Singapura Jadi Bagian Diplomasi Rempah Sultan Baabullah

Pohon cengkih asal Ternate (Moluccas) di Spice Garden Fort Canning Park Singapura.

Menelusuri Jejak Rempah Ternate di Tanah Melayu (1)

Jauh sebelum Sir Stamford Raffles membuka perkebunan cengkih dan pala secara besar-besaran di Singapura pada awal abad ke-19, negeri pulau itu telah menjadi bagian dari diplomasi rempah Sultan Baabullah. Diplomasi tersebut menguat setelah Ternate berhasil mengusir Portugis dari Maluku. Berikut catatan ISMIT ALKATIRI dari Malut Post yang  menelusuri jejak rempah Ternate di Tanah Melayu.

SEJAK berabad-abad lalu, Singapura telah menjadi salah satu simpul jalur rempah Nusantara. Komoditas cengkih dan pala dari Maluku—khususnya Ternate dan Tidore—mengalir melalui jaringan perdagangan yang menghubungkan kepulauan ini dengan dunia Melayu dan pasar internasional. Dalam konteks itu, Singapura ikut tercatat dalam jejak diplomasi rempah yang dipelopori Sultan Baabullah.

Secara historis, Singapura bermula dari sebuah kerajaan yang berdiri pada 1299 dengan pusat di Temasek. Sejumlah arsip menyebutkan kerajaan itu didirikan Sang Nila Utama, keturunan penguasa Sriwijaya. Pada 1398, kekuasaan tersebut ditaklukkan Majapahit, menandai babak baru dalam sejarah kawasan ini.

Setelah kejatuhan Malaka ke tangan Portugis pada 1511, Singapura masuk dalam wilayah pengaruh Kesultanan Johor. Kawasan ini kemudian berkembang sebagai pusat perdagangan, termasuk komoditas rempah seperti cengkih dan pala. Namun, peran itu meredup setelah Portugis membumihanguskan permukiman di muara sungai pada 1613.

Replika perku tradisional di masa kejayaan rempah. Perahu yang terbuat dari biji cengkih ini terdapat di Heritage Gallery di Fort Canning Park, Singapura.

Diplomasi rempah yang dijalankan Sultan Baabullah menjangkau dunia Melayu, termasuk Kesultanan Johor yang membawahi wilayah Singapura ketika itu. Jauh sebelum kolonialisme Eropa menguat di Nusantara, rempah telah menjadi komoditas strategis dalam hubungan dagang antara Ternate dan kerajaan-kerajaan Melayu. Melalui pedagang Arab, Cina, dan India, rempah Ternate menembus jaringan perdagangan regional hingga internasional.

Sejumlah sumber menyebutkan, relasi Ternate dan Johor pada abad ke-16 bertolak dari kepentingan bersama menghadapi Portugis. Rempah bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan instrumen diplomasi untuk membangun aliansi militer dan politik. Kontak antarpenguasa terjalin melalui surat-menyurat, pertukaran hadiah rempah, serta persekutuan melawan dominasi kolonial.

Sebagai kekuatan maritim di poros timur Nusantara, Ternate memiliki posisi tawar yang kuat. Statusnya sebagai produsen utama cengkih—komoditas bernilai tinggi saat itu—memperkokoh pengaruh politik dan ekonominya. Selain itu, Ternate dan kerajaan-kerajaan Melayu terikat oleh solidaritas sebagai sesama kesultanan Islam.

Memasuki awal abad ke-19, lanskap berubah. Inggris berupaya menandingi dominasi VOC di pusat produksi rempah di wilayah timur. Raffles kemudian menjadikan Singapura sebagai “Moluccas Baru” dengan membuka perkebunan cengkih dan pala secara luas. Meski ambisi itu tak sepenuhnya berhasil menggeser posisi Maluku sebagai sentra produksi, jejak rempah Ternate tetap tercatat dalam sejarah Singapura.

Dari sudut pandang historis dan botani, jejak itu antara lain dapat ditelusuri di Fort Canning Park. Di kawasan ini terdapat Spice Garden yang dahulu menjadi bagian dari ambisi Raffles. Penelusuran menunjukkan adanya pohon cengkih dan pala yang dicatat berasal dari Maluku, termasuk Ternate.

Fort Canning Park kini diperluas hingga sekitar 3.200 meter persegi dan menampung kurang lebih 180 jenis tanaman. Koleksinya mencakup aneka rempah dan herbal, seperti lada, gambir, serta berbagai tanaman yang lazim digunakan sebagai bumbu dan obat tradisional.

Kawasan yang kerap dipadati pengunjung itu ditata dalam beberapa zona dengan lanskap edukatif. Salah satu daya tariknya adalah galeri rempah yang menyajikan panel interpretatif, pameran interaktif, replika toko rempah tradisional, hingga kedai kopi lokal. Pengunjung diajak menelusuri kisah perdagangan rempah dan sejarah perkebunan Singapura, termasuk bagaimana tanaman-tanaman itu membentuk fondasi ekonomi dan kuliner awal negeri tersebut.

Cerita tentang kebun eksperimen cengkih dan pala di Singapura pada era kolonial. Kedua jenis tanaman ini berasal dari Moluccas.

Selain narasi rempah yang begitu kuat dalam Fort Canning Park, kawasan ini juga terdapat keramat. Tak jauh dari berbagai jenis tanaman rempah, terdapat tugu simbolis penguasa terakhir Singapura, Sultan Iskandar Shah.

Tempat berbentuk makam dari Sang Sultan yang juga dikenal dengan nama Parameswara ini menjadi situs sejarah yang selalu diziarahi pengunjung.

Pemerintah Singapura sangat memberi perhatian terhadap situs tersebut sebagai warisan utama dalam sejarah awal negeri itu. Fort Canning menjadi simbol transformasi Singapura sebagai simpul perdagangan regional—sekaligus penanda bahwa jejak diplomasi rempah Ternate pernah berkelindan erat dengan Tanah Melayu.

Singapura juga mendokumentasikan sejarah rempah melalui Asian Civilisations Museum. Di tempat ini terdapat artefak perdagangan maritim Asia. Artefak-artefak itu menggambar hubungan antara Kepulauan  Rempah (Maluku) dengan pelabuhan internasional Singapura yang berfungsi sebagai entrepot port(pelabuhan transit bebas).

Selain itu, juga terdapat artefak yang menggambarkan simpul distribusi komoditas rempah ke pasar global serta pusat eksperimen kolonial untuk budidaya pala dan cengkih.(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup