Ekonomi Singapura Kini Masih (Tetap) Beraroma Rempah
Menelusuri Jejak Rempah Ternate di Tanah Melayu (2)
Cengkih dan pala di Singapura terkait diplomasi rempah Sultan Baabullah tidak berhenti pada narasi sejarah, situs dan dokumentasi visual. Negeri yang menghargai leluhur itu tetap menempatkan rempah sebagai kekuatan ekonomi hingga saat ini. Berikut lanjutan catatan ISMIT ALKATIRI dari Malut Post yang menelusuri jejak rempah Ternate di Tanah Melayu.
HAMPIR tak ada orang yang bantah; Ternate-Tidore adalah titik nol jalur rempah dunia. Rempah premium seperti cengkih dan pala. Namun, nama Singapura pun tak lepas dari sejarah panjang perdagangan rempah dunia terutama dari negeri Melayu ke belahan dunia.
Rempah bagi Singapura bukan sekadar naskah sejarah. Dua komoditas ini masih menjadi kekuatan ekonomi negara itu. Singapura masih aktif mengambil peran penting dalam rantai pasok regional dan pusat perdagangan rempah.
Negara terkaya di Asia Tenggara itu sampai saat ini masih tetap impor rempah utuh dari berbagai negara untuk konsumsi domestik sekaligus re-ekspor dalam bentuk rempah utuh, rempah campuran, dan olahan.
Sumber statistik Singapura menyebutkan, negara itu ekspor rempah—termasuk cengkih dan pala asal Ternate, Indonesia– dalam bentuk spice mixture dan spice packs ke berbagai negara seperti Amerika Serikat, Kanada, Filipina, dan Malaysia.
Dari berbagai catatan, untuk kebutuhan dalam negeri, rempah itu dipasarkan pada sektor makanan, restoran, pengolahan pangan, dan distribusi regional.

Impor Cengkih dan Pala dari Jawa Timur
Food and Hotel Asia Forum 2025, forum dagang dan pameran rempah mencatat, produk rempah Indonesia seperti bumbu organik, rempah campuran dan produk UMKM mencatat transaksi dan kontrak ekspor yang cukup tinggi.
Dalam forum ini, pengusaha dari Jawa Timur mendapatkan kontrak ekspor rempah dan produk pertanian ke Singapura senilai lebih dari 1 juta Dolar AS. Dalam forum business matching, Singapura juga meminta rempah Indonesia dengan nilai jutaan Dolar AS.
Tidak ada catatan ekspor rempah—khususnya cengkih dan pala dari Ternate/Moloku Kie Raha ke Singapura. Rempah Ternate rupanya terhenti pada rantai pasok regional dengan pintu utama Surabaya, Jawa Timur. Selebihnya, cengkih dan pala Ternate berubah label saat ekspor ke mancanegara.
Seluruh produk rempah yang masuk dan diperdagangkan Singapura mengacu pada regulasi ketat terutama mutu, pelabelan, dan keamanan pangan. Singapura berperan sebagai hub distribusi–negara importir sekaligus eksportir rempah olahan.
Pada periode Mei 2024 hingga April 2025, Singapura mencatat 108 pengiriman rempah ke 12 negara yang ditangani 50 perusahaan eksportir dan 57 perusahaan importir.
Singapura sendiri pada 2025 mengimpor cengkih sebesar 820 ton senilai 5,61 juta Dolar AS. Dari jumlah itu, 56,9 persen berasal dari Indonesia.

Narasi Rempah di Dunia Kuliner
Dinamika ekspor impor rempah Singapura ini turut mewarnai narasi rempah dalam dunia gastronomi kota itu. Sejumlah restoran dan cafe di negeri ini mengangkat rempah sebagai food scene (lanskap kuliner).
Para wisatawan yang ingin menikmati rasa makanan berbasis rempah premium dapat memilih beberapa restoran seperti Spice Junction, Butter & Spice Katong, Butter & Spice Siglap, Space Table, Spicy Moment, Black Papper, Spices Cafe, Mustard Singapore, Flavours of Bengal & Punjab.
Selain restoran besar yang menawarkan menu berbasis rempah premium seperti cengkih dan pala, banyak ditemukan rumah makan yang menyajikan makanan berbasis rempah seperti di kawasan Little India, Hawker Centres, Tiong Bahru, Campbell Lane/Tanjung Pagar, Arab Street, Bugis Street, Haji Lane, Orchard Road, Lucky Plaza, dan Mandarin Gallery.
Aroma rempah juga tercium di berbagai pusat belanja di di kota yang hijau dan asri itu. Ada Anthony The Spice Maker, pusat penjualan rempah olahan yang cukup besar dan beragam. Pusat penjualan rempah premium yang sudah diolah itu terdapat di kawasan People’s Park Center. Demikian pula di Geylang Serai Market, dan spice cafe di kawasan Universal Studio.
Singapura dalam dinamika perdagangan rempah saat ini, termasuk sebaran pusat kuliner rempah, justru menghadirkan aromanya yang lebih kuat dalam merawat memori diplomasi rempah Bumi Kie Raha ketimbang yang terasa di negeri asal rempah itu sendiri.(bersambung)






