Perbedaan Bukan Sekat Pemisah Tetapi Perekat Kemajemukan
Pandangan Kearifan Ternate dalam Memelihara Keberagaman
Oleh:
Hidayatullah Sjah. S.IP, M.AP
(Sultan Ternate)
RISET dan kajian secara akademis mendeskripsikan demografi di Provinsi Maluku Utara terdiri dari 30 etnis dan sub etnis serta 32 bahasa daerah yang berepisentrum di Kesultanan Moloku Kie Raha.
Eksistensi multi etnis yang ada sejak ratusan tahun lalu itu menunjukkan bahwa Kesultanan Ternate sejak awal keberadaannya telah memelihara dan menghormati keberagaman.
Pengakuan dan penghormatan atas keberadaan multi etnis itu tergambar dalam dalam struktur Lembaga Adat Kesultanan. Perwakilan dari berbagai etnis itu diangkat menjadi pejabat struktural dalam Lembaga Adat Kesultanan Ternate, termasuk etnis dari luar wilayah Moloku Kie Raha.
Pengakuan dan penghormatan terhadap keberagaman ini termuat dalam aksara kearifan Kesultanan Ternate, yakni Non toma titi ino ge’ dika ua ngone bato. Dika ua ngone bato ge’ fo maku gasa ira afa. Ini fo mayang-mayang ma oki mayang. Masike liba kololi dola fuku pasa ua, ahu fo ma lom-lom doka saya rakomoi.
Kalimat ini bermakna bahwa sesungguhnya kita ini berasal dari satu, walaupun kita berbeda dan beragam namun tetap dalam satu ikatan batin; senantiasa memelihara kekeluargaan, persaudaraan dan bersama mengedepankan kebaikan.
Ino foma kati nyinga doka gosora se bulawa, om doro yo mamote, fo magogoru fo madodara. Maknanya adalah dalam pergaulan senantiasa berkasih sayang, hidupkan cinta kasih kepada sesama.
Kearifan Kesultanan Ternate juga mengajarkan bahwa toleransi tidak sebatas narasi kerukunan, narasi kekeluargaan, atau narasi persaudaraan. Dan bukan pula sebatas mayoritas mengakui atau menerima minoritas, dan sebaliknya minoritas harus menghargai dan menghormati mayoritas.
Adat istiadat kami mengajarkan bahwa toleransi itu lebih mengedepankan kebersamaan, kesetaraan, dan keadilan. Dalam kepentingan bersama, aksara kearifan kami mengajarkan Manuru saya kadato, gam i’sose toma balakun; yang bermakna bahwa membangun demi kepentingan bersama harus dimulai dengan musyawarah untuk mencapai mufakat.
Konsep dan makna yang terkandung dalam semboyan nasional; Bhinneka Tunggal Ika sesungguhnya telah bersemayam dalam adat istiadat Kesultanan Ternate ratusan tahun lalu.
Simpul pandangan keberagaman bagi Kesultanan Ternate adalah perbedaan bukan sekat pemisah melainkan menjadi perekat kemajemukan. Para akademisi menyebutkan bahwa faham kearifan ini sudah ada jauh sebelum faham multy culturalisme yang lahir di Eropa.
Wujud pengakuan dan penghormatan atas keberagaman dan kebersamaan ini sebagaimana disaksikan bersama, di mana setiap hari di depan Kedaton Kesultanan Ternate teguh berdiri tiga tiang dan benderanya yang senantiasa berkibar, yakni warna hitam adalah bendera kerajaan (filosofi keberagaman rakyat) dan warna kuning yang merupakan bendera sultan, mengapit dengan teguh Sang Saka Merah Putih.
Makna terdalamnya adalah bahwa Kesultanan Moloku Kie Raha dengan keberagamannya tetap teguh demi Negara Kesatuan Republik Indonesia.(*)










