Doa Nisfu Sya’ban Dihadiri 50 Ribu Jamaah, DR (HC) Habib Abubakar Suarakan Tambang untuk Kemanusiaan

Ekspresi keprihatinan Al Habib Abubakar Al-Attas Az-Zabidi saat menyimak pertanyaan wartawan dan menjelaskan soal kondisi ekonomi rakyat.

MalutTrend, TERNATE – Lautan manusia memadati kawasan Kampung Tengah, Kelurahan Gamalama, Kota Ternate, Senin (2/2/2026) malam. Sekitar 50 ribu jamaah dari berbagai penjuru Maluku Utara menghadiri pembacaan Doa Nisfu Sya’ban 1447 Hijriah yang dipusatkan di kediaman DR (HC) Abuya Al Habib Abubakar Al Attas Az-Zabidi.

Sejak sore, jamaah telah memenuhi area majelis ta’lim, Masjid Al Muttaqin, ruas jalan di samping Muara Mall, hingga lorong-lorong di kawasan Kampung Tengah. Lantunan doa dan shalawat menggema, menciptakan suasana religius yang khidmat sekaligus hangat oleh kebersamaan.

Agenda tahunan Majelis Ta’lim Habib Abubakar Al Attas ini turut dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Sultan Tidore, Jogugu Kesultanan Ternate, para habaib, ulama, Sekda Kota Ternate dan sejumlah pejabat daerah. Besarnya animo jamaah juga menarik perhatian media lokal maupun nasional.

Di sela-sela kesibukannya menerima tamu-tamu kehormatan, Abuya Habib Abubakar tetap meluangkan waktu untuk melayani permintaan wawancara para jurnalis. Selain membahas makna spiritual Nisfu Sya’ban, wartawan juga menanyakan pandangannya mengenai kondisi rakyat serta harapan kepada pemerintah.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Abuya yang juga Mufti Besar Keultanan Moloku Kie Raha itu secara spontan menyuarakan kegelisahan yang ia rasakan. Ia menekankan bahwa pemerintah, melalui Presiden Prabowo Subianto, harus memberi perhatian serius terhadap nasib rakyat, terutama di tengah tekanan ekonomi yang masih dirasakan masyarakat, termasuk di Maluku Utara.

“Salah satu persoalan utama rakyat hari ini adalah ekonomi. Kehidupan mereka masih jauh dari sejahtera. Padahal, kekayaan alam kita melimpah. Tambang seharusnya untuk kemanusiaan,” tegas Abuya.

Ia menyoroti kondisi masyarakat di sekitar wilayah pertambangan yang menurutnya belum merasakan dampak kesejahteraan secara nyata. “Mereka yang hidup di lingkar tambang masih berada di bawah standar kesejahteraan—baik dari sisi ekonomi, pendidikan, maupun kesehatan,” ujar ulama kharismatik tersebut.

Abuya juga mengungkapkan pengalaman pribadinya terkait kebijakan pemerintah di sektor pertambangan. Ia menyayangkan penutupan usaha tambang miliknya oleh Bahlil, menteri ESDM. Padahal, menurutnya, selama 45 tahun hasil usaha tersebut digunakan untuk kegiatan sosial dan kemanusiaan.

“Dari usaha itu, ribuan anak tidak mampu bisa bersekolah hingga lahir sekitar 5.000 sarjana saat ini. Kami juga menyantuni penderita kusta, HIV/AIDS, dan kegiatan kemanusiaan lainnya. Tambang itu legal, patuh aturan, dan membayar pajak,” jelas pendiri yayasan pendidikan dan kesejahteraan tersebut.

Karena itu, Abuya secara terbuka meminta perhatian Presiden RI dan para pemangku kepentingan agar pengelolaan sumber daya alam tidak semata berorientasi pada keuntungan korporasi dan pendapatan negara.

“Tambang harus dikelola untuk kemanusiaan, dengan sungguh-sungguh memperhatikan kesejahteraan masyarakat sekitar, sesuai dengan persoalan nyata yang mereka hadapi. Ini bukan hanya tanggung jawab dunia, tetapi juga akhirat,” pungkasnya.(@ba_is)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup