DR (HC) HABIB ABUBAKAR DAN DAKWAH BERBASIS KEMANUSIAAN

Dr. Said Assagaf, MM

Oleh: Dr. Said Assagaf, MM

BAGI masyarakat Kota Ternate khususnya dan Maluku Utara pada umumnya, sosok Abuya, DR. (HC) Habib Abubakar bin Hasan Al-Attas Az-Zabidi sudah tak asing lagi. Mufti Besar Kesultanan Moloku Kieraha ini sangat familier sebagai sosok ulama dan guru yang kental dengan ciri khas kesantrian,  kharismatis, dan humanis.

Tampilannya yang bersahaja dengan sikap tawadhu, ramah, dan rendah hati tanpa pilih kasih, menarik simpati murid-muridnya dan masyarakat pada umumnya. Sikap dan perilaku beliau yang selalu ingin menyatu, merangkul, dan berbaur dengan  komunitas akar rumput ini sejatinya bagian dari strategi dakwah, untuk mendekatkan diri dengan murid-murid, menghindari sikap elitisme daneksklusivisme, sekaligus membangun dakwah berbasis inklusivisme.

Dengan pola dakwah yang terbuka dan merakyat akan lebih efektif menggugah dan diterima umat dari berbagai strata dan kasta.  Puluhan tahun berkiprah dalam dakwah, Abuya Habib Abubakar telah melintasi tiga pilar utama metode dakwah yang meliputi: dakwah bil lisan, dakwah bil hal, dan  dakwah bil qalam.

Melalui dakwah bil lisan, Abuya lakoni tausiah dan ceramah di berbagai pengajian dengan aneka materi tafsir, fikih, tasawuf, dan lain-lain yang intinya mengajak manusia berbuat kebaikan. Juga beliau sebagai pengajar dan pembina pada Pondok Pesantren Qotrunnada Citayam Depok, Pesantren kesohor yang membesarkan beliau.

Dengan dakwah bil hal, Abuya wujudkan melalui perbuatan, tindakan, dan aksi nyata membantu umat yang kesulitan baik melalui bantuan biaya pendidikan, pengobatan kesehatan, maupun bantuan sandang pangan berupa distribusi beras ratusan ton yang tersebar di berbagai daerah.

Bantuan pendidikan dan beras ini telah Dilakukan sejak puluhan tahun lalu dengan ribuan orang penerima tanpa pilih kasih, atau tidak mengenal suku, ras, bahkan agama; itulah yang menyebabkan beliau digelari dengan ulama pluralisme.

Kedermawanan Abuya mencapai puncaknya pada momen bulan Ramadan– di tengah-tengah ritual ibadah puasa dan pengajian– beliau menggelar buka puasa bersama, makan malam, dan bahkan sahur bersama yang dibanjiri ribuan jemaah.

Uniknya, sebagai bagian dari dakwah bil hal, Abuya menunjukkan kepeduliannya di bidang kemanusiaannya dengan melaksanakan fungsi Palang Merah Indonesia (PMI), menggelar donor darah yang bukan saja dipusatkan di Ternate tapi juga tersebar di berbagai daerah, terutama daerah yang menjadi basis murid-muridnya, seperti Makassar, Banjarbaru, Palu, Manado, Gorontalo.

Di setiap pertengahan Ramadhan dan jelang hari raya Idul Fitri, Abuya juga menyalurkan zakat maupun non-zakat dengan nilai mencapai miliaran rupiah kepada ratusan penderita kusta, buruh pelabuhan, dan tenaga kebersihan serta masyarakat lainnya yang berhak menerima; bukan hanya di Kota Ternate tetapi tersebar di kabupaten kota Provinsi Maluku Utara.

Perhatian dan kepedulian beliau sebagai wujud  dari implementasi Dakwah Bil Hal tidak hanya sampai di sini, tapi juga Abuya sangat responsif membantu peristiwa-peristiwa dan korban dampak bencana alam seperti banjir, longsor, kebakaran, dan letusan gunung berapi.

Terakhir, Abuya lakoni dakwah bil qalam. Selain menulis buku, juga yang paling menonjol adalah Abuya telah menghasilkan 600 lebih hikam; tulisan-tulisan pendek yang memiliki arti dan makna yang mendalam dalam semua aspek kehidupan manusia berupa hikmah, nasihat, dan wejangan dalam kebaikan.

Profil, peran, dan karakteristik dakwah Abuya Habib Abubakar yang lebih mengedepankan dakwah bil haldengan aksi dan tindakan nyata dan kental dengan sentuhan kemanusiaannya, menempatkan beliau sebagai ulama langka atau LEX SPECIALIS DEROGAT LEGI GENERALI.

Pola dan orientasi dakwah Abuya yang berbasis kemanusiaan yang sudah lekat dengan pikiran dan jiwa serta menjadi bagian dari perilaku sejak kecil, tidak terlepas dari rekam jejak pendidikan beliau oleh ulama senior dalam dan luar negeri, yang merujuk pada Al-Qur’an dan hadis antara lain: Khairunnas anfa’uhum linnas(Hadis HR Thabrani dan Ahmad), yang artinya: sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.

Strategi dakwah Abuya berbasis kemanusiaan dan keberagaman tanpa pilih kasih, selain merujuk pada hadis tersebut di atas, juga terinspirasi pada pernyataan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib yang tersohor dan menjadi referensi cikal bakal HAM PBB yaitu: ADA DUA PERSAUDARAAN; PERSAUDARAAN KARENA SEAGAMA DAN PERSAUDARAAN KARENA KEMANUSIAAN.

Komitmen Abuya yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan tidak terlepas dari kekaguman beliau terhadap tokoh-tokoh dunia seperti Abraham Lincoln, Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, dan Bunda Theresia sebagai pejuang demokrasi, kemanusiaan, dan anti-rasis. Walaupun berbeda agama, tetapi nurani dan sikap mereka sejalan dengan ajaran Muhammad SAW sebagai rahmat bagi alam semesta.

Dalam konteks itulah, dengan ciri dan misi dakwah beliau tersebut, tidak terbantahkan Abuya semakin mengukuhkan diri sebagai ulama moderat dengan menjauhkan diri dari sikap militansi, intoleransi, rasisme, dan ekstremisme. Sebaliknya, dengan lisan yang teduh dan sejuk beliau merangkul semua elemen sebagai perekat sosial dalam NKRI.

Prinsip dakwah inilah yang telah mengantarkan Abuya menerima anugerah gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Muslim Indonesia Makassar dengan judul disertasi: MANAJEMEN DAKWAH ISLAMIYAH BERBASIS KEMANUSIAAN DAN KEBERAGAMAAN.

Kita harus jujur mengakui bahwa kehadiran Abuya kurang lebih tiga bulan jelang puasa dan hari raya di Kota Ternate dan Maluku Utara bagaikan sebuah anugerah, secercah cahaya yang menyinari kegelapan dan kegersangan umat. Bagaimana tidak, nyaris 24 jam Lorong Majelis Ta’lim Khairunnisa dan kediaman Abuya menjadi saksi hidup;  tamu dan murid dari berbagai pelosok dan luar daerah datang silih berganti.

Jemaah mondar-mandir kadang membawa pulang oleh-oleh beras, bungkusan makanan, zakat, dan sedekah serta mendapat nasihat dan wejangan setiap hari non-stop, sehingga tidak berlebihan kalau dikatakan Abuya telah menjadi ikon spiritual dan kemanusiaan. Bahkan ada pengamat yang menilai apa yang dilakukan beliau bukanlah pencitraan tapi penjiwaan dari lubuk hati yang dalam dan hanya bisa dilakukan oleh tokoh yang memiliki talenta dermawan sejati.

Semoga Abuya tetap sehat dan panjang umur, diberikan kekuatan agar dapat melanjutkan misi dakwah sebagai sumber pencerahan, keberkahan, dan kesejahteraan. Aamiin.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup