BOLA API: Brasil vs Maroko, Bigmatch Pertama Piala Dunia 2026

“Kutukan” yang Belum Terpecahkan Sepanjang 23 Kali Piala Dunia

Minggu pagi 07.00 waktu Ternate, laga antara Brasil vs Maroko jadi bigmatch pembuka yang sesungguhnya dari Piala Dunia 2026 di Amerika, Meksiko dan Kanada. Dengan tambahan partisipan dan format baru, Piala Dunia kali ini akan memainkan 104 pertandingan. Lebih banyak dari sebelumnya dan mayoritas laga akan berlangsung di Amerika termasuk partai final, 19 Juli 2026 nanti.

Tergabung di grup C, Brasil dan Maroko disebut sebagai dua kandidat terkuat di fase grup. Skotlandia dan Haiti rasanya sulit bersaing. Karena itu, laga di New York New Jersey Stadium tetap jadi magnet. Prestasi kedua tim dan  banyaknya pemain bintang jadi pembeda. Dan yang terpenting hasil laga ini akan menentukan jalan selanjutnya dan rival kedua tim di fase knock out.

Bagi Maroko, ini penampilan mereka yang ke 7 di Piala Dunia dengan rekor tiga kali berturut-turut sejak Rusia 2018. Empat tahun lalu di Qatar, Maroko tampil sangat mengejutkan. Mereka jadi tim Afrika pertama yang lolos ke babak semifinal. Spanyol dan Portugal jadi korban mereka di fase gugur. Di edisi kali ini, pelatih Muhammed Quahbi masih membawa mayoritas pemain yang bermain di liga-liga top Eropa. Sebagian besar bintang di Piala Dunia 2022 juga masih dipanggil.

Yassine “Bono” Bounou masih jadi penjaga gawang utama. Bek Manchester United, Noussair Mazraoui akan menggalang kekuatan lini pertahanan bersama Anas Salah (PSV), Issa Diop (Fulham), Nayef Aguerd (Marseille) dan kapten Achraf Hakimi yang sukses besar bersama PSG dalam dua tahun terakhir di Champions Leaque.

Di lini tengah, dominasi “Singa Atlas” akan dipercayakan pada Sofyan Amrabat (Real Betis), Azzedine Qunahi (Girona), Ismael Saibari (PSV) dan Ayyoub Bouaddi (Lille) atau Neil El Aynaoui (AS Roma). Karena penyerang Youssef En Nesyri tidak dipanggil–urusan bikin gol akan jadi tugas Abde Ezzalzouli (Strasbourg), Ayaube Amaimouni (Eintracht Frankfurt) dan bintang mereka selama babak penyisihan zona Afrika, Ayoub El Krabi yang bermain di Olympiakos Yunani.

Jangan lupa potensi bahaya dari bintang muda Real Madrid, Brahim Diaz. Menurut saya, Ia akan jadi salah satu “rissing star” dan merepotkan lini pertahaan Brasil. Palatih Quahbi yang membawa Maroko U-20 jadi juara dunia tahun lalu sepertinya akan tetap memainkan skema 4-3-3 dengan mengandalkan progresive pass serta kecepatan saat serangan balik.

Di kubu Brasil, Carlo Ancelottii tetap menyertakan Neymar meski mega bintang ini dalam kondisi belum bugar sepenuhnya. Penjaga gawang Liverpool, Alisson Baker tetap jadi nomor satu. Duet bek tengah jadi milik kapten PSG – Marquinhos dan Gabriel (Arsenal). Keduanya akan jadi salah satu duet terbaik di Piala Dunia kali ini. Di kiri dan kanan, duet bek sayap milik Flamengo – Alex Sandro di kiri dan Danilo di kanan akan bermain sejak awal.

Untuk merebut kendali permainan, Brasil akan memainkan Casemiro (MU) sebagai defensif midfielder untuk menjaga keseimbangan permainan. Dua gelandang di depan sebagai pengatur ritme dan distributor bola untuk mengawali serangan akan dipercayakan pada Lucas Paqueta (Flamengo) dan Bruno Guimaraes (Newcastle United).

Ancelotti butuh data kebugaran dan hitungan taktikal untuk mengatur barisan penyerang Samba. Maklum lini punya banyak bintang. Neymar sepertinya akan out. Dengan sedikit modifikasi, Vinicius (Real Madrid) akan bermain di kiri depan dan Raphinha (Barcelona) di flank kanan. Siapa yang bermain sebagai penyerang tengah? Saya lebih cenderung pada Matheus Cunha. Ia sangat progresif di MU musim ini. Sering roaming dan tiba-tiba muncul di area sensitif lawan untuk bikin gol.

Dengan posisi setengah “false nine”, sisi serang Brasil akan sangat dinamis. Vini, Cunha dan Raphinha bebas bermanuver. Tak ada playmaker murni seperti Kaka di masa lalu membuat lini tengah Samba mengandalkan kolektivitas. Seberapa lama penguasaan bola di lini ini akan menentukan ritme permainan kedua tim.

Sayangnya Wesley Franca harus pulang lebih awal karena cedera saat Brasil berujicoba dengan Mesir. Ancelotti memanggil gelandang serba bisa yang bersinar bersama Atalanta dan baru menandatangani kontrak dengan MU – Ederson da Silva. Ederson sangat berguna untuk menambal jika terjadi “turbulensi” di lini pertahanan maupun tengah.

Jika sebelas menit pertama ini tak berjalan sesuai game plan, Ancelotti punya banyak pilihan untuk rotasi. Dan saya menunggu kiprah anak muda bernama Endrik (Lyon). Ini pemain berbahaya karena lebih fokus pada gawang lawan dan punya naluri bikin gol sangat tinggi. Endrik berbeda dengan pemain Brasil yang lain yang terbiasa meliuk-liuk dengan dribel indah. Maroko wajib waspada.

Brasil memang punya Vini tetapi bintang Real Madrid ini akan berhadapan head to head dengan Hakimi. Perang di sisi keduanya saat bertemu akan sangat menarik ditunggu.

Keberadaan Vini juga akan memaksa Hakimi untuk tidak naik dan itu berarti agresivitas Maroko hilang setengahnya. Karena itu, perebutan lini tengah akan sangat menentukan hasil akhir. Kepintaran memanfaatkan ruang kosong di antara gelandang dan bek saat kedua tim saling serang akan jadi detil kunci.

Brasil boleh punya lima bintang tapi Maroko bukan tim yang mudah ditaklukkan begitu saja. Saya memprediksi hasil imbang akan jadi pembuka pertandingan di grup C ini. Keduanya juga punya potensi sangat besar untuk lolos ke babak 32 besar.

Laga-laga di Piala Dunia baru dimulai. Masih sangat dini memprediksi siapa yang akan juara. Ada satu “kutukan” yang belum bisa dipecahkan sepanjang 23 kali pagelaran Piala Dunia. Sejak Piala Dunia pertama di Uruguay tahun 1930, hanya 8 negara yang jadi juara. Brasil terbanyak dengan 5 kali juara, Jerman dan Italia 4 kali, Argentina 3 kali, Prancis dan Uruguay 2 kali dan Inggris serta Spanyol masing-masing sekali juara.

Dan semua negara juara Piala Dunia itu dilatih oleh pelatih lokal. Tak ada jasa pelatih asing di tim juara. Apakah Ancelotti akan menghapus kutukan ini? Tunggu sampai partai puncak di MetLife Stadium New York 19 Juli 2026. Dan Maroko bisa saja mengulang prestasi empat tahun lalu atau bahkan menjadi juara dengan pelatih lokal.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup