Masjid Jami’ Lahir dari Jaringan Perdagangan Cengkih Sejak Abad ke-16; Jejak Diplomasi Rempah Sultan Baabullah di Ambon Manise
Di jantung Kota Ambon, tepatnya di Jalan Sultan Baabullah, Kecamatan Nusaniwe, berdiri sebuah masjid tua yang menyimpan jejak sejarah panjang: Masjid Jami’. Bangunannya sederhana, berarsitektur tradisional, dan berada persis di samping Masjid Raya Al-Fatah yang jauh lebih besar dan megah. Namun, justru dari bangunan kecil inilah denyut awal peradaban Islam di Ambon diyakini bermula.
Laporan: ISMIT ALKATIRI, Ambon
TRANSIT penerbangan hampir enam jam di Bandara Pattimura, Sabtu (14/2/2026), menjadi awal perjalanan singkat saya menyusuri jejak sejarah di Ambon Manise. Ditemani Ahmad Ibrahim, jurnalis senior di kota ini, saya singgah ke kawasan Masjid Jami’.
Pemandangan di lokasi itu menghadirkan kontras yang unik: dua masjid berdiri berdampingan. Masjid Jami’ tampil bersahaja dengan nuansa arsitektur lama, sementara Masjid Raya Al-Fatah menjulang modern dan megah. Keduanya hanya dipisahkan sebuah gang kecil, dengan bangunan Islamic Center berdiri di bagian belakang kompleks tersebut.
Saat azan zuhur berkumandang, jamaah berdatangan dari berbagai penjuru. Sebagian memilih Masjid Jami’, sebagian lainnya menuju Al-Fatah. Menurut Haji Mad–sapaan akrab sahabat saya itu–, pada salat fardu—terutama Jumat dan tarawih Ramadan—kedua masjid itu sama-sama dipadati jamaah. Begitu pula saat Idulfitri dan Iduladha, kawasan ini menjadi lautan manusia.
Namun, daya tarik Masjid Jami’ bukan semata pada keberadaannya yang berdampingan dengan masjid raya. Ia menyimpan narasi sejarah tentang perjumpaan budaya, perdagangan, dan dakwah Islam yang berkelindan sejak abad ke-16—masa ketika Ambon menjadi simpul penting perdagangan rempah dunia.
Konon, masjid ini lahir dari interaksi antara pedagang Arab, Melayu, dan para saudagar Nusantara lainnya dengan masyarakat lokal. Relasi dagang—terutama komoditas cengkih—perlahan menjelma menjadi relasi sosial dan spiritual. Dari jaringan perdagangan itulah Islam menemukan jalannya di Pulau Ambon.
Hingga kini, masyarakat sekitar tidak memiliki catatan tertulis yang pasti tentang siapa pendiri Masjid Jami’. Sejarahnya lebih banyak hidup dalam tradisi lisan. Namun, satu keyakinan terus diwariskan turun-temurun: masjid ini terhubung dengan jejak diplomasi rempah Sultan Baabullah setelah mengusir Portugis dari Ternate pada 1575.
Sebagai penguasa Kesultanan Ternate yang dijuluki “Penguasa 72 Pulau”, Sultan Baabullah tidak hanya melakukan ekspansi militer. Ia juga membangun jaringan aliansi berbasis perdagangan dan dakwah. Melalui para utusan dan jaringan ulama, diplomasi rempah dijalankan untuk memperkuat solidaritas antarkerajaan Islam sekaligus membangun poros maritim anti-kolonial.
Ambon, sebagai salah satu pusat perdagangan cengkih, berada dalam orbit pengaruh tersebut. Meski tak ditemukan dokumen eksplisit yang menyebutkan keterlibatan langsung Sultan Baabullah dalam pendirian Masjid Jami’, jejak Kesultanan Ternate terasa dalam dinamika perdagangan dan penyebaran Islam di wilayah ini.
Ahmad Ibrahim menuturkan, masyarakat setempat meyakini para ulama yang dimakamkan di sekitar masjid adalah tokoh-tokoh awal yang berperan dalam pembangunannya. Mereka disebut dengan berbagai gelar—imam, guru agama, atau tokoh adat—yang hidup pada masa kolonial awal. Masjid bukan hanya ruang ibadah, melainkan pusat pembelajaran dan konsolidasi sosial.
Pandangan ini sejalan dengan tesis Azyumardi Azra dalam Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, yang menegaskan bahwa banyak ulama lokal tak tercatat sebagai tokoh besar dalam sejarah nasional, tetapi memainkan peran penting di tingkat komunitas. Demikian pula M.C. Ricklefs dalam A History of Modern Indonesia since 1300 menyebut penyebaran Islam di Indonesia Timur berlangsung bertahap, bersifat lokal, dan bertumpu pada jaringan kecil para ulama serta pedagang.
Pasca kemenangan atas Portugis, Sultan Baabullah memang aktif memperluas jejaring politik dan ekonomi. Ekspansi yang dilakukan bukan semata penaklukan teritorial, melainkan kolaborasi ekonomi, militer, dan dakwah. Di wilayah yang telah memiliki struktur pemerintahan, Kesultanan Ternate membangun aliansi strategis, termasuk dengan kerajaan-kerajaan Melayu.
Dalam konteks itulah, masjid-masjid yang dibangun pada abad ke-16 hingga ke-17 dapat dipahami bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat konsolidasi kekuatan sosial dan spiritual untuk menghadapi kolonialisme. Masjid menjadi simpul perlawanan kultural—ruang di mana iman, perdagangan, dan geopolitik saling berkelindan.
Masjid Jami’ di Ambon mungkin tak menyimpan prasasti resmi tentang Sultan Baabullah. Namun, di balik dinding-dinding tuanya, tersimpan ingatan kolektif tentang masa ketika rempah bukan sekadar komoditas, melainkan jembatan diplomasi dan simbol kedaulatan. Di situlah sejarah Ambon dan Ternate bertaut dalam satu jejak: diplomasi rempah yang melahirkan peradaban.









