Narasi Rempah Singapura (Juga) Hadir di Rekreasi dan Edukasi
Foto:
Salah satu atraksi imersif interaktif di Time Capsule berbasis teknologi multimedia tentang perdagangan rempah masa lalu yang menakjubkan.
Menelusuri Jejak Rempah Ternate di Tanah Melayu (3/Selesai)
Narasi rempah di Singapura tak hanya terasa pada dokumentasi sejarah dan dinamika perdagangan. Pemerintah di negara itu juga merawat narasi rempah sebagai salah satu kekuatan ekonomi melalui hiburan dan edukasi. Seperti apa konkritisasi konsep narasi rempah itu? Berikut lanjutan catatan ISMIT ALKATIRI dari Malut Post yang menelusuri jejak rempah Ternate di Tanah Melayu.
DARI aspek dokumentasi sejarah dan tren bisnis rempah—termasuk lanskap kuliner–, Singapura benar-benar menunjukkan komitmen menjaga cerita kejayaan masa lalunya. Denyutnya bahkan melampaui narasi yang dibangun di negeri asal rempah itu sendiri.
Tak cukup dengan bernostalgia tentang jejak Sir Stamford Raffles yang membangun pos perdagangan Inggris pada 1819, atau sekadar menghadirkan cita rasa rempah di pusat kuliner, pemerintah di negara itu juga merawat narasi rempah melalui hiburan dan edukasi.
Selain Fort Canning Park yang juga bercerita soal rempah bagi para pelancong, ada kawasan rekreasi yang menceritakan peran Singapura sebagai pelabuhan perdagangan rempah pada masa kolonial. Dengan jalan kaki sepanjang Singapore River kita menemukan cerita masa lalu tentang gudang-gudang tua yang menyimpan rempah sebelum diekspor. Ada juga River Wonder yang menceritakan kekayaan flora dan rempah. Di lokasi ini tersajikan perpaduan edukasi sejarah, aroma, dan rasa tentang perdagangan rempah Asia.
Di kawasan Universal Studio Singapura ada atmosfir yang dirancang sebagai Zona Ancient Egyp, nuansa Mesir Kuno terkait jalur perdagangan kuno, termasuk rempah. Oasis Spice Cafe sebagai icon di wahana yang cukup memberi efek rekreatif itu.

Sebelum menikmati bianglala raksasa di Kawasan Singapore Flayer, pengunjung disuguhkan dengan pertunjukkan menakjubkan; Time Capsule. Di tempat ini hadir atraksi imersif interaktif tentang sejarah dan perkembangan Singapura selama 700 tahun. Dominan atraksimelalui teknologi multimedia menceritakan tentang awal Singapura dari sebuah muara sungai menjadi pelabuhan tersibuk di dunia. Dan, point penting yang menjadi trigger-nya adalah jalur perdagangan rempah.
Selama kurang lebih 30 menit, Time Capsul membawa pengalaman multisensorik, seolah-olah kita berada di zaman itu. Atraksi yang menggunakan teknologi proyeksi audio mapping 360 derajat itu juga juga menceritakan perdagangan rempah di Singapura masa lalu. Dua sosok hadir dalam cerita–berbasis multimedia– yakni pedagang Cina dan saudagar Arab lengkap dengan busana dan latar sosio di zaman lampau. Bahkan, cerita digital ini berpadu dengan aneka rempah asli dalam karung yang menyatu dengan karya digital tersebut.
Singapore Flayers sendiri merupakan wahana bianglala raksasa setinggi 165 meter yang menampilkan pemandangan 360 derajat Marina Bay. Tidak ada visualisasi rempah saat berada di kapsul. Namun selama 30 menit pengunjung bisa melihat jejak perdagangan rempah masa lalu yang berhasil disulap menjadi kawasan modern yang menakjubkan.
Narasi Rempah di Dunia Pendidikan
Narasi rempah dalam dunia pendidikan di Singapura memang tidak secara spesifik hadir dalam kurikulum khusus. Namun, dalam pelajaran sejarah, narasi rempah selalu ada.
Secara khusus rempah dan sejarah perdagangannya menjadi materi pelajaran di jenjang pendidikan sekolah menengah untuk bidang studi Sejarah dan Humaniora. Materinya tentang sejarah awal Singapura sebagai pelabuhan dan pusat perdagangan di Asia yang terbentuk oleh komoditas rempah sejak abad ke-14.
Tak hanya di kelas, para siswa juga mengikuti pelajaran di lapangan ((learning journeys’) ke Spice Garden. Mereka diajarkan tentang asal usul rempah, nilai tradisional, serta peran budaya dan ekonomi dalam sejarah Singapura.
Di tingkat sekolah dasar, pelajaran rempah masuk dalam bidang studi bahasa Melayu. Melalui literasi budaya, para siswa dilibatkan dalam diskusi kuliner dan rempah tradisional sebagai bagian dari budaya Singapura.
Untuk tingkat taman kanak-kanak, ada pula materi cerita dalam buku Kanak-kanak Rempah Asia sebagai pelajaran lintas budaya yang diajarkan oleh guru di beberapa sekolah di negeri ini.
Singapura seperti tak ingin narasi rempah hanya sekadar memori masa lalu namun menjadi bagian dari dinamika hari ini dan masa yang akan datang.(*)






