradisi universitas modern, guru besar bukan sekadar pengajar senior. Ia adalah penjaga etika keilmuan, produsen pengetahuan kritis, dan public intellectual yang berkewajiban berbicara ketika kekuasaan melenceng. Namun, dalam konteks Indonesia kontemporer, peran ini semakin jarang dijalankan secara konsisten.

Ketakutan para guru besar bukanlah ketakutan personal semata, melainkan ketakutan yang terlembagakan. Ia lahir dari relasi kuasa yang rumit: ketergantungan pada proyek negara, hibah penelitian yang politis, jabatan struktural di kampus, hingga ambisi simbolik seperti kursi komisaris dan dewan penasihat. Dalam kondisi seperti ini, kritik dianggap risiko, dan diam dipersepsikan sebagai kebijaksanaan.

Kampus sebagai Ruang Aman Kekuasaan

Alih-alih menjadi ruang otonom bagi pertarungan gagasan, banyak kampus justru bertransformasi menjadi zona nyaman kekuasaan. Kritik terhadap kebijakan publik sering direduksi menjadi “tidak etis”, “tidak ilmiah”, atau “tidak sesuai kapasitas akademik”. Padahal, justru di situlah letak pengkhianatan intelektual terjadi ketika rasionalitas dikalahkan oleh kepentingan pragmatis.

Lebih problematis lagi, sebagian guru besar tampil aktif bukan untuk mengoreksi kekuasaan, melainkan untuk membenarkannya dengan jargon akademik. Ilmu pengetahuan direduksi menjadi alat legitimasi, bukan instrumen emansipasi. Di titik ini, gelar profesor kehilangan makna etiknya dan hanya berfungsi sebagai ornamen sosial.

Keberanian sebagai Ukuran Kecerdasan Intelektual

Sejarah menunjukkan bahwa kemajuan bangsa tidak pernah lahir dari akademisi yang jinak. Ia lahir dari intelektual yang bersedia mengambil risiko dikucilkan, disingkirkan, bahkan dikriminalisasi demi menjaga akal sehat publik. Keberanian, dalam konteks ini, adalah ukuran kecerdasan yang sesungguhnya.

Maka, persoalan kita hari ini bukan kekurangan guru besar, melainkan kekurangan guru besar yang berani. Bukan defisit publikasi, melainkan defisit integritas.

Selama kampus lebih sibuk menjaga hubungan baik dengan kekuasaan ketimbang menjaga kebenaran ilmiah, selama itu pula kita akan terus memproduksi guru besar dengan otak yang “kecil” kecil dalam nyali, kecil dalam komitmen, dan kecil dalam tanggung jawab sejarah.

Mengembalikan Marwah Akademisi

Opini ini bukan ajakan untuk membenci akademisi, melainkan seruan untuk mengembalikan marwah keilmuan. Guru besar yang sejati tidak diukur dari seberapa dekat ia dengan kekuasaan, tetapi seberapa jauh ia berani menjaga jarak kritis darinya. Dalam situasi bangsa yang sarat paradoks, keberanian berpikir dan bersuara bukanlah pilihan moral ia adalah kewajiban intelektual.

Jika para guru besar terus memilih diam, maka jangan heran bila publik mulai mempertanyakan: apakah yang membesar hanya gelarnya, sementara otaknya justru mengecil?(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup