Kemeriahan Ramadan di  Singapura;  Minoritas tapi Pemerintah Jamin UU Syariah 

Arab Street, kawasan kuliner halal yang paling iconic di Singapura. (foto: aba)

Laporan: Ismit Alkatiri, Singapura

Muslim di Singapura merupakan kelompok minoritas. Jumlahnya sekitar 15 persen dari total populasi, atau hampir 400 ribu jiwa. Meski demikian, urusan keagamaan Islam mendapat perhatian serius dan perlindungan konstitusional dari pemerintah setempat. Dinamika itu tampak jelas dalam potret suasana Ramadan 1447 Hijriah tahun ini.

 

EMPAT  hari menjelang Ramadan 1447 H, sejumlah kawasan di negeri berjuluk Lion City sekaligus City in a Garden itu mulai dihiasi nuansa Islami. Lampu-lampu hias dan ornamen khas Ramadan terpasang di berbagai sudut kota.
Distrik Kampong Gelam menjadi ikon utama semarak Ramadan. Kawasan bersejarah ini dikenal sebagai pusat budaya Melayu-Muslim di Singapura, memadukan warisan tradisional dengan gaya hidup modern. Di jantung kawasan berdiri Masjid Sultan dengan kubah emas yang menjadi penanda visual sekaligus magnet wisata religi.
Kampong Gelam terintegrasi dengan Arab Street yang menawarkan kuliner halal dan busana muslim, serta Haji Lane yang dikenal dengan mural seni dan deretan kedai kopi. Lokasinya berdekatan dengan Bugis Street dan kawasan Lavender.

Aneka produk seperti busana, karpet, lampu hias, souvenir, dan pernik-pernik Ramadan di kawasan Distrik Kampong Gelam. (foto: aba)

15 Lokasi Bazar Ramadan
Bazar Ramadan di Singapura tidak terpusat di satu lokasi. Tahun ini, sedikitnya terdapat 15 titik penyelenggaraan. Selain Gemilang Kampong Gelam, sejumlah agenda lain digelar, antara lain Geylang Serai Bazar, Bazar Raya Utara di Woodlands Town, Singapore Muslim Festival, Bazaria Marsiling, Pelita Raya, Pasir Ris Pasar Malam, Selebfest Ramadan 2026, Bukit Gombak Pasar Malam, Nusantara Treasures, Zak Salaam India Hari Raya, Absolut Bazar, Ramadan Bazar di Our Tampines Hub, Mega Raya Expo, dan Grand Market.Muhammad Faikhan, warga Singapura yang ditemui Malut Post di kawasan Mandarin Gallery, mengatakan umat Islam tetap merasa tenang menjalankan ibadah meski berstatus minoritas. “Pemerintah sangat memperhatikan soal agama Islam,” ujarnya usai menunaikan umrah.
Hal senada disampaikan Sheby, warga Singapura berdarah Batak yang membuka usaha kuliner di Haji Lane. Menurut dia, kehidupan sosial di Singapura menjunjung tinggi toleransi antaragama dan budaya. “Kami hidup modern, tetapi nilai-nilai agama tetap terjaga dan saling menghormati,” katanya.

Masjid Darul Makmur Singapura mampu menampung 4 ribu jamaah.(foto: dok)

Tingkatkan Kapasitas Tampung Masjid
Dinamika Islam di Singapura tidak hanya terlihat saat Ramadan dan Idulfitri. Tercatat 72 masjid berada di bawah naungan Majlis Ugama Islam Singapura (MUIS), belum termasuk musala. Untuk Ramadan 2026, MUIS meningkatkan kapasitas salat tarawih dengan menyiapkan ruang tambahan, termasuk di area pelataran parkir masjid.
Salah satu masjid terbesar adalah Masjid Darul Makmur di Yishun Avenue 2 yang mampu menampung hingga 4.000 jamaah. Masjid ini dilengkapi fasilitas modern dan ramah disabilitas. Pemerintah juga merencanakan pembangunan masjid baru di kawasan Tengah Town.
Dari hampir 400 ribu Muslim di Singapura, sekitar 80 persen merupakan etnis Melayu. Selebihnya berasal dari etnis Arab, India, dan Tionghoa. Meski minoritas, Islam memperoleh pengaturan khusus dalam sistem hukum negara tersebut.
Konstitusi Singapura menjamin kebebasan beragama serta menetapkan tanggung jawab pemerintah untuk melindungi dan membina kepentingan agama serta budaya komunitas Muslim/Melayu sebagai penduduk asli. Pengelolaan urusan Islam dilaksanakan melalui MUIS.

Nuansa Indonesia masa lalu di Haji Lane Singapura. Waroeng Anak Indo tak sekadar jual menu Indonesia tapi juga cerita tentang Tanah Air. (foto: aba)

UU Muslim dan Pengadilan Syariah
Selain itu, terdapat Undang-Undang Administrasi Hukum Muslim atau Administration of Muslim Law Act (AMLA). Undang-undang yang disahkan pada 1966 dan berlaku sejak 1968 itu mengatur berbagai aspek keagamaan Islam, termasuk pembentukan MUIS, Pengadilan Syariah, serta pencatatan pernikahan Muslim (ROMM). AMLA menjadi dasar legal dan terstruktur bagi pengelolaan hukum keluarga dan keagamaan umat Islam di Singapura.
Keistimewaan regulatif inilah yang membuat umat Islam di Singapura tetap merasa aman dan leluasa menjalankan syariat Islam, meski berada di tengah masyarakat multietnis dan multiagama.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup