Usai Main Bola Charity Game, Legenda Arema Meninggal Dunia di Stadion Gajayana

Upaya pertolongan pertama pada Kuncoro usai bermain. (Foto: Istimewa)

MALUT TREND – Pemain bola legendaris Arema Malang, Kuncoro dinyatakan meninggal dunia usai bermain dalam laga Charity Game di Stadion Gajayana, Kota Malang, Minggu (18/1/2026) sore kemarin.

Kuncoro saat itu main pada laga persahabatan, memperingati 100 tahun Stadion Gajayana. Dia sempat turun di babak pertama trofeo yang mempertemukan tiga tim sekaligus. Usai menuntaskan penampilannya di babak pertama, Kuncoro beristirahat dan duduk di bench pemain.

Namun, saat istirahat itu, situasi berubah panik. Sosok yang dikenal jenaka itu mendadak kolaps dan tidak sadarkan diri di bangku cadangan.

Padahal, seperti yang dirilis Malang Post,  saat turun bersama beberapa legenda sepak bola Malang lainnya, seperti Hermawan, Doni Suherman dan Siswantoro, yang juga Asisten Pelatih Arema FC, Kuncoro masih bisa bermain normal.

Namun seusai tampil itulah, legenda sepak bola berusia 52 tahun itu mendadak kolaps. Pemain-pemain lain pun langsung memberikan pertolongan pertama, untuk membantu tim medis mencoba menyelamatkan nyawa pelatih berlisensi A Nasional.

Sayangnya informasi yang beredar menyebut, ketidaktersediaan ambulans yang standby di Stadion Gajayana, membuat Kuncoro harus menunggu ambulans dari luar.

Berbagai upaya, juga sudah dilakukan tim medis saat berada di lapangan. Namun hingga ambulans datang dan Kuncoro bisa dibawa ke Rumah Sakit Saiful Anwar, nyawa asisten pelatih yang bertugas di Arema FC mulai 1 November 2011 itu, tak bisa diselamatkan.

Berpulangnya mantan pemain Persija itu pun menjadi pukulan telak bagi Arema FC, Aremania dan insan sepak bola nasional.

General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi, menyampaikan rasa duka yang mendalam. Baginya, kepergian Kuncoro terasa sangat cepat.

Inal—sapaan akrabnya—mengenang bagaimana Stadion Gajayana adalah saksi bisu perjalanan hidup Kuncoro.

“Kami semua sangat shock dan terpukul. Cak Kun memulai karier profesionalnya di Stadion Gajayana, tempat dia merajut mimpi masa mudanya.”

“Dan hari ini, Allah memanggilnya pulang di stadion yang sama, tepat di momen 100 tahun stadion ini.”

“Beliau ‘pulang’ saat sedang bahagia berkumpul dengan sahabat-sahabat lamanya di lapangan,” ujar Inal dengan nada bergetar.

Dedikasi Kuncoro untuk Arema, tambah Inal, tidak akan pernah tergantikan. Karena loyalitasnya terhadap klub yang berdiri pada 1987 ini, tak bisa diukur dengan perhitungan apapun.

Kepergian Kuncoro bukan hanya kehilangan bagi Arema, tapi bagi sepak bola Indonesia. Sosoknya yang humoris, tegas, dan setia kawan akan selalu dikenang.

Mari kita doakan bersama, semoga Almarhum Kuncoro Husnul Khotimah, dilapangkan kuburnya, dan diterangkan jalannya menuju Surga-Mu, Ya Allah. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.

Selamat jalan, Abah Kun. Namamu abadi di hati Singo Edan.(Ra Indrata/Malang Post)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup